Perempuan yang Terjebak dalam Kompetisi

Perempuan yang Terjebak dalam Kompetisi

freubels-freebies.blogspot.com

Saya kerap mendengar banyak informasi nyinyir – yang tentunya tidak jelas ilmiah atau tidak – terkait perempuan terutama kompetisi yang terjadi di antara mereka. Perempuan digosipkan lebih keras berkompetisi. Berbeda dengan male bonding alias persahabatan antarpria yang cenderung sangat kompak bahkan saling menutupi rahasia maksiat masing-masing.

Ada yang mengatakan perempuan berdandan sedemikian menarik tak hanya untuk menarik lawan jenis, namun untuk mengirim sinyal kompetisi untuk sesamanya. Bahkan, jika ada perempuan cantik nan fashionable lewat di depan mata, mereka ikut-ikutan melirik. Jadi, masalah lirik melirik perempuan itu bukan monopoli para lelaki.

Selain itu, ada juga tulisan-tulisan personal yang berseliweran soal beratnya kompetisi memperebutkan kursi di gerbong kereta khusus wanita. Banyak perempuan akhirnya lebih memilih gerbong biasa, karena kadang lebih mudah dapat tempat duduk, diberi tempat duduk, juga mendapat perlakuan yang lebih ramah dari pria. Tentunya semua cerita itu bersifat kasuistik.

Kompetisi saling menyakiti berikutnya adalah posting-an di media sosial. Perdebatan ibu bekerja dan ibu di rumah tak kalah sengit dengan twitwar JIL versus ITJ, Sunni-Syiah, hingga fans MU lawan Liverpool. Yang terakhir itu agak aneh, prestasi segitu-segitu aja tapi kalau twitwar sengit banget.

Balik lagi tentang ibu bekerja dan di rumah. Perang posting, meme, dan saling sindir terus terjadi antarperempuan. Kadang yang pria ikut-ikutan ngomporin. Kompetisi berikutnya saling mengkritisi tampilan. Pakai jilbab dan non-jilbab, jilbab syar’i, jilboobs, anti pakaian seksi, dan masih banyak lagi.

Itu semua kasuistik yang kesannya negatif. Namun, beberapa kasus yang positif di Indonesia bahkan dunia yang melibatkan kerja keras dan persatuan gerakan perempuan juga banyak. Dulu, waktu saya masih kecil, ada kegiatan ibu-ibu di kampung bernama jimpitan, dasawisma, dan banyak lagi. Kegiatannya dari olahraga, karawitan, usaha bersama tanggung renteng, hingga sharing pola pengasuhan dan pendidikan anak.

Perempuan-perempuan di pesisir juga mampu memberi nilai tambah terhadap hasil melaut suaminya. Mereka mengolah hasil alam dari laut menjadi ikan asin, ikan asap, kerupuk, lalu menjualnya ke pasar. Mereka berupaya keras memberi nilai tambah dan mencari jalan agar laku terjual. Semua dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Perempuan juga menjadi simpul-simpul penting ekonomi skala kecil dengan membuka toko kelontong atau pracangan di gang dan perkampungan. Meski kecil, tapi mampu menopang ekonomi keluarga. Jauh sebelum Alfamart dan Indomaret melakukan ekspansi atas nama efisiensi perdagangan dan akhirnya membunuh toko-toko pracangan ibu-ibu.

Perempuan pula yang dulu beternak ayam di kampung. Memberikan telur terbaik untuk dikonsumsi keluarga. Kalau sedang banyak telur, sebagian dibawa ke pasar untuk dijual. Itulah masa-masa indah, sebelum bisnis dari hulu ke hilir ayam petelur, mulai dari day old chick (DOC), pakan, obat, dan jalur distribusi dikuasai perusahaan besar atas nama investasi dan penyerapan tenaga kerja.

Kini, kontribusi perempuan dalam perekonomian tetap luar biasa, walau kebijakan perekonomian dan keberpihakan negara sering kurang berpihak pada pengarusutamaan gender. Tingkat partisipasi kerja perempuan dan sumbangan terhadap angkatan kerja juga cukup signifikan. Belum termasuk sumbangsih perempuan di sektor informal.

Perempuan-perempuan tangguh pun kini menguasai posisi-posisi puncak di perusahaan besar. Menjadi penentu kebijakan strategis, eksekutor yang handal, dan sukses memikul tanggung jawab yang besar.

Namun, saya yang awam ini, sungguh tak melihat adanya upaya persatuan perempuan untuk bergandengan tangan saling menopang perempuan yang kurang beruntung nasibnya. Atau, mendorong kebijakan yang lebih pro kepada perempuan. Aroma persaingan antarperempuan sedemikian keras tercium bak parfum mahal merek Chloe, Bvlgari, ataupun Gucci-Guilty.

Kembali lagi saya teringat beberapa posting-an yang justru saling merendahkan posisi ibu bekerja dan ibu di rumah, mempermasalahkan tampilan, dan sejenisnya. Perempuan yang sudah menduduki posisi puncak di dunia usaha pun saya belum melihat ada upaya mendorong cuti hamil enam bulan untuk mempersiapkan generasi yang lebih baik.

Di sisi lain, juga tak ada upaya bersama perempuan untuk mendesak agar media massa tak lagi diskriminatif dalam memberitakan perempuan. Simak judul berita jika melibatkan janda. Para janda sering distigma negatif dan media massa melakukannya dengan santai.

Contoh lain adalah peristiwa perempuan membuang bayi hasil hubungan di luar nikah. Prianya kabur tak ada berita, perempuannya dijadikan judul berita seolah iblis terkutuk.

Belum lagi meme ibu-ibu jilbab naik matik sangat seksis. Kecelakaan paling banyak menimpa pria. Yang nyetir ugal-ugalan banyak sekali berjenis kelamin pria, namun yang dijadikan bahan lelucon adalah ibu-ibu berjilbab. Merendahkan jenis kelamin dan jilbab sekaligus. Menyebarkan meme tanpa ada rasa bersalah, bahkan diikuti tawa terbahak-bahak.

Nah, karena tanggal 8 Maret adalah Hari Perempuan Internasional, rasanya perlu ada momentum dan upaya agar perempuan Indonesia menjalin hubungan dan membangun gerakan bersama. Untuk perempuan, untuk generasi mendatang. Bukannya terjebak saling sikut dalam gerbong yang isinya perempuan semua.

Jadi, kapan lelaki dan perempuan bareng-bareng bikin gerakan untuk mendukung cuti hamil enam bulan?