Petunjuk Praktis Menjadi ‘Superhero’, jika Meletus Perang Dunia

Petunjuk Praktis Menjadi ‘Superhero’, jika Meletus Perang Dunia

Ilustrasi (The Daily Conversation/Youtube)

Mari kita hadapkan pandangan ke barat, ke kota suci tiga agama yang sepertinya memegang peranan kunci untuk menentukan nasib separuh populasi bumi: Yerusalem.

Donald Trump telah mengeluarkan kebijakan yang memanaskan tensi di Timur Tengah dan dunia Islam yang sebelumnya memang sudah menghangat.

Presiden Amerika Serikat yang kadang nyambi sebagai selebtwit itu resmi memindahkan kedutaan besar Amerika untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Saya sudah memutuskan bahwa ini waktunya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” ujar Trump dalam pidatonya di Gedung Putih pada 6 Desember 2017.

Melanjutkan pernyataannya, Trump berkata, “Sementara presiden-presiden sebelumnya menjadikan ini sebagai janji kampanye yang gagal mereka wujudkan, hari ini saya mewujudkannya.”

Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Amerika sebenarnya telah diatur dalam sebuah UU sejak tahun 1995.

Jika ada alasan mengapa dibutuhkan waktu 22 tahun untuk mewujudkannya, maka itu ada hubungannya dengan keengganan presiden-presiden AS sebelumnya untuk menciptakan konflik.

Atau, mereka sudah disibukkan dengan berkonflik di pelbagai penjuru dunia, sehingga tampaknya tak masuk akal bila menambah lagi sumber keruwetan.

Trump akhirnya berhasil mewujudkan hal tersebut, yang ia anggap sebagai prestasi tersendiri. Memang benar bahwa mewujudkan sesuatu yang tak mampu diwujudkan oleh orang lain adalah sebentuk prestasi.

Tetapi, kita tidak bisa tidak menyisipkan kata ‘sinting’ di situ, bila prestasi tersebut membangkitkan amarah separuh penduduk bumi.

Setelah dua artikel terakhir saya mengenai “Tips Jitu Bertahan Hidup, jika Meletus Perang Nuklir” dan “Panduan Praktis Bertahan Hidup, jika Meletus Perang Dunia III”, saya pernah berjanji untuk membuat artikel khusus untuk Anda yang menginginkan sebaliknya suatu hari nanti. Dan, inilah hari yang Anda tunggu-tunggu.

Selain terinspirasi oleh sikap amanah Trump, saya juga mempertimbangkan bahwa tak semua orang kepingin selamat saat perang terjadi. Ada saja orang-orang yang ingin mencicipi sensasi near death experience hingga batas optimum.

Motifnya pun beragam, antara lain kecanduan tantangan, bosan hidup tenang, ingin lari dari kenyataan, atau malah ingin mewujudkan impian masa kecil, yaitu menjadi sosok superhero.

Artikel ini saya bikin khusus untuk Anda yang ingin menjadi superhero. Mengingat Perang Dunia III katanya sudah di ambang pintu, ada baiknya Anda menyiapkan diri mulai dari sekarang. Tapi, bagaimana caranya menjadi superhero yang baik dan benar?

1. Siapkan perlengkapan Anda

Langkah pertama adalah menentukan kostum. Ini merupakan tahap yang sangat penting, karena kostum akan merepresentasikan heroisme yang Anda usung.

Desainlah kostum seikonik mungkin, seperti kostum Batman dengan topengnya, kostum Captain America dengan perisainya, atau kostum Hulk dengan celana dekilnya.

Berhubung palagan yang Anda pilih nanti bakal disesaki oleh ledakan bom atom, dan sudah menjadi sifat bom atom untuk destruktif serta menimbulkan gerah yang berlebih, pastikan bahan yang Anda pilih mampu melindungi tubuh dari panas tinggi sekaligus cepat menyerap keringat.

Langkah berikutnya adalah menyiapkan senjata andalan dan kendaraan tempur. Bambu runcing memang senjata yang sangat khas Indonesia, tetapi rasa-rasanya ia tak cocok untuk dipakai melawan bom napalm.

Lupakan pula ide menggunakan keris atau badik atau ilmu kanuragan semacam Rawa Rontek. Bagaimanapun, Anda bakal bertempur dengan musuh dari era internet, bukan dari era Singasari.

Namun, bukan berarti senjata khas Indonesia tak boleh digunakan bila terjadi Perang Dunia III. Ilmu santet tampaknya menarik untuk dijadikan opsi senjata.

Sembari mengisi TTS di teras rumah, Anda bisa menyerang musuh nun jauh di sana dengan paku dan bohlam dan apa pun yang sekiranya cukup menyakitkan bila bersarang di usus seseorang. Praktis dan efektif, meski berkesan kurang heroik.

Sementara itu, untuk kendaraan tempur, tentu sangat bergantung pada medan perang mana yang Anda tuju. Anda tak mungkin pergi dengan mengendarai bebek metik kesayangan bila perang terjadi di, misalnya, Palestina.

Selain berisiko menderita bahu pegal dan nyeri punggung, naik bebek metik ke Palestina bakal membuat Anda tiba di sana jauh setelah perang berakhir.

2. Tentukan siapa lawan Anda

Tidak ada superhero yang tetap eksis tanpa kehadiran lawannya. Spiderman butuh Goblin, Harry Potter butuh Voldemort, dan KPK butuh siapapun yang mengembat duit negara.

Maka, setelah kostum dan perlengkapan tempur lainnya siap, segeralah menentukan sikap ke mana Anda berpihak? Tak menjadi soal apakah membela atau menentang kebijakan Amerika atas Yerusalem itu, toh pihak manapun yang dipilih tak membuat Anda menjadi lebih kebal terhadap ledakan bom atom atau nuklir.

Meski begitu, Anda juga harus mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kubu mana saja yang berseteru dan siapa saja anggotanya. Pahami pula peta geopolitik agar Anda tidak mempermalukan diri sendiri.

Jangan ikuti kebiasaan khas netizen Indonesia yang mengelu-elukan Arab Saudi tapi membenci Amerika, atau mengidolakan Erdogan tapi mengecam Rusia.

Bagi sebagian netizen Indonesia, agama, ideologi, dan kepentingan politik merupakan sesuatu yang tak mungkin bercampur baur, sehingga sering kebingungan ketika mendapati sekelompok orang mengebom kelompok lain meskipun beragama sama.

Namun, bila urusan menetapkan lawan menjadi sesuatu yang amat pelik, saya sarankan agar Anda mencontoh sikap para pemimpin, karena pemimpin ada memang agar dicontoh rakyatnya.

Anda bisa meneladani sikap Presiden Jokowi yang mengutuk keras keputusan Amerika, sama halnya dengan Erdogan. Meskipun kerap diperbandingkan secara serampangan oleh netizen, kali ini keduanya bersepakat untuk membela Palestina, dan semestinya Anda kini tahu siapa yang harus Anda lawan.

Bila Anda mengidolakan Trump dan memajang fotonya di dinding kamar, tentu Anda juga tahu siapa yang menjadi lawan. Urusannya baru akan menjadi runyam ketika Anda menggilai Trump sebesar kecintaan Anda pada Raja Salman.

Bagaimanapun, rasanya aneh bila superhero menyerang lawan sekaligus sekutunya pada waktu yang sama.

3. Bentuklah aliansi superhero

Jangan berpikir bahwa entitas yang kepingin menjadi superhero bila Perang Dunia meletus adalah Anda seorang. Di belahan dunia lain, atau bahkan di balik gerumbul semak di sekitar rumah, terdapat orang-orang unik nan pemberani yang bertekad menjadi superhero pula.

Maka, setelah Anda menentukan pihak mana yang menjadi lawan, suatu keputusan yang bijaksana bila Anda mau mencari superhero lain dan membentuk aliansi dengannya demi menyatukan kekuatan. Semakin banyak jumlah sekutu, peluang Anda untuk menang semakin besar.

Perbedaan kostum, karakteristik senjata, dan pandangan politik seharusnya tidak menjadi sesuatu yang Anda galaukan ketika merekrut sekutu.

Jika Anda memihak Palestina, contohnya, sudah semestinya Anda mempertimbangkan Fadli Zon untuk menjadi anggota aliansi, tak peduli seberapa sering ia membikin Anda sebal pada masa lalu.

Sebelum berangkat ke medan laga, sering-seringlah berkumpul bersama sekutu Anda untuk mendiskusikan ini-itu. Menggelar rapat di medan laga bagaimanapun adalah tindakan yang penuh risiko, sedangkan bila tak pernah mengupayakan konsolidasi, yah, ingatlah kalau ini bukan mau piknik.

Lokasi pertemuan bergantung pada jumlah anggota sekutu yang Anda miliki dan pihak mana yang Anda bela. Jika jumlah anggota sekutu Anda tidak lebih banyak dari jumlah jari kaki, rapat bisa diadakan di poskamling terdekat.

Namun, bila Anda sampai memerlukan bantuan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengetahui jumlah anggota, rasa-rasanya tidak ada lokasi rapat seideal Monas. Untuk yang ini, jangan lupa memilih tanggal cantik.

Hindari kecenderungan untuk menggelar rapat di tempat-tempat yang memiliki kaitan erat dengan kubu lawan. Selain mengurangi peluang disadap, rapat di tempat yang keliru malah akan membuat Anda tampak konyol.

Misalnya Anda mengutuk keras Amerika, alangkah aneh kalau rapat digelar sembari mengunyah burger McD. Di restorannya pula. Sama belaka halnya bila Anda menyerukan aksi boikot produk Amerika atau Israel di… Twitter.

Langkah terakhir yang ingin saya sampaikan adalah berlatihlah membuat puisi. Ini tidak ada hubungannya dengan gerakan Indonesia Mengajar atau yang semacamnya.

Namun, kecakapan membikin puisi sungguh berguna ketika Anda kepingin membuat kata-kata perpisahan kepada orang-orang terkasih dengan cara yang antimainstream.

Puisi yang indah dan tepat akan memastikan diri Anda tetap dikenang sebagai superhero sepanjang zaman, apapun jenis rudal yang menimpa Anda nantinya.

Selain itu, belajar membuat puisi bisa menghindarkan Anda dari stres berkepanjangan akibat ketiadaan kegiatan di sel tahanan. Puisi akan membuat Anda tetap memiliki semangat hidup, atau sekurang-kurangnya menginspirasi Anda untuk mengakhiri hidup dengan cara yang elegan.

Bagaimanapun, ingatlah baik-baik bahwa tidak ada satu pun superhero yang tidak bisa kalah atau bahkan tidak bisa mati.

Jika Anda meragukan hal ini, tonton kembali nasib yang menimpa Superman di film terakhirnya. Atau, apakah perlu saya mengantar Anda berkunjung ke Mako Brimob?