Serba Salah Jadi Perempuan dan Pejalan Kaki, Perempuan Pejalan Kaki Lebih Serba...

Serba Salah Jadi Perempuan dan Pejalan Kaki, Perempuan Pejalan Kaki Lebih Serba Salah

Aksi Alfini Lestari (The Jakarta Post/Dhoni Setiawan)

Ngomongin nasib menjadi perempuan di Indonesia itu susah-susah gampang, tapi lebih banyak susahnya. Masa sih? Suwer gak pake drama, ini benar adanya.

Faktanya, jadi perempuan adalah kondisi yang harus diterima dengan segala lapang dada. Itupun ada yang iseng sama daging di depan dada bernama payudara ini. Catat ya, iseng!

Selain segala keisengan, masih ada segudang label yang tanpa pernah permisi dilekatkan begitu saja pada makhluk Tuhan yang paling seksi ini. Kalau diidentikkan sebagai penguasa dapur itu sih basi. Lha ini, disamakan dengan makanan kalengan yang bisa kedaluwarsa. “Udah gak usah kebanyakan milih, nanti expired lo!”

Ketika akhirnya memilih, pertanyaan akan dilanjutkan, “Jangan kelamaan nunda, nanti ketuaan melahirkannya. Berbahaya loh!” Giliran udah punya satu, pertanyaan berikutnya sudah menanti. “Gak nambah?” Lho, katanya titipan Tuhan, situ ngapain nitip-nitip?

Ya kalaupun mau nitip bolehlah satu-dua orang, tapi ini sebangsa setanah air? Dikira vagina dan rahim ini adalah hak segala bangsa apa? Nasibmu nduk…

Kalau kamu masih belum paham betapa serba salahnya hidup seorang perempuan lajang berumur di atas 25 tahun di Indonesia, kita keliling kota yuk jalan kaki. Mulai dari disuitin orang iseng, ditatap nanar sambil tersenyum penuh nafsu arti, dipanggil ‘sayang’ padahal kenal aja gak, sampai ancaman kekerasan seksual.

***

Btw, ngomong-ngomong soal jalan kaki, kebetulan sejumlah organisasi mendeklarasikan tanggal 22 Januari sebagai Hari Pejalan Kaki Nasional. Lalu, apa hubungannya dengan perempuan? Ada, karena nasib pejalan kaki setali tiga uang dengan nasib perempuan. Serba salah.

Misalnya, seorang perempuan yang berjalan kaki dengan menggunakan busana kasual karena memang cuaca sedang teriknya, digoda oleh abang-abang nongkrong di pinggir jalan. Perempuan itu marah dong, karena gak diterima diperlakukan seperti itu.

Tapi, seperti biasa, tetap saja yang disalahkan perempuan. “Makanya pake bajunya yang bener, mbak!” Lha, dikira jalan-jalan pakai kostum Godzilla atau Ultraman apa? Makanya otak jangan kelamaan ditaruh di selangkangan.

Sama halnya dengan nasib pejalan kaki, terutama di kota besar. Kadang malah disalahkan sebagai salah satu penyebab kemacetan. Seorang wakil gubernur bahkan sempat mengatakan itu, meski akhirnya diralat. Pejabat kok sedikit-sedikit meralat, jabatan bapak kalau diralat mau gak?

Memang aneh, mengapa pejalan kaki kerap dituding sebagai salah satu penyebab kemacetan? Padahal, ia berjalan pada tempat yang semestinya: trotoar.

Menurut UU No 22 Tahun 2009, trotoar adalah hak dan kedaulatan para pejalan kaki. Tapi, misalnya di Jakarta, trotoar mana yang steril dari gerobak pedagang kaki lima? Atau, tempat parkir liar?

Kalau lagi apes, tiba-tiba motor naik ke trotoar, terus ngotot lagi supaya pejalan kaki minggir. “Tet… minggir!” Selalu salah kan pejalan kaki? Ingat gak, sempat ramai seorang aktivis pejalan kaki yang nyaris dikeroyok karena menghalangi pengendara motor yang sengaja lewat trotoar?

Duh, saya rasanya ingin berkata kasar kepada para pengendara itu. Eneg gak sih, gaes… Ini trotoar punya siapa sih, kok situ mau menjajah? Sama dengan nasib perempuan. Ini tubuh punya siapa sih, kok ente mau intervensi?

Asal tahu ya, sudah ada pejalan kaki yang tewas tersenggol motor. Ini sebetulnya bukan sekarang saja, sudah sering terjadi. Data WHO menyebutkan, sekitar 22% korban kecelakaan lalu lintas adalah pejalan kaki. Ah, memang dasar penjajah lo! Udah boleh ngomong kasar belum sih?

Jadi, kalau ada penelitian yang menyebutkan bahwa orang Indonesia itu paling malas jalan kaki di dunia, mending peneliti-penelitinya itu tinggal sementara dulu di Jakarta deh. Terutama peneliti perempuan, coba saja rasakan sensasi jalan kaki di trotoar. Malesin banget pastinya.

Lagipula, di Indonesia, masih melekat di pikiran banyak orang bahwa perempuan gak boleh pakai baju ‘terbuka’ di jalan, gak boleh pulang larut malam, gak boleh melawan. Giliran melawan dibilang feminis galak atau apa itu, feminazi? Lho, yang menjajah siapa, yang fasis siapa?

***

Lantas, apa arti dari Hari Pejalan Kaki? Apa esensi dari Hari Kebangkitan Perempuan? Mengapa perampasan terhadap hak pejalan kaki di trotoar masih terjadi? Mengapa penjajahan terhadap hak-hak perempuan dan kekerasan seksual masih berlangsung, bahkan semakin masif?

Ketika seorang perempuan – meski berkostum tertutup – sedang melintas di Jalan Kuningan Datuk Margonda, Depok, siang hari, diremas payudaranya oleh pengendara motor dengan alasan iseng, apa yang terbesit di benak anda?

Bagi perempuan, berjalan kaki di kota besar seakan menghadapi risiko ganda. Pertama, saat ia berjalan di trotoar, bisa saja diserobot pengendara motor. Kedua, ia juga bisa mengalami pelecehan seksual.

Terus, harus gimana dong?

Pada malam penghargaan Golden Globe Awards ke-75, belum lama ini, aktris dan presenter tersohor Oprah Winfrey melontarkan pernyataan yang membangkitkan perlawanan perempuan terhadap kekerasan seksual.

“Sudah terlalu lama keberanian perempuan tidak didengarkan dan diabaikan keberaniannya untuk berbicara jujur demi mengungkap tabiat para pria (pelaku pelecehan). Namun, waktunya sudah habis.”

Time’s up!

3 KOMENTAR

  1. Aslik, sedih tapi nyata. Terlalu banyak faktor yang bikin saya seorang perempuan jadi berpikir dua kali buat jalan kaki sendirian bahkan di tempat ramai sekalipun. Buat jadi perempuan mandiri yang tinggal di Jakarta itu betul – betul butuh usaha super ekstra, bukan cuma harus usaha mencari nafkah demi masa depan dan usaha jaga kesehatan supaya tidak sakit, tetapi juga harus usaha ekstra buat tetap aman bahkan ketika di tempat umum dan jalan raya. Be tough, Ladies!

  2. Asik ey tulisannya. Iyaa memang sih. Jangankan prempuan. Laki laki juga kalo lagi jalan di trotoar ada yang nyuruh minggir sama pengendara motor (emak emak) “woy minggir ngalangin jalan aja loh” ini pengalaman pribadi saya waktu jalan. Trus di kota saya (serang-banten) trotoar itu cuma ada di alun-alunnya saja dan dibeberapa jalan yang besar. Hal ini pun membuktikan bahwa pejalan kaki itu tidak diistimewakan

TINGGALKAN PESAN