Perempuan Misoginis dengan Segala Omelan dan Kreteknya

Perempuan Misoginis dengan Segala Omelan dan Kreteknya

Ilustrasi (liputan6.com)

Suatu siang yang luar biasa panas, datang seorang perempuan dengan raut muka penuh keletihan. Ia ingin berbagi cerita sekaligus membuktikan bahwa tidak hanya laki-laki yang bisa misoginis. Ini menarik, karena tidak semua perempuan punya pemikiran sedemikian aneh. Ia hidup dengan penuh kegamangan dan satire kehidupan.

***

Ini berkisah tentang surga di mana banyak air dan sungai yang mengalir jernih. Perutnya dipenuhi sari pati alam yang bisa diperas semena-mena. Makhluk jenis apapun diperbolehkan hidup di sini. Sebelumnya, banyak tokoh berebut teori demi menghayalkan bagaimana surga ini terbentuk. Cuma menghayal, selebihnya mereka berebut memenangkan kontestasi.

Sebenarnya teori-teori ini tumbuh sejak zaman filsafat alam. Zaman dimana makhluk-makhluk berotak mulai menyadari kehadiran alam dan dirinya. Mereka bertanya-tanya tentang dunia di sekelilingnya yang penuh misteri, kemudian melahirkan nama: bumi.

Makhluk ini dinamai manusia, spesies paling unggul untuk menjadi penguasa bumi dengan segala zat yang serba manfaat. Dan, aku adalah seorang manusia yang dilahirkan dan hidup di atas muka bumi. Sampai di kemudian hari, aku menyadari bahwa aku terlahir sebagai seorang perempuan.

Aku tidak pernah mempertanyakan kepada Tuhan, mengapa Dia membiarkanku terlahir sebagai perempuan? Pun tidak menyesali mengapa dan bagaimana ini semua bisa terjadi. Sedari kecil, aku hidup dalam ulang-ulangan budaya dimana perempuan sungguh bernasib ironis. Bagaimana tidak ironis, hanya karena aku perempuan, aku berada di urutan nomor dua.

Percayalah, ini bukan soal rangking dua ujian semester, tapi soal rangking dalam kehidupan. Perempuan masih saja di urutan kedua setelah laki-laki. Iya, bayangkan saja, kamu hidup dalam dunia kedua atau aku lebih suka menyebutnya… lantai terbawah.

Saat SD, aku menjadi anak yang penurut. Mengamini apa saja yang diucapkan guru dalam semua hal, termasuk soal perempuan. Aku menjadi sadar bahwa aku memang berada dalam budaya yang memaksa untuk patuh dan tunduk.

Dulu, semua tuntutan menjadi perempuan, aku lakukan tanpa protes, meskipun banyak hal yang janggal termasuk peraturan. Semuanya baik-baik saja dan berjalan sesuai aturan para algojo Tuhan di bumi.

Kemudian, aku melalui masa SMP juga dengan biasa saja. Mengikuti semua peraturan baik di sekolah maupun di rumah. Aku menahan dan menundukkan segala keinginan. Masih terlalu ingusan untuk mempertanyakan hal-hal aneh di dalam diriku.

Namun, satu kali waktu, kutolak juga keinginan ayah yang memaksaku masuk pesantren. Entahlah, teman-temanku sering bercerita tentang ta’lim muta’alim, dimana mereka harus tunduk pada perintah kyai dan tirakat. Mereka bilang itu adalah usaha meraih mimpi dengan jalan yang benar.

Oh ya, aku lupa bercerita bahwa aku dilahirkan dan menjadi Islam secara kultural. Tentu saja karena keluargaku Muslim. Dan, itu katanya sudah turun-temurun sejak mbah buyutnya buyut. Sebenarnya aku tidak terlalu percaya, apa benar mereka semua Muslim? Belum ada bukti otentik yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Tapi, aku diharuskan menjalankan aktivitas sebagai seorang muslimah dalam beribadah maupun bertingkah laku. Semua ibadah bahkan diajarkan sebelum beranjak ke taman kanak-kanak. Di sana, dalam surau-surau kecil pinggiran desa, aku sudah diajari mengaji. Saat itu, membahagiakan orang tua seolah menjadi kesenangan masa kanak-kanak.

Terlalu sering bercumbu dengan ajaran agama akhirnya mendorongku masuk ke dalam institusi agama pula. Setelah SD umum, aku selalu masuk sekolah Islam. Di sana, tak jarang aku menemukan rentetan jalan patriarki. Ayolah, kamu pasti tahu sistem yang mengamini laki-laki menjadi superior terhadap perempuan itu.

Setelah lulus SMP Islam, aku masuk MAN. Di sanalah, aku justru menemukan sisi dunia yang selama ini asing. Aku belajar hidup sendiri tanpa membebani orang lain. Aku bebas dengan siapapun untuk pergi kemana saja. Di situ, aku memperoleh pelajaran bahwa aku mampu mandiri. Semuanya sempurna sesuai keinginan batin.

Aku bahkan pernah berpetualang beberapa hari hanya demi memenuhi hobi mengitari alam. Aku suka alam, sebab mereka jujur. Tak ada yang namanya lidah bercabang. Aku pun tumbuh sebagai manusia baru yang menarik. Tidak harus terikat aturan yang menyulitkan atau bahkan menyudutkan perempuan. Jelas, aku sangat bahagia bisa mendobrak tabu.

***

Suatu pagi, aku sedang mood untuk merokok. Iya, aku perempuan dan aku perokok. Aku pernah bermimpi hidup di alam ide, dimana manusia laki-laki dan perempuan hidup setara. Tidak ada aturan ini-itu yang menjerat perempuan atas nama ‘moralitas’. Kemudian aku sadar, karena terbentur tembok besar bernama… stereotipe.

Seorang yang mengaku pengadil kemudian menjatuhkan vonis kepadaku hanya gara-gara melihatku merokok. Ia mencecar dengan omelan layaknya bendahara kelas saat aku tak mau bayar iuran. Aku dihujat layaknya makhluk terkutuk. Diseretnya aku menuju rumah.

Di sana, kuserahkan segala apa yang dia minta. Identitasku dan lainnya. Dia seolah telah sah untuk memvonisku sebagai perempuan nakal, amoral, dan bahkan tuduhan asusila. Hey… bayangkan, hanya karena aku perempuan dan merokok, aku telah mendapat label berbuat asusila.

Aku merasa tidak mengganggu siapapun, lalu di mana letak kenakalan itu? Aku hanya menikmati rokok. Di sana sepi, bahkan cicak lari sekalipun tidak kuganggu. Tapi, lagi-lagi, aku harus tunduk pada apa yang namanya stereotipe. Aku perempuan dan tidak boleh merokok, karena tidak pantas atas nama ‘moralitas’. Ah… Mereka pandai sekali berfantasi, dan itu membuatku geli.

Aku jadi penasaran, di mana ia dulunya belajar hingga mampu menafsir hukum fiqh bahwa perempuan tidak boleh merokok? Apa mereka lupa kalau eyang putrinya dulu juga menghisap rokok atau kretek? Mungkin bagi mereka, ini budaya tabu yang perlu ditinggalkan atas nama ‘moralitas’.

Kadang aku ingin bertanya, bagaimana mereka melihat bentuk asusila sendiri? Tapi aku memilih diam. Lagi-lagi, karena aku perempuan memang harusnya diam dan mengakui kesalahan. Karena rokok ini, aku ditafsiri sebagai sosok perempuan nakal pelaku asusila. Aku dimaki dengan nada meninggi seolah terdakwa pembunuhan yang harus dihukum pancung.

Muka datar dan senyum datar, begitulah yang kupersembahkan kepadanya. Ia pun menjadi semakin sebal kepadaku. “Kamu Islam kan mbak? Kenapa merokok ?!” katanya. Bagiku, ini pertanyaan lucu dan konyol. Bagaimana mereka memandang dirinya sendiri yang suka merokok?

***

Alam ideku sudah jauh melayang kemana-mana. Satu hal yang membuatku marah dan dengki karena aku lahir sebagai perempuan. Aku bercerita pada alam, dimana mereka tidak membedakan diriku ini sebagai apa. Mereka lebih jujur dan tidak menyakiti.

Aku iri, kenapa laki-laki mendapatkan tempat layak, sementara perempuan tidak? Aku iri, mengapa aku lahir sebagai perempuan? Aku iri, tidak bisa berdiskusi tentang kajian keilmuan dengan santri laki-laki, sebab aku ini perempuan dan harus ada jarak.

Tidak, ini tidak hanya soal kretek atau rokok. Ini masalah kehidupan. Aku gelisah, di mana aku ini hidup? Stereotipe telah melahirkan para pengadil sekaligus algojo misoginis. Lagi-lagi, aku bertanya, apa salah menjadi perempuan? Aku tidak ingin dilahirkan sebagai perempuan, namun aku juga tidak menolak.

Hal ini kemudian berdampak pada pandanganku terhadap sesama perempuan. Misoginisku muncul, karena mereka masih menjadi perempuan-perempuan yang lemah. Mereka masih saja bergantung pada laki-laki. Mereka bahkan tidak menolak untuk dihinakan. Tidak ada kesadaran dari perempuan itu sendiri. Apakah budaya sudah terlalu masif, sehingga mereka tetaplah manusia lemah?

Selama mereka memilih lemah, aku akan tetap menjadi perempuan misoginis. Sejatinya, aku hanya ingin setara. Aku hanya ingin hidup sebagai perempuan yang dimanusiakan. Aku sudah berusaha memanusiakan siapapun, lantas kenapa aku tak pantas untuk dimanusiakan?

***

Aku merenung, kehidupan memang begitu menyebalkan memandang sosok perempuan. Bahkan misoginis pun muncul dari perempuan sendiri. Sebab, ia benci perempuan yang memilih untuk lemah. Jika nanti pada akhirnya setara, ia akan menghapus pikiran misoginisnya. Lucu ya, perempuan juga punya hasrat misoginis…