Bagaimana jika Rizieq Kena Pasal Penodaan Agama?

Bagaimana jika Rizieq Kena Pasal Penodaan Agama?

Ilustrasi (germanculture.com.ua)

Pertanyaan ini memancing banyak respon tentu saja. Tapi bukan soal itu saya bertanya, ini tentang memisahkan sosok dengan masalah. Sebenarnya yang membuat kasus penistaan Ahok ini jadi penting apa? Karena sosok Ahok atau karena emang undang-undang penodaan agama itu bermasalah secara substansi?

Penodaan agama adalah hal absurd yang bermasalah sejak dalam konsep. Siapa yang berhak mewakili agama? Siapa yang berhak menerjemahkan tafsir agama? Dalam Islam, agama yang saya anut, ada banyak tafsir dan mazhab di mana tiap-tiap mazhab punya interpretasi sendiri. Artinya tidak ada tafsir tunggal.

Jika tafsir tidak tunggal, ia akan bermasalah pada penentuan seseorang menodai atau tidak menodai agama. Dalam laporan The Indonesia Legal Resources Center (ILRC) disebutkan, sejak 1968 ada banyak kasus penodaan agama yang proses vonisnya didasarkan bukan pada interpretasi hakim terhadap tafsir ahli agama, tapi pada tekanan masa yang protes.

Jika anda masih ingat kasus HB Jassin, Arswendo Atmowiloto, Tajul Muluk, hingga Ahok. Interpretasi ahli agama dan juga uraian saksi-saksi bisa sangat sangat beragam. Ia tidak tunggal dan bisa sangat personal dalam penafsiran. Siapa yang berhak menentukan bahwa tafsir mazhab A lebih lemah dari tafsir mazhab B? Siapa yang bisa menjamin bahwa pemaparan ustad A lebih benar daripada ustad B?

Hakim dalam persidangan bukan ahli agama yang memahami konteks ajaran. Ini tidak hanya dalam Islam, tapi seluruh ajaran agama. Dalam Islam seseorang yang hendak menjalankan yurisprudensi mesti memahami bahasa Arab, menguasai ilmu fiqih, paham mantik, mengetahui Azbabun Nuzul, Asbabul Wurud, hingga penguasaan sejarah Islam yang memadai.

Maka pertanyaannya, apakah hakim di Indonesia menguasai kriteria di atas saat menghakimi penodaan agama Islam? Jika tidak, otoritas apa yang dimiliki sehingga ia bisa memimpin persidangan? Apa yang membuat seseorang yang tak paham ajaran agama menghukum seseorang karena tuduhan penodaan agama?

Syarat ini secara substansi membuat UU penodaan agama semestinya gugur atas rasa keadilan. Pertanyaan saya masih sama, bisakah Rizieq Shihab dibela jika ia kena pasal penodaan agama? Saya percaya, ia mesti dibela dan tak boleh dihukum karena pasal penodaan agama. Jika ia hendak dihukum, semestinya ia dihukum karena seruan kebencian dan pasal lain yang menyerukan tindakan kriminal.

Ada yang lebih penting dari memperjuangkan sosok, yaitu memperjuangkan nilai. Bahwa kejadian yang menimpa Ahok bisa menimpa siapa saja. Siapapun tak boleh dipenjara atas tuduhan penodaan agama. Tidak Ahok, tidak pula Alexander Aan.

Alexander Aan adalah CPNS di Kantor Bappeda Dharmasraya, Sumatera Barat. Ia menulis status di Facebook bahwa ”Tuhan Itu Tidak Ada”. Tulisan itu lahir karena ia melihat masih banyak penderitaan dan masalah sosial di dunia. Akibat tulisan ini ia diserang oleh sekelompok pemuda dan dipukuli hingga memar-memar.

Kritik terhadap agama bisa jadi sangat problematis. Rus’an, seorang dosen Fakultas Agama di Universitas Muhammadiyah (Unimus) Palu, berpendidikan terakhir magister pendidikan sosiologi, menulis artikel berjudul “Islam Agama yang Gagal” sebagai upaya refleksi. Artikel tersebut dimuat Radar Sulteng terbit Kamis, 23 Juni 2005.

Rus’an mengkritik bagaimana agama gagal menyelesaikan masalah di Indonesia. Ia juga menyoroti kondisi bangsa ini yang dinyatakannya sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, tapi juga memiliki masalah korupsi terbesar.

Rus’an menganggap banyak orang Islam gagal memahami substansi ajaran Islam yang semestinya mengayomi kemanusiaan, bukan malah mengkhianatinya. Rus’an mencurigai bahwa pelaksanaan ibadah hanya terbatas pada simbol, yang menurutnya cara beragama semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, kebencian, iri hati dan fitnah, serta segala penyakit hati masih menjangkiti masyarakat.

Untuk memperkuat argumennya, ia mengutip ucapan Karl Marx bahwa ‘agama merupakan candu bagi masyarakat’, yang menyebabkan terjadinya penindasan, eksploitasi kelas, dan lebih jauh lagi sebagai penyebab munculnya imajinasi-imajinasi non-produktif.

Apakah tulisan Rus’an salah? Sebagai otokritik ia tidak salah, malah menunjukkan secara paripurna bahwa kesalihan beragama di Indonesia mengubur kesalihan sosial. Berapa banyak koruptor yang tertangkap tiba-tiba sangat relijius? Berapa guru agama yang tertangkap kasus pelecehan seksual? Siapa pelaku korupsi pengadaan Qur’an? Masalah seperti yang mengaburkan batas antara kritik terhadap perilaku umat beragama dianggap menghina agama.

Ahok beruntung, ia memiliki pendukung militan, ada di Jakarta, sehingga kasusnya bisa menjadi perhatian publik. Bagaimana dengan kasus Tajul Muluk? Dalam pledoi Tajul Muluk berjudul “Mengadili Perbedaan”, kuasa hukum menulis sebanyak 260-an halaman yang sebagian besar bermaksud menjelaskan buruknya kualitas persidangan. Asfinawati, salah satu pengacara Tajul Muluk mengatakan ini peradilan tentang penodaan agama yang paling jorok dan bodoh yang pernah dihadapinya.

Membaca laporan persidangan dari berbagai kasus penodaan agama, anda akan menemukan pola yang sama. Bahwa jumlah massa bisa mempengaruhi vonis dan penyelesaian kasus. Bahwa semakin banyak orang yang datang memprotes atau meminta seseorang dihukum karena menista agama, kasus itu akan segera diproses dengan cepat pula.

Jangan biarkan siapapun dipenjara, karena aturan yang tidak manusiawi ini. Penting untuk memahami bahwa bukan soal siapa yang saat ini ditahan karena UU penodaan agama, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah bahwa tak ada lagi peradilan buruk yang menghukum seseorang karena alasan penodaan agama.

Kalaupun dengan sosok Ahok akan menggerakkan kelas menengah mengakhiri peraturan keji ini, maka biarlah. Tapi di sisi lain, para pegiat hukuman penodaan agama mesti sadar. Bahwa ini bisa terjadi pada siapa saja, Rizieq Shihab yang gemar berkomentar tentang ajaran agama lain sangat mungkin disidang dan dipenjara karena komentarnya.

Jika anda merasa bahwa aqidah kalian diinjak-injak karena ucapan Ahok, maka kalian harus fair mendukung pemenjaraan siapapun yang menghina ajaran agama lain. Jangan karena merasa muslim sebagai umat mayoritas di negeri ini, merasa jemawa, suci, superior, karena sesungguhnya itu tidak lebih munafik dari Ibnu Muljam, ahli agama yang fasik lagi terkutuk.

Jika kalian merasa perlu memberi tahu saudara-saudara di Jakarta, pelosok daerah, dan rumah untuk mengutuk dan membenci Ahok karena ia dianggap menista agama, sebaiknya mulai saat ini kalian juga mengutuk dan mengajak saudara kalian melakukan hal serupa untuk penista ajaran agama Kristen, Katolik, atau Hindu.

Rasa suci dan gembira atas dihukumnya Ahok – juga tajul muluk dan berbagai orang karena penistaan agama – sungguh memuakkan dan serupa kelakuan Yazid bin Muawiyah, jagal yang menyombongkan kekuasaan karena melakukan pembantaian atas keturunan nabi.

“Lantas bagaimana jika ada seseorang yang menghina agama kami?”

Ribuan tahun peradaban agama melahirkan banyak penghina, pembenci, dan perisak. Ajaran Islam tetap besar, ajaran Katolik tetap ada, Judaisme masih dijalankan. Menganggap bahwa penghina punya kuasa untuk merusak ajaran agama berarti menghina jaminan Tuhan bahwa ajaran agama tetap ada dan baik hingga akhir zaman.

Saya tidak tahu bagaimana kalian diajarkan tentang agama, tapi sejak kecil saya diajarkan untuk meyakini bahwa Tuhan yang Maha itu tak perlu dibela. Ajarannya tak perlu dilindungi dengan kekerasan, karena akhlak sebuah ajaran terpancar dari perilaku umatnya, siapapun yang memiliki iman lemah cenderung mudah tersinggung.

Iman yang mudah tersinggung lahir dari rasa cemas akan keyakinan. Ia takut ajarannya tak benar, ibadahnya tak sampai, insecure, sehingga perlu menciptakan musuh. Rasa sakit hati karena merasa agama dihina berarti menganggap bahwa ajaran agama masih lemah hingga perlu dibela dan dilindungi.

Kebencian terhadap agama akan terus ada dengan atau tidak ada UU penodaan agama. Selama ia tidak menyerukan kebencian dan kekerasan, maka ia tak layak dilayani. Bagaimana negara melindungi agama? Dengan menjamin bahwa tiap-tiap pemeluk agama, baik yang minoritas ataupun yang mayoritas, bisa menjalankan keyakinannya tanpa mengalami kebencian atau kekerasan.

Agama tidak menyelamatkan seseorang dari kedunguan, kecuali ia mau menyadari bahwa ada yang lebih penting dari sikap kesalihan diri, yaitu kemanusiaan dan solidaritas kepada sesama manusia. Untuk umat muslim, baiknya kita kembali memahami bahwa Islam adalah rahmat untuk seluruh alam, bukan laknat untuk seluruh alam.