Percakapan-percakapan Ajaib di Dalam Transportasi Massal

Percakapan-percakapan Ajaib di Dalam Transportasi Massal

Ilustrasi transportasi massal (pixabay.com)

Pengguna transportasi massal di Indonesia semakin banyak. Berbagai upaya yang dilakukan memang manjur. Per 1 Maret 2018, misalnya, jumlah pengguna Transjakarta menembus rekor 507.909 pengguna.

Jakarta memang tak bisa dijadikan ukuran, namun paling tidak logika yang berlaku kurang lebih sama: meningkatkan kualitas transportasi massal beserta fasilitasnya akan membuat masyarakat pelan-pelan meninggalkan kendaraan pribadi yang selama ini hanya menambah polusi dan kemacetan.

Transportasi massal kini sudah menjadi kebutuhan, bahkan belakangan menjadi gaya hidup khas perkotaan. Sementara itu, kondisi di dalam armada transportasi hingga kini masih berjarak dengan kesempurnaan: belum benar-benar aman, belum benar-benar nyaman.

Transportasi massal masih menjadi ladang subur bagi tindakan kriminal, mulai dari copet hingga rekrutmen pekerja seks.

Mirisnya, dalam survei yang dilakukan oleh Microsoft CityNext Asia Pacilic Survey tahun 2016, perbaikan infrastruktur transportasi adalah faktor yang paling membutuhkan penanganan hingga mengalahkan isu banjir, sampah, dan kriminalitas. Padahal, transportasi dan kriminalitas adalah dua hal yang beririsan.

Kriminalitas di transportasi massal beragam jenisnya. Baru-baru ini, di media sosial beredar pengalaman Sarah Haderizqi Imani yang ditawari untuk menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) di commuter line jurusan Duri-Tangerang. Cerita tentang pengalamannya itu telah dibagikan sekitar 7.000 kali oleh warganet.

Stereotip masyarakat Indonesia yang ramah di mana saja dan pada siapa saja tampaknya membuat pengguna transportasi massal sulit membedakan mana orang yang benar-benar ramah, mana yang genit, dan mana yang kriminal. Paling tidak, begitulah yang saya rasakan.

Bertahun-tahun menggunakan bis antar-kota untuk pergi dan pulang Jakarta-Kabupaten Bandung, menghadapi pertanyaan-pertanyaan unik pun jadi hal yang biasa.

Transportasi massal jarak jauh memungkinkan beberapa orang yang tak saling mengenal duduk bersebelahan atau berhadapan di waktu yang lama. Di situlah secara hakiki kita dapat menemukan orang bersifat suka ngecap dan kepo luar biasa.

Teteh umurnya berapa?” atau “Pekerjaan orangtua apa?” atau “Berapa bersaudara?” Dan, ketika tahu saya anak tunggal, muncul pertanyaan yang agak meletihkan batin, “Kenapa orangtua teteh cuma punya anak satu?”

Ketika itu, saya tarik napas panjang-panjang sambil memperhatikan lekat-lekat wajah lelaki berusia 40-an tersebut. Saya berusaha keras untuk memahaminya.

Apakah ia sedang mencari saudarinya yang tertukar? Atau, apakah saya mirip anaknya yang dihisap UFO? Saya tak menemukan jawaban dari wajahnya.

Belum lagi kalau ditanya mengenai jurusan kuliah. Ajaib-ajaib pertanyaannya. “Nanti kerjanya apa, ya?”, “Kuliah filsafat? Memang agamamu apa?”, dan yang paling menggelikan, “Wah, hebat ya, kuliah filsafat. Bisa ramal orang ya?”

“Waduh, pak, saya kuliah filsafat, bukan ilmu perdukunan!”

Ketika beberapa orang memiliki batas-batas yang berbeda tentang hal privat dan publik, tak bisalah kita sepenuhnya menyalahkan orang tersebut.

Hal itu seringkali terjadi akibat ragam kultur lahir dan tumbuhnya seseorang. Sebagian orang bisa terbuka terhadap sesamanya – bahkan untuk hal-hal yang menurut sebagian orang lainnya sangat personal.

Jika bagi beberapa orang masalah agama dan status pernikahan adalah sesuatu yang personal, bagi beberapa orang lainnya, bisa jadi sebaliknya.

Hal ini ibarat kebiasaan masyarakat di beberapa lingkungan permukiman setelah membuka pintu rumah. Tak jarang, mereka membiarkan para tetangga bebas keluar-masuk, nonton TV, leha-leha, atau ambil cabai rawit atau ketumbar sendiri di dapur. Sementara, ada lingkungan permukiman lain yang masyarakatnya selalu mengunci pintunya rapat-rapat.

Tanpa maksud mengganggu atau menginterupsi cara hidup orang lain, orang-orang yang terlalu terbuka seringkali sesungguhnya hanya ingin hidup dengan caranya sendiri.

Beberapa kali saya ditanyai tentang hal-hal unik, bahkan kurang membuat nyaman di dalam transportasi massal. Pengalaman terakhir membuat saya tak bisa move on. Saking kesalnya, pengalaman itu bikin paranoid.

Masih di dalam bus antar-kota jurusan Jakarta-Kabupaten Bandung, seorang laki-laki yang duduk bersebelahan dengan saya tadi, terus saja bicara seolah tak mau berhenti. Saya sudah berusaha seserius mungkin membaca buku, meski isinya tak paham-paham amat.

Akhirnya saya memutuskan untuk tidur. Tidur bisa jadi cara paling aman agar tak tercebur dan tenggelam dalam percakapan ajaib dengannya. Tapi ternyata, salah.

Di tengah tidur, secara kebetulan saya membuka mata sedikit. Tak disangka, orang itu tengah membuka aplikasi kamera di ponselnya, tepat mengarah pada kita berdua. Jantung saya berdegup kencang, seperti genderang mau perang, halah

Kemudian, saya kembali pejamkan mata untuk berpikir, apa yang harus saya perbuat? Saya tak tahu apa yang sesungguhnya dilakukan orang itu, apakah mengambil gambar, video, atau sekadar bercermin?

Tapi kalau bercermin rasanya tak mesti ajak-ajak orang asing yang sedang tidur. Saya pun menjadi was-was, bahkan hingga hari ini.

Transportasi massal, tanpa disadari telah menjadi versi dari akun media sosial di era ini. Orang-orang dari berbagai latar belakang bisa bertemu, berinteraksi, beradu kepentingan dan hasrat menurut versi masing-masing, serta membicarakan berbagai hal di permukaan.

Seseorang merasa perlu memenuhi hasrat ingin tahunya tentang kehidupan yang lain, sementara yang lainnya merasa bahwa perkara itu bukan sesuatu yang pantas dibagi-bagikan pada orang asing.

Sebagaimana di media sosial, pengguna transportasi massal juga sebetulnya bisa memilih untuk hanya menampilkan nama samaran tanpa memperlihatkan karakter aslinya. Tak perlu terlalu jujur ketika berhadapan dengan orang asing.

Namun sial, pengguna transportasi massal tidak dapat merantai diri melalui piranti komputer. Pertemuan di transportasi massal melibatkan tubuh dengan tubuh; wajah dengan wajah. Ketika tak nyaman dengan teman duduk, kita tak bisa close tab dan pindah forum.

Jenis pertemuan macam ini sulit sekali menihilkan posisi moral untuk tidak menghakimi dan/atau memberi penilaian tertentu – meski hanya disimpan dalam hati.

Orang yang tidak menolak menjawab ketika ditanya, tentu rawan dikata sombong. Orang melulu bertanya hal-hal yang belum tentu penting, tentu rawan dibilang ikut campur urusan orang. Bukan tak mungkin problem prasangka dan keturunannya berawal dari percakapan kecil di dalam transportasi massal.

Pada akhirnya, kita memang tidak bisa memasang imbauan untuk tak bertanya hal privat di transportasi massal. Menghadapi kriminalitas tak ada hal lain yang dapat dilakukan, selain tetap waspada dan menggunakan keluasan jaringan media sosial. Supaya kita tetap dapat up to date tentang modus-modus kejahatan teranyar. Bak aplikasi, penjahat juga update, keleus…

Hal lain yang penting adalah mempertahankan kesopanan ketika menolak menjawab. Sebagaimana penanya, orang yang ditanya juga punya hak untuk diam.

Ya, mungkin kesopanan tak selalu mempan. Namun paling tidak, dengan menjadi tetap respek pada orang lain, kita turut menjaga keramah-tamahan yang telah melekat pada masyarakat kita. Ramah-tamah ya, bukan kepo. Pake banget!