Perempuan-perempuan di sekeliling Kita

Perempuan-perempuan di sekeliling Kita

Sampai sekarang saya tak habis pikir, kenapa di Jakarta bisa terjadi pemerkosaan terhadap seorang perempuan di tempat umum pada sore hari? Kejadiannya di jembatan penyeberangan orang (JPO) Pondok Pinang, Jakarta Selatan, pukul 16.30 WIB!

Pondok Pinang itu termasuk kawasan yang ramai, karena dekat Lebak Bulus dan Pondok Indah. Kenapa pada waktu itu, tepatnya Minggu 22 November, JPO Pondok Pinang sedemikian sepinya, sehingga RJ yang seorang karyawati berusia 23 tahun itu dirampok dan diperkosa oleh ITH?

Kata polisi, ITH itu seorang preman yang sering mangkal di JPO Pondok Pinang. ITH yang berusia 29 tahun sudah beberapa kali melakukan aksi serupa, tapi nggak ada korban yang melapor. Waduh… kok bisa? Biadab banget tuh orang.

ITH sendiri sudah tewas didor saat mau ditangkap polisi. Kasusnya pun dihentikan. Sudah begitu saja. Beberapa hari kemudian orang-orang juga bakal lupa dan sibuk sendiri-sendiri. Apalagi warga Jakarta yang sok super sibuk.

Lalu, bagaimana nasib perempuan yang selalu menjadi korban pemerkosaan? ITH si penjahat kelamin silakan saja mati dan disiksa di kubur pake cambuk, tapi bagaimana masa depannya RJ? Ini jelas nggak adil. Pasti nggak banyak orang yang peduli kan?

Asal tahu saja, jumlah kasus pemerkosaan perempuan di wilayah Polda Metro Jaya meningkat setiap tahun. Tahun 2014 saja, jumlahnya mencapai 63 kasus, naik 10,5% dibanding 2013 yang sebanyak 50 kasus. Itu berarti apa? Setiap minggu rata-rata ada saja 1 kasus pemerkosaan.

Belum mengkhawatirkan ya? Apa harus tunggu keluarga, teman, pacar, atau istri kita diperkosa orang, baru kita bilang, “Ini keji dan biadab?” Semoga saja tidak.

JPO Pondok Pinang yang menjadi lokasi perampokan dan pemerkosaan terhadap karyawati berinisial RJ. (warta kota)
JPO Pondok Pinang yang menjadi lokasi perampokan dan pemerkosaan terhadap karyawati berinisial RJ. (warta kota)

Bagi perempuan, diperkosa itu sungguh menyakitkan. Dirampas begitu saja dan tidak berdaya. Diperkosa menimbulkan trauma yang mendalam, dimana pun kejadiannya, entah di JPO, angkot, sampai di hotel berbintang tujuh sekalipun.

Ini tanggung jawab pak polisi? Sudah pasti. Tapi ini juga harus menjadi tanggung jawab kita sebagai masyarakat dengan memberikan rasa aman dan empati kepada para perempuan. Apa perlu digagas gerakan bela perempuan?

Nah, untuk para wakil rakyat di DPR, jangan terlalu sibuk mikirin diri sendiri dan partai, buatlah undang-undang yang bisa memperberat hukuman bagi pelaku kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak. Apakah itu hukuman penjara seumur hidup, dikebiri, atau sanksi sosial, yang penting bisa menimbulkan efek jera.

Tentunya ada saja orang yang bilang, “Salah perempuannya sendiri, kenapa juga pakai baju dan rok mini?” Ah sudahlah, masih saja mencari-cari pembenaran. Kalau tercipta suasana aman dan efek jera, tidak akan ada pemerkosaan atau setidaknya relatif minim.

Pak Ahok, saya setuju pak, Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta harus memperbaiki semua JPO dan memasang CCTV. Kalau ada orang yang mencurigakan mangkal di JPO, perintahkan saja Satpol PP yang gagah-gagah itu untuk menggusurnya, daripada gusur yang lain?

Tahun depan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 9 miliar untuk perbaikan 61 JPO. Satu JPO bisa menghabiskan dana Rp 100-150 juta. Mudah-mudahan bisa tepat sasaran, karena itu uang warga dari hasil pajak, yang seharusnya dipakai untuk kepentingan umum.

Banyak warga yang bertanya-tanya juga, bagaimana transparansi Pemprov DKI dalam menentukan titik pembangunan JPO? Ada wilayah yang pejalan kakinya sepi, tapi anehnya tetap ada JPO. Giliran kawasan yang ramai, JPO-nya nggak ada.

Sayang sekali, kalau JPO hanya menjadi jembatan siluman. Maksud saya, saking terbengkalainya, terkadang warga ‘dunia lain’ bisa sangat nyaman mangkal di JPO. Suruh saja mereka mangkal di jembatan Ancol yang angker itu. Berani nggak? Gih sono sama ‘Si Manis Jembatan Ancol’!

Foto: scoopwhoop.com