Pentingnya ‘Manic Pixie Dream Girl’ dalam Hidup Kita yang Gini-gini Aja

Pentingnya ‘Manic Pixie Dream Girl’ dalam Hidup Kita yang Gini-gini Aja

speakerscorner.me

Frustrasi karena skripsi tak kunjung selesai? Depresi karena lamaran kerja selalu ditolak? Atau, bosan dengan hari-harimu yang berjalan terlalu teratur tanpa turbulensi?

Ah, saya memang tidak punya solusi ampuh untuk semua persoalan itu. Namun, jika melihat hebohnya kepuitisan jenaka Ayah Amel dan ibu gurunya, serta bocah SD yang menyebut ikan ‘tongkol’ di depan presiden, mungkin kamu harus menemui MPDG, lalu berkonsultasi dengan mereka.

Apa itu MPDG?

MPDG adalah singkatan dari Manic Pixie Dream Girl yang dicetuskan oleh kritikus film, Nathan Rabin, sebagai pakem sebuah karakter. Ciri-ciri dari MPDG biasanya diproyeksikan lewat tokoh perempuan yang memiliki karakter eksentrik, dan kehadirannya untuk membantu tokoh utama pria dalam menghadapi segudang masalah.

Karena dianggap melabeli atau merendahkan perempuan, pakem ini sempat dikritik banyak pihak, terutama oleh kalangan feminis. Mereka menuduh Nathan Rabin sebagai seorang yang seksis, diskriminatif, dan misoginis.

Tapi saya justru memiliki pemikiran lain tentang Manic Pixie Dream Girl ini. Memang persepsi orang dalam menanggapi sesuatu pasti akan berbeda dan menimbulkan banyak pro-kontra. Rabin sebetulnya tidak bermaksud buruk, mungkin malah sebaliknya. Rabin memang ‘melabeli’ kaum perempuan, tapi bukan dengan label kebencian.

Dengan menciptakan istilah itu, Rabin justru ingin menyanjung para perempuan eksentrik sebagai golongan spesial yang kadang dicibir dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang kebanyakan.

Saya selalu menghormati kalangan feminis, tapi jangan jadi bad feminist yang selalu marah-marah sepanjang waktu, dong! Kalau sudah begitu, kalian tidak akan terlihat keren lagi.

Memangnya apa yang salah dengan perempuan eksentrik? Mereka hanya perempuan yang mempunyai sifat dan pola pikir unik. Mereka adalah ombak kecil di samudera kehidupan. Angin sepoi di tengah kegerahan hari-hari kita. Toh, dalam film, mereka justru ‘ditugaskan’ untuk menolong si tokoh utama pria dari persoalan hidup, meski dengan cara yang tidak biasa dan tidak terduga.

Kita dapat melihat contoh karakter-karakter itu di beberapa film, seperti karakter Faye (Faye Wong) di film Chungking Express besutan Wong Kar Wai, Holly Golightly (Audrey Hepburn) di Breakfast at Tiffany’s, Imai Nobume dan Mai Misaki dalam anime Gintama dan Another atau yang paling terkenal Summer (Zooey Deschanel) dalam 500 Days of Summer.

Kita juga bisa melihat karakter-karakter itu bermunculan di hampir semua novel Haruki Murakami. Midori di Norwegian Wood, Yuki di Dance Dance Dance, Fukueri di 1Q84, dan Shimamoto di South of the Border, West of the Sun. Kehadiran mereka membawa nuansa dan warna tersendiri, meski warna yang mereka percikkan hampir selalu abstrak bak lukisan Jackson Pollock.

Ambil contoh Faye dalam film Chungking Express. Faye yang diperankan secara memikat oleh Faye Wong ini ‘membantu’ seorang polisi yang diperankan Tony Leung lepas dari kegundahan akibat ditinggalkan pergi kekasihnya, walau dengan cara-cara unik dan tidak biasa dilakukan gadis pada umumnya.

Ketimbang nongkrong di kafe dan menjadi teman curhat yang baik dan benar, Faye justru dengan lucunya diam-diam menyelinap ke tempat tinggal si polisi galau itu bak maling jemuran hanya untuk melakukan hal-hal kocak, seperti mengganti sabun yang sudah tipis, mengganti merk sarden, dan membersihkan ruangan sambil mendengarkan California Dreamin’ dari The Mamas and The Papas.

Kelakuan Faye yang ajaib itu membuat si polisi sedikit melupakan kesedihannya dan pelan-pelan beranjak keluar dari bayang-bayang mantan kekasihnya. Ahh…

Ada juga Summer yang diperankan sangat baik oleh Zooey Deschanel, bahkan saya sangat yakin aktingnya di film 500 Days of Summer akan terus diingat hingga beberapa puluh tahun ke depan. Chungking Express mungkin agak tersegmentasi, tapi tidak ada hipster film yang tidak tahu 500 Days of Summer karya Marc Webb ini.

Pada awalnya, Summer memang terlihat sombong, enigmatik, dan undateable. Setidaknya dari sudut pandang McKenzie, teman kantor dari Tom. Dia menyarankan Tom (Joseph Gordon-Levitt) yang mulai terjangkit virus Summer-Effect untuk menjauhinya.

Tapi sebuah pertemuan yang tak sengaja di dalam lift dan ketertarikan yang sama terhadap musik The Smiths membuat Tom mengacuhkan pesan McKenzie. Tidak usah menunggu waktu lama untuk melihat kedua insan ini berkencan dan berakhir di ranjang.

Sayangnya, prinsip Summer yang tidak mempercayai cinta mulai memberatkan Tom. Tom yang ingin menjalani hubungan dengan jelas sebagai seorang kekasih malah ditolak mentah-mentah oleh Summer. Seketika saja dunia Tom runtuh, hari-harinya yang tadi cerah, mulai mendung berawan.

Tapi tunggu dulu… Kita lihat dampak positifnya. Hidup Tom memang menjadi kacau berantakan sejak Summer menolak menjadi pacarnya, tapi berkat ‘kekacauan’ yang disebabkan Summer secara sengaja maupun tidak sengaja itu, dia termotivasi untuk menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Tom jadi sadar dengan tujuan hidup dan cita-citanya yang sebenarnya menjadi seorang arsitek, meski tanpa Summer di sisinya.

Ah, kekacauan yang manis.

Sebenarnya ada juga sebutan Manic Pixie Dream Guy/Boy. Tapi tidak begitu banyak karakter seperti itu dalam premis sebuah film atau literatur. Memang banyak karakter eksentrik dalam film dan literatur. Sangat banyak. Sayangnya, kebanyakan dari mereka adalah tokoh sentral cerita, sehingga tidak cocok dengan istilah tersebut.

Hanya ada beberapa contoh saja untuk Manic Pixie Dream Boy, antara lain Augustus Waters di novel The Fault in Our Stars karya John Green, Jason Dean (Christian Slater) di film Heathers, Patrick di novel The Perks of Being A Wallflower karya Stephen Chbosky, atau karakter Twelve dalam anime Terror in Resonance.

Tiga nama terakhir memang agak dipaksakan, karena saya belum bisa menemukan contoh lain yang benar-benar pas. Jason Dean yang diperankan Christian Slater memang membantu Veronica Sawyer (Winona Ryder) memecahkan persoalan hidupnya, tapi dengan cara yang negatif, ekstrem, dan destruktif.

Begitu juga dengan Patrick, seorang gay flamboyan yang menolong tokoh utama pria bukan perempuan, sedangkan Twelve adalah gabungan dari keduanya, sebab dia membantu tokoh utama pria untuk melakukan sesuatu yang sifatnya merugikan.

Memangnya apa yang dilakukan Jason Dean dan Twelve? Oh, mudah saja. Jason membantu Veronica membunuh perempuan-perempuan yang dia benci dan Twelve membantu sahabatnya untuk meledakkan bom atom di Jepang. Hebat bukan?

Saya pikir dalam hidup kita yang singkat ini, kita memang membutuhkan kekacauan dan turbulensi sebagai pemicu atau motivasi dalam menjalani dan mewarnai hari-hari kita yang kadang membosankan. Seperti yang dijabarkan Dee Lestari dalam buku Supernova bahwa keteraturan mau tak mau harus berkaca dan menemukan dirinya bahwa ia berasal dari sebuah Maha Ketidakteraturan.

MPDG di sini hanyalah sebuah metafora. Kita bisa mencari ‘kekacauan’ itu dalam bentuk lain. Dan, harus yang positif untuk kita sendiri dan orang lain tentunya. Terdengar agak naif ya? Persetanlah…

Seperti lirik lagu The Boy with Arab Strap dari Belle Sebastian yang dikutip Summer di buku tahunan SMA-nya, Color my life with chaos of trouble.