Perempuan Ateis Itu Seksi

Perempuan Ateis Itu Seksi

Pada suatu hari, saya mendengarkan lagu lama Slank. Judulnya ‘Suit Suit He He’. Pernah dengar? “Kacamata hitam dan rok mini, lagaknya bagaikan primadona… Ini baru namanya sensasi. Goyang pinggulnya kemana-mana… Semua orang meliriknya, semua orang gelengkan kepala…”

Sepertinya band legendaris itu sedang bercerita tentang gadis seksi lewat lagu. Sebagai laki-laki normal yang nggak setengah-setengah, tentunya saya suka sekali gadis seksi.

Saya punya kenalan seorang perempuan. Bodinya yahud. Kalau orang melihatnya, dijamin geleng-geleng. Tapi yang bikin geleng-geleng sampai gak balik lagi tuh kepala, adalah pandangan filosofisnya yang tidak percaya Tuhan. Ya, ateis!

Sebagai filsuf gadungan, saya selalu tertarik untuk menggali perempuan itu lebih dalam lagi. Maksud saya, menggali pola pikir dan sikap hidup yang telah ia pilih. Jujur saja saya salut. Pemikirannya jauh lebih seksi.

Bagaimana tidak seksi, pola pikirnya sangat kritis dan berani. Cerdas dalam berfilosofi. Sosok perempuan langka, karena sekarang ini cewek-cewek banyak yang hahahihi nggak jelas. Paling banter foto selfie dengan bibir monyong. Seksi salah kaprah. Gagal paham.

Perempuan ateis itu sedikit banyak bilang begini. Ateis adalah sikap yang sangat personal dan privasi bagi orang (yang benar-benar) ingin keluar dari agama dan menghilangkan konsep Tuhan dalam dirinya.

Orang ateis telah memutuskan untuk menjadi ‘kosong’. Tidak terikat dan ‘free’. Kemudian secara tidak langsung, sikap ‘free’ membuat orang benar-benar leluasa untuk terus mencari tahu tentang arti kehidupan yang hakiki.

Saya yakin, orang-orang yang mencap diri mereka (benar-benar) ateis adalah orang yang sadar untuk melakukan penggalian lebih dalam lagi.

Mereka memilih kembali ke titik nol. Kelak, tidak menutup kemungkinan mereka akan menjatuhkan pilihan. Tentunya dengan tingkat keimanan yang tinggi.

 

Saya juga mencoba untuk meriset lebih dalam lagi soal ateis sebagai pembanding. Beberapa orang yang juga mengaku ateis memiliki beragam alasan. Ada yang muak karena agama kerap dijadikan penyulut perang dan konflik, ada juga yang merasa kecewa atas perlakuan Tuhan.

Tapi ada alasan yang norak bagi saya, ketika seorang menjadi ateis karena menganggap kehidupan adalah perjalanan hura-hura dan mencari kesenangan.

Terlepas dari itu semua, yang menjadi pertanyaan penting adalah bagaimana dengan orang Indonesia yang statusnya beragama, tetapi tidak ber-Tuhan? Apakah agama hanya syarat atau status ‘ilusi’ agar kolom agama di KTP tidak kosong?

Saya sering mengamati perilaku masyarakat (yang katanya) beragama. Misalnya, saat Idul Fitri. Sebagian besar orang yang beragama Islam selalu sibuk mengurusi baju baru, sepatu baru, kue-kue, dan segala macam pernak-pernik.

Jika demikian, dimana hakikat ‘Hari Kemenangan’? Parahnya, di antara orang-orang yang bersuka cita merayakan Idul Fitri, terdapat orang (yang katanya) beragama tetapi tidak menjalankan ibadah apa-apa selama Ramadan.

Mereka pun pantang disebut kafir, meski perbuatannya tidak mencerminkan umat beragama yang ber-Tuhan. Orang-orang seperti ini mirip dengan orang ateis yang menganggap kehidupan adalah perjalanan hura-hura dan kesenangan.

Dalam sudut pandang saya, bisa jadi mereka merasa bahwa agama itu adalah sesuatu yang telah mereka terima sejak lahir. Agama hanya menjadi predikat, tanpa ada penggalian lebih dalam lagi.

Di sisi lain, orang yang mengaku ateis terus menggali lebih dalam lagi arti kehidupan. Cak Nun pernah berkhusnudzon bahwa ateis adalah proses la ilaha dari kalimat la ilaha illallah. Sebuah proses pencarian tentang Tuhan.

Foto: theguardian.com

  • Destia Putri

    Kalau di negara ini, agama sudah jadi tameng.. koruptor yang nakal, bisa seketika bersih namanya kalau dia rajin ibadah atau mencitrakan diri bahwa dia adalah orang alim..
    lagian koruptor yang beragama pas waktu mau nilep duit rakyat toh juga nggak bawa-bawa Tuhan.. kalau ada Tuhan di hatinya, pasti deh dia nggak mau nyuri..

  • la illaha dari kalimat la illaha illallah –koreksi–>> la ilaha dari kalimat la ilaha illallah

    Untuk memudahkan pemadanan, saya pakai bahasa Inggris yang mengenal maskulinitas-feminitas kata ganti seperti pada bahasa Arab

    illaha –> except her
    ilaha –> God