Pengalaman Menjadi Pelaku Penodaan Agama

Pengalaman Menjadi Pelaku Penodaan Agama

Ilustrasi (hrc.co.nz)

Pada Agustus 1968, majalah Sastra yang diasuh oleh HB Jassin dibredel, bahkan diharamkan oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, karena memuat cerita pendek berjudul Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin.

Jassin yang mempersonifikasikan Tuhan, Jibril, dan para Rasul melalui cerpen dengan dialog-dialog maha-satire itu harus dipenjara selama 9 bulan, karena tidak membongkar jati diri Ki Panji Kusmin sesungguhnya.

Satu cerita dalam dunia sastra yang identik dengan geger semacam itu juga adalah Robohnya Surau Kami karya Aa Navis. Navis dengan imajinasinya membuat personifikasi Tuhan dan neraka yang diakhiri dagelan cerdas pada akhir cerita.

Tipe sastrawan agak kekinian – maksudnya masih cukup muda, sebab gaya sastrawan sekaligus arsiparis ini sama sekali tidak kekinian – adalah Muhidin M Dahlan. Lewat novel Adam dan Hawa (2005), tak terhitung ia dikecam-kecam ormas.

Bagi banyak orang, agama memang sesakral itu. Tuhan adalah sosok Maha Agung yang tidak boleh diajak berdialog. Terlebih, jika dialog itu dianggap tidak sopan dan liar.

Dan kitab suci, bagi para tekstualis adalah seperangkat teks yang saking benarnya, kita haram untuk bertanya, mengapa sesuatu mesti dihukum begini atau begitu.

Bahkan, akhir-akhir ini, fenomena semacam itu ngetren kembali seiring dengan pasal karet berjudul penistaan agama. Pasal yang kira-kira setara anehnya dengan pencemaran nama baik.

Pada masa kanak-kanak, sepanjang penerimaanku, harusnya agama tidak seseram itu. Aku dan teman sepermainan barangkali termasuk golongan yang beruntung, karena bercanda dengan nyerempet hal agama secara lisan dan sembunyi-sembunyi ketika saling meledek pada kalangan terbatas saja.

Aku dan teman-teman belum secerdas Kaesang, anak presiden yang cerdas menyampaikan kritik dalam canda khas remaja milenial.

Alkisah, salah satu guru ngaji di kampungku dipanggil anak-anak kecil dengan sebutan ‘Pak Jenggot Naga’, karena hobinya mengelus jenggotnya yang super panjang. Kadang-kadang, ia juga diledek dengan sebutan wedhus gibas, karena jenggotnya disamakan dengan jenggot salah satu jenis kambing.

Toh, kami baik-baik saja. Kami tidak dianggap menista sunnah atau mengajukan ujaran kebencian kepada ulama. Kami tetap beramai-ramai menjalani wisuda Qur’an bin nadhor ketika itu.

Selain itu, rasanya tak kurang-kurang dalam proses beragama ini yang berupa lelucon, tapi kita anggap wajar sebagai bagian dari dialektika pencarian.

Ketika mengaji di TPA, saat menerangkan bahwa Allah itu Esa, sang guru sebisa mungkin memberi keterangan yang logis untuk menyangkal konsep agama lain, bahkan terkadang diselingi tawa ledekan.

Aku, si murid baik ini, tentu percaya pada ajaran-ajaran itu, sembari tetap berbagi gigitan satu plastik siomay dengan teman-teman yang berbeda agama.

Ketika SD, sebelum Zakir Naik menggemparkan dunia, tayangan mantan pemuka salah satu agama diputar di setiap rumah melalui keping-keping VCD bajakan. Ia memberi kesaksian memperoleh hidayah hingga akhirnya masuk Islam.

Dalam tayangan itu, aku ingat betul, ia membangkitkan kebencian setiap penonton yang Muslim terhadap agama mantannya, eh maksudnya mantan agamanya.

Ketika SMA, selain menjadi penggemar Harun Yahya, tentu saja aku adalah golongan yang menangis tersedu sedan ketika training ESQ memutar video ikan bersirip lafaz Allah dan pohon yang batangnya bersujud menghadap kiblat.

Dan puncaknya, ketika jadi mahasiswa, baru saja aku ngeh ternyata pernah menjadi bagian dari kaum anti-vaksin. Pasalnya, dulu aku satu kos dengan mbak-mbak aktivis masjid kampus, yang konon menerima pesan broadcast bahwa vaksin adalah usaha kaum tertentu untuk membodohi umat Islam.

Bagaimanakah karakter mbak-mbak ini? Mereka adalah tipe mbak-mbak yang dijelaskan Ariel Heryanto dalam buku berjudul Identitas dan Kenikmatan (2015), bahwa gelombang populisme Islam memang bangkit sejak munculnya film Ayat-Ayat Cinta dan sejenisnya.

Tak bisa kita sangkal, sejak saat itu, artis ‘Islami” memiliki daya tawar yang lebih untuk bicara soal agama dan melegitimasi kebenaran. Peran yang mereka jalani dalam film seolah menjadi representasi kehidupan sehari-harinya.

Dan, produk apa saja yang mereka jual pada akhirnya pasti laris menjadi konsumsi publik. Sebut saja, label syar’i masa kini.

Namun, dari serangkaian peristiwa itu, aku sama sekali tidak menyesali salah satunya. Pengalaman menaksir bentuk akhirat lewat komik surga-neraka yang bergambar punggung disetrika atau mata dicolok besi panas menjadi sama menegangkannya dengan curi-curi lihat saat nonton bareng cuplikan video syur artis.

Perasaan tersihir semacam itu konon disebut momen estetis, sebuah momen yang kita alami dengan kesadaran penuh yang meninggalkan bekas-bekas atau jejak-jejak yang jelas terekam dibalik ingatan.

Konon pula, sebaik-baik guru adalah pengalaman. Aku tidak yakin ini betul, tapi aku percaya bahwa teks agama juga harus diterima lewat banyak pengalaman yang nyata.

Seperti mbak-mbak ukhti yang punya pengalaman mengimani sesuatu lewat broadcast anti-vaksin dan film Islami, atau seperti seorang pendosa yang tiba-tiba bertaubat mendengar lengkingan azan dini hari. Semakin baik pengalaman, artinya makin banyak guru kehidupan.

Maka, pengalaman layak diperbanyak lewat menghadiri berbagai macam pengajian, membandingkan berbagai macam buku, dan bergaul dengan sebanyak-banyak orang agar tidak hanya percaya pada satu broadcast atau tak hanya terkesan pada satu judul film.

Jadi, setelah menonton video pengajian yang penuh ketegangan dan ancaman, biasanya aku menonton video pengajian kiai-kiai lucu yang gemar menertawakan laku diri sendiri. Yah, biar seimbang saja.

Toh, pada masa kini, aku tetap tidak bisa percaya diri untuk menyatakan satu atau lain hal sebagai sesuatu yang paling baik. Kira-kira seperti cuplikan dialog di bawah ini:

”Bapak!”

”Ya?”

”Saya dan teman saya, Nadia, selalu bersama-sama.”

”Tentu, sayang. Dia kan sahabatmu.”

”Di kelas, pada waktu istirahat dan waktu makan siang.”

”Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”

”Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan, bapak berkata sambil tersenyum juga:

”Itu hanya pelajaran agama saja.”

”Kenapa, Pak?”

”Karena kaupunya agama sendiri dan ia punya agama lain.”

”Bagaimana sih, Pak?”

”Kau Islam dan ia Kristen.”

”Kenapa?”

”Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”

Sepenggal dialog di atas adalah potongan cerita pendek karya Naguib Mahfouz, sastrawan fenomenal Mesir yang bercerita soal kekikukan seorang bapak dan anak perempuannya yang bertanya mengapa ia dan Nadia, teman sebangkunya, berbeda agama.

Si bapak berusaha mempertahankan bahwa semua agama punya nilai-nilai yang baik. Tetapi pada waktu yang sama, ia mesti membela bahwa agamanya adalah agama yang paling benar.

Setiap hari, aku pun mengalami kikuk yang sama. Kalian gitu nggak sih?