Panduan Praktis Bertahan Hidup, jika Meletus Perang Dunia III

Panduan Praktis Bertahan Hidup, jika Meletus Perang Dunia III

Ilustrasi (businessinsider.co.id)

“Sejak mesiu diciptakan, sulit membayangkan kecakapan alamiah terbaik manusia selain memindahkan kerak neraka ke muka bumi.”

Kutipan siapakah itu? Winston Churchill? George Bush? Nelson Mandela? Atau, Tan Malaka?

Bukan, maaf, bukan mereka semua. Itu kutipan dari Haji Mashuri, anggota majelis warung kopi tempat saya bertandang saban pagi. Ia pelatih karate yang disegani, tetapi terkapar di pinggir jalan dengan perut tertembus timah panas enam bulan lalu oleh sekelompok begal.

Ia selamat, bagaimanapun, tetapi sejak saat itu ia keluar dari perguruan karate karena hatinya terluka. Dunia, menurutnya, tak butuh lagi ilmu bela diri, sebab pengecut sekalipun bisa menjadi jagoan bila menenteng senapan.

Namun, kami tak sedang membahas peluru yang mengoyak perutnya ketika kutipan itu ia cetuskan, melainkan sedang menggunjingkan Suriah. Negara itu kembali menjadi pusat perhatian dunia ketika Donald Trump memutuskan untuk mengirim 59 pucuk rudal ke sana, dalam keadaan aktif dan siap meledak, tentu saja.

Seperti yang diberitakan oleh pelbagai media, Trump nekat menerjunkan diri ke palagan sebagai respon atas pemakaian bom kimia sarin oleh pemerintah Suriah. Bom kimia itu sendiri telah merenggut sekurang-kurangnya 86 nyawa, sebagiannya adalah anak-anak.

“Malam ini, saya memerintahkan serangan militer terarah ke sebuah landasan udara di Suriah, tempat serangan kimia itu dilancarkan,” ujar Trump, yang dilansir AFP pada Jumat (7/4). “Ini merupakan kepentingan keamanan nasional AS yang vital untuk mencegah, menangkal penyebaran, dan penggunaan senjata kimia mematikan.”

Dunia bereaksi, dan seperti biasa, pendapat pun terbelah antara yang mendukung dan mengecam tindakan Amerika. Hal itu juga menimpa anggota majelis warung kopi kami.

Mereka yang mendukung berargumen bahwa tindakan Amerika diperlukan sebagai teguran atas keputusan pemerintah Suriah yang membunuhi rakyatnya sendiri. Sementara mereka yang menolak mengaku sudah terlalu muak dengan kegemaran Amerika mencampuri urusan negara lain.

Apa pun sikap yang diambil, satu yang pasti: perang Suriah memasuki babak baru. Rusia dan Iran, dua negara sekutu pemerintah Suriah sekaligus musuh abadi Amerika dan sekondannya, memang belum melakukan tindakan balasan. Namun, nasib dunia sepertinya berada di ujung telunjuk presiden kedua negara tersebut.

Sekali mereka menuding ke arah Suriah, maka Perang Dunia III resmi dimulai. Dan, percayalah bahwa itu akan menjadi perang terburuk yang pernah ada.

Andai perang berskala global benar-benar terjadi, dan itu merembet hingga ke depan pintu rumah Anda, apa yang bisa Anda perbuat untuk menyelamatkan diri?

Beruntunglah Anda mengenal saya. Ketika Anda sedang larut dalam rutinitas yang membuat Anda tak menyadari kalau tensi dunia sedang meningkat, saya telah merangkum beberapa tindakan yang bisa dilakukan agar tetap hidup, jika perang benar-benar terjadi. Dan, inilah hasilnya:

1. Mengungsi

Anda yang hobi melancong barangkali menjadikan pilihan ini sebagai opsi pertama. Bedanya, kepergian kali ini berpotensi untuk tak pernah kembali. Tetapi, persiapan yang harus dilakukan relatif sama, misalnya perihal menetapkan tujuan mengungsi.

Kecuali Anda sudah sedemikian lelah dikejar penagih utang saban hari, hindarilah mengungsi ke daerah Timur Tengah, semenarik apa pun jaminan keamanan yang ditawarkan. Suriah berada di kawasan tersebut, sehingga mengungsi ke sana seperti hanya berpindah dari mulut singa ke dekapan gorila.

Meski begitu, Anda masih memiliki ratusan destinasi lain. Negara di daerah Amerika Selatan, misalnya, atau daerah Antartika. Sebagian besar negara di Amerika Selatan belum menyatakan keberpihakannya kepada salah satu blok yang bersengketa, sedangkan Antartika baru akan dilanda perang saat tak ada lagi daratan lain yang cukup utuh untuk dijadikan palagan. Bonusnya, Anda bisa menyaksikan rombongan penguin sebagai pelipur lara.

Setelah tujuan ditetapkan, Anda perlu mengurus beragam dokumen yang diminta oleh negara tujuan. Mulailah bertandang ke kantor kedubes negara tujuan dan tanyakan apa saja syarat yang dibutuhkan. Yakinkanlah bahwa Anda layak mendapatkan suaka di negaranya.

Anda bisa berkata bahwa Anda korban kebiadaban perang yang akan menyerukan pesan perdamaian dari pengungsian. Anda juga bisa memaparkan pelbagai kecakapan luar biasa, entah kecakapan menjahit atau mereparasi parabola, yang tak sempat bermanfaat bagi orang banyak karena direnggut oleh perang.

Intinya, buatlah pemerintah negara tujuan percaya bahwa kedatangan Anda ke sana bukan sekadar pindah tempat menganggur.

2. Bertahan

Tak semua orang memilih untuk mengungsi, entah karena ketiadaan daya, ketiadaan niat, atau malah ketiadaan keduanya. Mereka memilih bertahan di rumah bersama handai taulan, menikmati secangkir kopi dan jagung rebus di halaman belakang, sembari menghitung jumlah rudal yang berseliweran di atas kepala.

Anda barangkali orang yang memilih bertahan, jika kelak perang berkecamuk. Bila daerah kediaman Anda belum tercantum di peta manapun, Anda tak perlu melanjutkan pembacaan. Namun, bila bermukim di kota, apalagi bertetangga dengan pangkalan militer, butuh persiapan khusus agar tetap hidup ketika peluru menyerbu.

Membangun bunker tampaknya perlu dipertimbangkan. Tak usah besar-besar seperti bunker keluarga Cendana, yang penting cukup untuk sekeluarga berlindung dari ledakan dan reruntuhan bangunan. Berhubung perang belum dimulai, Anda masih memiliki waktu untuk membangunnya sekarang.

Jangan lupakan pula urusan logistik. Bawalah bekal seperlunya ke dalam bunker. Roti kering dan air putih cukup memadai untuk bertahan hidup hingga berhari-hari, tetapi jangan paksakan membawa beras dan magic com ke dalam bunker. Menanak nasi akan menjadi sesuatu yang merepotkan dan magic com, ya ampun, apakah Anda pikir jaringan listrik masih menyala?

Namun, bila tak memiliki cukup dana untuk membangun bunker dan perang benar-benar meletus, yang perlu dilakukan adalah keluar dari rumah secepat mungkin. Bawalah pemutar musik ke halaman dan ambilah kursi terbaik yang ada. Duduklah dengan tenang, tarik napas, lalu putarlah lagu Dewa yang berjudul ‘Hadapi dengan Senyuman’ berulang-ulang. Terus lakukan seperti itu hingga yakin bahwa Anda memang masih sanggup tersenyum.

3. Ikut Perang

Anda yang gandrung sepak bola dan memajang foto pemain serta pelatih manapun selain Mourinho di dinding kamar, tentu memahami adagium ini: pertahanan terbaik adalah menyerang.

Betul. Bagi yang memilih bertahan hidup dengan cara ini, ada potensi untuk memesan senapan serbu di pasar gelap – tapi ya risiko ditanggung sendiri. Harga senjata bisa saja naik signifikan menjelang perang, dan akan semakin tak terjangkau saat perang kadung dimulai.

Mengenai pihak mana yang sebaiknya didukung, tak perlu dipusingkan. Dengan usaha minimal, Anda akan tahu bahwa perang Suriah meletus karena urusan politis, barangkali pula materialistis, tetapi bukan karena perkara ideologis, apalagi agamis.

Ruwet sekali kalau memikirkan mengapa serangan Amerika ke Suriah malah didukung oleh Arab Saudi dan Turki, yang mana di barisan itu juga ada Israel? Terus, mengapa Indonesia berada satu barisan dengan Iran dan negara yang lekat dengan komunis, seperti China dan Rusia?

Jadi, tak perlu bertanya apa agama yang dianut atau bahkan gubernur mana yang dipilih. Itu buang-buang waktu…

Itulah tiga cara untuk bertahan hidup yang bisa Anda pilih. Kini, tugas Anda adalah memilih salah satunya, sembari berdoa agar pilihan tersebut tak pernah terlaksana. Sebab, meminjam kutipan Haji Mashuri di atas, perang sebenarnya cuma urusan memindahkan kerak neraka ke muka bumi, dengan atau tanpa mesiu.