Mesum Berdua, kok Perempuan yang Dihakimi?

Mesum Berdua, kok Perempuan yang Dihakimi?

Ilustrasi (Mural di dinding belakang gedung Komnas Perempuan - dok. Andini Harsono)

Jagat maya kembali dibikin heboh, kali ini karena beredar video hubungan seksual yang diduga menampilkan seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri dengan pacarnya.

Ada dua hal yang nyantol di kepala saya ketika menyaksikan riuh rendahnya warganet berkomentar atas video tersebut. Saya kaget, ternyata di era yang serba digital ini masih ada kasak-kusuk ihwal video porno yang bukan dilakukan oleh publik figur.

Kenapa demikian? Lhoo bukankah video serupa yang aktor dan aktrisnya bukan dari sosok terkenal sudah banyak sekali beredar di media sosial?

Dulu ketika ramainya isu pemblokiran Tumblr karena dianggap menyediakan konten porno, saya, dan mungkin juga banyak orang lainnya merasa aneh. Sebab konten semacam itu tidak hanya terdapat di Tumblr saja, melainkan tersebar di beberapa jejaring media sosial dan bahkan jauh lebih massive.

Itu yang pertama. Yang kedua, kenapa setiap ada kehebohan tersebarnya video seksual begini selalu narasi yang muncul adalah yang berorientasi pada sosok perempuan?

Padahal, kita tahu kedua sosok dalam video sama-sama bertanggung jawab. Tetapi yang terjadi justru timpang.

Silakan anda cermati, dari sekian banyak respon atas video itu, sebagian besar menjadikan sosok perempuan sebagai target. Bahkan, kata kunci untuk mencari video tersebut tidak menggunakan nama si pria, melainkan nama sosok perempuannya.

Itu karena narasi yang berkembang, bahkan bukan hanya di media sosial tetapi juga di laman-laman berita online, menyediakan informasi yang timpang itu. Kalaupun ada ia tertutupi oleh eksploitasi si sosok perempuan.

Sebagai bangsa timur yang moralnya diagungkan, pengetahuan akan seks masih menjadi barang jahanam. Kita menutup-nutupi kodrat sebagai mahkluk yang punya hasrat, kita membungkus seks sesempit mungkin hingga menjadi hal yang hanya boleh dibicarakan di atas ranjang.

Maka tidak heran ketika ada video yang tersebar kita berbondong-bondong menyebarkan, tanpa berpikir lebih lanjut dampaknya. Seperti anak kecil yang kegirangan karena diijinkan main hujan-hujanan.

Patriarki-feodal yang begitu kental menjadikan narasi yang muncul menjadi tidak adil. Masih ingat ketika video Ariel tersebar? Respon masyarakat memang banyak menyebut sosok pria. Bahkan saya masih ingat beberapa media luar negeri waktu itu menyebut video tersebut dengan embel-embel “Indonesia Rockstar” yang notabene ditujukan pada Ariel.

Walau begitu, narasi yang berkembang tentang sosok pria ini justru malah menampilkan kejantanannya. Bahwa banyak lelaki yang menahan cemburu karena menyaksikan si lelaki ‘bisa’ meniduri beberapa perempuan cantik.

Tak seperti respon kepada si perempuan yang diberi berbagai macam stempel negatif, komentar yang terkait si lelaki lebih beraroma ‘keberhasilan’. Seakan-akan ia telah berhasil menaklukan suatu tantangan.

Hal ini juga menjlerentehkan fakta bahwa kerapkali di dalam pertemanan para lelaki, petualangan seksual sering dijadikan sebagai achievement. Dalam artian begini, anda akan dianggap sebagai pria keren jika banyak meniduri perempuan.

Ada semacam pengakuan yang diterima dari lingkungannya. Dan karena “prestasi” itulah seringkali kita menemukan kawan pria yang terang-terangan mengumbar “keberhasilan”nya itu.

Lantas ada yang menyanggah dengan argumentasi “Bukan hanya si perempuan kok yang kerap jadi pusat pembicaraan. Banyak kok perempuan yang juga berkomentar tentang si pria di dalam video itu, entah anu-nya entah gayanya, cuma nggak kelihatan saja”.

Sayangnya yang berkomentar begini tidak sadar apa yang dia bilang justru semakin menajamkan belati patriarki. Bahwa hanya lelaki lah yang bisa berbicara seks secara bebas, sedangkan perempuan harus sembunyi-sembunyi.

Ini mungkin seperti di tulisan Gita Putri Damayana yang mempersoalkan kenapa hantu selalu diasosiasikan sebagai sosok perempuan. Sedangkan sosok pahlawan, sebagian besar adalah laki-laki. Seperti juga kata God dalam bahasa inggris yang mempunyai kata ganti “He“. Mungkin karena memiliki konotasi “kuasa”.

Kembali ke soal video. Sekarang, kedua sosok yang dituduh buka suara. Mereka membantah terlibat di video itu. Dibuktikan oleh tanda-tanda fisik -seperti bekas luka dan bentuk kaki. Bayangkan bagaimana tekanan psikologis yang menghinggapi mereka atas tuduhan asal-asalan selama ini? Kalian mau tanggung jawab?

Saya ingin menegaskan bahwa video semacam ini adalah video pribadi. Sama saja seperti video-video lainnya yang ada di galeri smartphone. Ia menjadi persoalan ketika menjadi santapan publik. Setidaknya, kalau kita sudah bersepakat tentang hal ini maka jelas siapa sebenarnya yang perlu dicaci dan dikejar terkait tersebarnya video tersebut.

Iya, itu adalah kamu, kamu, dan kamu yang ikut menyebarkan dan membuatnya tidak berhenti di kamu saja!