Bukan Dikoyak-koyak Sepi, tapi Dikoyak-koyak Tagihan

Bukan Dikoyak-koyak Sepi, tapi Dikoyak-koyak Tagihan

Image Dynamics

Ini tentang pementasan teater “Perempuan Perempuan Chairil”, sebuah kisah yang mengungkap asmara sang pujangga Chairil Anwar.

Banyak nama beken pada pementasan kali ini. Happy Salma sebagai produser dan Agus Noor sebagai sutradara. Agus Noor juga merangkap sebagai penulis naskah bersama Hasan Aspahani dan Ahda Imran.

Pemainnya? Sebut saja Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Tara Basro, dan Sita Nursanti.

Pementasan selama dua hari (11-12 November 2017) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta ini dibuka dengan monolog seorang laki-laki yang diterangi cahaya seadanya. Laki-laki itu tampak memegang sebatang rokok dan siap mengeksekusinya dengan korek api.

Korek  menyala, apinya membuat jelas siapa laki-laki yang sendiri di atas panggung. Ia tampak bermonolog sembari beberapa kali menghisap rokok dan menghempaskan asapnya seperti mengeluarkan kekesalan. Dia adalah Chairil Anwar (Reza Rahadian).

Babak awal seperti sebuah penegasan tentang foto Chairil Anwar yang ikonik itu. Memandang tajam, sembari beberapa ruas jari tangannya menjepit sebatang rokok.

Foto ini biasanya terpasang di dinding kamar mahasiswa semester awal yang sedang gandrung puisi, dengan imbuhan kata-kata ‘Aku ini binatang jalang’.

Rentetan adegan pembuka, Chairil yang konon kurus tampak menjadi lebih atletis saat diperankan Reza Rahadian, dan langsung seperti mencecar sendiri bebuyutannya, HB Jassin.

Saat rokok yang dihisapnya belum habis benar, racauannya berlanjut kepada kekagumannya pada sosok perempuan, sekaligus menceritakan tentang Soekarno yang mengorganisir perempuan-perempuan malam dalam ikhtiar revolusinya.

Seperti yakin, Chairil bergumam;

“Sehitam apapun sejarah, kita tidak bisa menggelapkannya.”

Marsha Timothy berperan sebagai Ida Nasution (Image Dynamics)

Tidak lama, perempuan malam yang diperankan oleh Sri Qadariatin muncul dengan dandanan memakai kebaya ketat dan rok batik selutut menggoda Chairil sambil meminta rokok, merajuk;

“Bung, ayo bung…”

Kemudian lampu padam, set dan beberapa properti panggung tampak diganti dalam gelap.

Pementasan “Perempuan Perempuan Chairil” sendiri diadaptasi dari buku berjudul “Chairil” karya Hasan Aspahani. Pertunjukan malam itu dibagi menjadi empat babak, yang masing-masing menceritakan tentang Chairil dengan empat perempuan yang berbeda.

Babak pementasan berlanjut, masih menghadirkan Chairil dan Ida Nasution (Marsha Timothy). Menceritakan kisah perempuan pertama dari empat perempuan yang akan terceritakan selanjutnya.

Ida Nasution adalah mahasiswi, penulis, dan sekaligus pemikir yang kritis, lawan Chairil dalam berdebat.

Chairil tampak kewalahan dengan Ida, bahasan tentang sastra diamininya sekaligus tak jarang pernyataan baliknya menghujam Chairil. Di tengah-tengahnya, Chairil tetap seperti mencari celah untuk merayu.

Wajah dan sapaan Ida yang dingin, sepertinya yang membuat Chairil semakin bernafsu untuk mengalahkannya, yang kemudian seperti menjebak Chairil sendiri dalam keindividuannya yang begitu terasa dalam puisi-puisinya.

Chairil tampak tidak suka dikritik. Setidaknya begitu yang terbaca, sampai saat Ida seperti sudah tahu apa maksud sebenarnya dari Chairil, saat kemudian dia berucap;

“Chairil, kau buru perempuan, tapi tak pernah kau menangkap hatinya…”

Selebihnya, Ida begitu sukses mempermalukan Chairil yang memberikannya buku, tetapi kemudian tahu bahwa buku tersebut adalah buku curian. Chairil hanya menjawab;

“Aku tidak mencuri buku itu, aku hanya meminjamnya dan lupa bilang kepada pemiliknya.

Sepertinya, Ida Nasution terlalu tangguh untuk Chairil.

Perempuan selanjutnya adalah Sri Ajati (Chelsea Islan) yang juga mahasiswi. Sri adalah sosok yang diperebutkan di tengah pemuda-pemuda revolusioner nan hebat pada zamannya. Aktif dengan dunia teater, menjadi model lukisannya Basuki Abdullah, sekaligus gadis berdarah biru.

Suasana panggung saat adegan Chairil bersama Sri ini tampak lebih dramatis. Background senja dan berdansa dengan Sri menjadi pembuka dengan iringan lagu “Hidup Hanya Sekali”-nya White Shoes & The Couples Company.

Pujian dan rayuan yang terlontar kepada Sri tampak lebih deras dibandingkan Ida, mengibaratkan Sri seperti Ken Dedes sekaligus penawaran diri Chairil menjadi Ken Aroknya, sembari tangannya bermain-main di ujung rok milik Sri.

Dan, amunisi Chairil kembali keluar saat mengelus betis Sri sambil berucap;

“Apakah betismu juga bersinar seperti milik Ken Dedes?”

Chelsea Islan berperan sebagai Sri Ajati (Image Dynamics)

Chairil menatap tajam seperti tak ingin melepaskan matanya dari wajah Sri. Namun, senyuman Sri lebih banyak mendominasi, sampai akhirnya ia berbicara kepada Chairil;

“Aku akan dijodohkan.

Suasana hening menjadi jeda sejenak, sebelum panggung kembali menjadi gelap dan akan menghadirkan perempuan ketiga dalam pementasan tersebut.

Gadis bergaun merah tampak bergegas mengemasi baju dalam kopernya. Sesekali Chairil merajuk supaya perempuan tersebut jangan pergi. Sumirat (Tara Basro), nama gadis tersebut. Mirat, panggilannya.

Mirat, tampak kesal dengan Chairil yang menurutnya hanya berjanji saja ketika ingin diajak bertemu dengan orang tuanya. Tampak kelihaian Chairil yang membuat Mirat mengurungkan pergi saat Chairil membacakan puisi.

Kemudian, terjadi percakapan sepasang kekasih dengan nuansa emosional yang naik turun. Ada puja puji, tak jarang pula caci maki.

“Nasib adalah kesunyian masing-masing.” Salah satu mantra Chairil tampak terucapkan pada babak ini, yang juga disambung dengan mantra lainnya, “Bahkan dengan cermin pun aku enggan berbagi.”

Kandas, menjadi kisah akhir asmara antara Mirat dan Chairil yang dengan suara tertahan menahan tangis, dan disambut dengan serapah “Hidup hanya menunda kekalahan” sebagai penutup.

Perempuan terakhir sebagai pamungkas adalah Hapsah (Sita Nursanti), perempuan yang akhirnya menjadi istri Chairil dan memberikannya anak. Pada babak ini, Chairil tampak sudah sakit-sakitan dan realitas kehidupan rumah tangga tampak menampar Chairil.

Babak ini yang paling banyak menyedot perhatian, tragis dan kelucuan bercampur. Chairil di sini tampak tidak berbeda dengan orang kebanyakan saat tagihan-tagihan rutin rumah tangga harus dia hadapi.

Ditambah akting Sita Nursanti yang pas dalam memerankan perempuan Sunda, khas dengan celetukan-celetukannya. Ini seperti menyadarkan Chairil bahwa hidup tak hanya persoalan puisi, tapi juga tentang wadah nasi yang harus tetap terisi.

Saya tersenyum menyaksikan adegan-adegan pada babak ini. Teringat kata-kata “Mampus kau dikoyak-koyak sepi” dalam puisi Chairil berjudul “Sia-Sia”, saya pun bergumam dalam hati;

Mampus kau dikoyak-koyak tagihan…”

Chairil pergi dari rumah dan menemui Affandi menjadi babak penutup. Perbincangan mereka jauh dari suasana heroik nan revolusioner ketika Chairil membahas apa yang baru dialaminya dengan istri.

Dan, di situ pula, kalimat yang sempat menjadi mesiu perlawanan diucapkan Chairil kepada Affandi untuk salah satu poster propagandanya. Kalimat yang diingat Chairil pada babak awal pementasan ketika dirinya digoda perempuan malam sambil meminta rokok;

“Bung, ayo bung…”