Dibesarkan oleh Keluarga Syiah dan Bagaimana Pengalaman Saya tentang Jilbab

Dibesarkan oleh Keluarga Syiah dan Bagaimana Pengalaman Saya tentang Jilbab

Ilustrasi perempuan berjilbab (Janko Ferlic/pexels.com)

Saat masih kelas 4 SD, saya menerima mandat dari sekolah untuk jadi perwakilan kecamatan di ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) cabang lomba catur antar kabupaten. Tentu saja, hal ini sangat membanggakan.

Namun, saya punya kecemasan lain yang tak dimengerti oleh orang-orang di masa itu. Kecemasan itu berupa seragam kontingen dengan model baju dan celana yang sangat pendek.

Sekalipun saya bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), tak ada satupun guru dan murid yang mengenakan jilbab. Namun, sejak awal sekolah, saya dan kakak sudah memakai jilbab ke sekolah.

Karena jilbab bukan seragam, maka saya dan kakak hanya memakai jilbab di kemeja lengan pendek dipadu rok lengan pendek setiap harinya. Saat itu, hanya kami berdua yang berjilbab.

Saat saya dan kakak ingin ikut marching band, kami berdua harus rela melepaskan jilbab agar seragamnya kompak dengan yang lain. Mayoret marching band kami bahkan mengenakan rok mini saat beraksi.

Pada zaman itu, berjilbab masih jadi sesuatu yang aneh. Bahkan, seorang teman sekelas pernah bertanya, “Kenapa sih kamu dan mbak kamu jadi orang caper di sekolah dengan sengaja berpenampilan beda?”

Saya dibesarkan oleh keluarga Islami bermazhab Syiah. Sehingga jilbab sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Sebelum jadi seorang Syiah, orang tua saya adalah pengikut Darul Islam yang juga punya doktrin kuat soal kewajiban berjilbab.

Ibu bercerita, pada masa awal ia berjilbab, banyak orang takut berada di dekatnya karena ada kabar bahwa orang berjilbab menyebarkan racun yang disembunyikan di balik penutup kepalanya.

Rezim Orde Baru adalah penyumbang terbanyak dalam hal diskriminasi kepada muslimah berjilbab. Sehingga memakai jilbab adalah perjuangan berat. Betapapun sulitnya kondisi berjilbab pada masa itu, doktrin tentang kewajiban memakai jilbab ditekankan oleh orang tua saya bahkan sebelum anak-anaknya akil baligh.

Baru saat kelas 5, madrasah saya mulai memiliki seragam jilbab. Namun, saat foto di dalam ijazah, semua siswi tetap harus melepas jilbabnya dengan telinga yang harus terlihat jelas di kamera.

Saya sempat melakukan perlawanan untuk tetap berjilbab di ijazah. Namun, guru bilang bahwa memperlihatkan telinga di ijazah penting saat mendaftarkan diri ke SMP tujuan karena itu adalah tanda bahwa saya tidak cacat. Akhirnya saya melepas jilbab untuk foto di ijazah karena semata-mata takut dengan ancaman guru.

Peristiwa harus melepas jilbab saat foto ijazah terulang saat saya bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN – setingkat SMP). Saya menolak untuk melepaskan jilbab saat foto ijazah, karena guru yang ada di ruang foto dan fotografernya adalah lelaki.

Guru yang bertugas menemani siswa foto ijazah saat itu kesal sekali. Ia bilang saya bodoh. Pakai jilbab di ijazah akan membuat saya tak mendapatkan pekerjaan di masa depan. Saya pun berdebat dengan kepala sekolah dan guru agar dapat mempertahankan jilbab.

Pada akhirnya, saya jadi satu-satunya siswi berjilbab di ijazah. Untungnya, SMA negeri tempat saya bersekolah selanjutnya tak ada larangan soal berjilbab dalam situasi apapun.

Semakin dewasa, saya merasa semakin percaya diri dengan jilbab yang melekat di kepala. Saya memang tak mengenakan gamis, tapi selalu memastikan bahwa baju dan celana saya cukup longgar tak membentuk lekuk tubuh. Namun, sebuah peristiwa mengubah pandangan saya.

Suatu hari, sebuah saluran televisi religi yang tayang secara internasional di lima negara meminta saya untuk jadi presenter program talk show mereka. Saat itu, saya mengenakan gamis untuk program talk show tersebut. Usai syuting, saya mengganti gamis dengan baju sehari-hari berupa baju lengan panjang dan jeans.

Melihat perubahan penampilan usai syuting, narasumber perempuan dalam talk show tersebut berkomentar bahwa saya kurang kaffah sebagai muslimah. Ia menyayangkan saya yang memakai jeans, tidak berkaos kaki, dan memakai baju berwarna terang. Gamis hitam dengan jilbab lebar adalah pakaian terbaik versinya.

Ia juga mengkritisi saya karena mengenakan make up. Terus terang, mendengar hal itu membuat perjalanan mempertahankan jilbab sejak kecil menjadi sepele. Saya seperti ditegur oleh diri sendiri yang sering meremehkan gaya para hijabers.

Di titik itulah, saya paham bahwa berada dalam posisi yang keberagamaannya diremehkan karena penampilan yang rasanya sama sekali sangat tidak nyaman.

Selanjutnya, saya menghadapi banyak komentar meremehkan lain dari sesama muslim. Mulai dari kebiasaan saya berteman dengan lawan jenis hingga kebiasaan pulang malam karena kegiatan organisasi dan pekerjaan.

Kebalikan dari masa kecil saya yang menganggap orang berjilbab itu aneh, saya mendapati hal sebaliknya saat dewasa. Justru yang tak berjilbab lah yang mendapatkan peer pressure agar segera ‘hijrah’ dengan berjilbab.

Dalam standar akhwat zaman sekarang, saya adalah muslimah yang serba kurang. Kurang syar’i, kurang kaffah, dan berbagai kritik lain yang tak pernah saya hadapi saat masih kecil hingga remaja.

Saya sempat merasa tertekan. Sebagai orang yang mempelajari berbagai mazhab dan tafsir Qur’an, saya mendapati bahwa tafsiran terhadap bentuk jilbab tersebut sebenarnya sangat bervariasi.

Seorang dosen menyederhanakan keragaman hijab tersebut dengan berkata, “Menutup aurat itu memang wajib di dalam Al Qur’an. Tapi cara menutup aurat itulah yang berbeda sesuai dengan budaya masing-masing. Ada yang berbentuk burqa, chador, gamis, turban, maupun hanya selendang yang menutup sebagian rambut.”

Pernyataan tersebut sangat melegakan kegalauan saya selama ini. Saya tetap berjilbab dengan gaya semula. Saya mencoba untuk mencintai diri sendiri dan menghargai perjalanan jilbab saya sebagai sebuah identitas diri. Bedanya, saya sekarang berhenti menghakimi bentuk jilbab, serta tak pernah mengkritisi mereka yang tak berjilbab.

Jika dulu guru madrasah khawatir saya tak bisa dapat pekerjaan karena berjilbab di ijazah, kini justru banyak pekerjaan yang mewajibkan untuk berjilbab seperti yang dialami oleh para PNS di Gorontalo, Bengkulu, Bone, dan daerah lainnya.

Solidaritas saya muncul ketika menyadari bahwa tekanan pada perempuan bukan hanya soal jilbab. Banyak perempuan yang mengalami tekanan ruang kerja untuk memakai sepatu hak tinggi, make up sedemikian rupa, beralis tebal presisi, bertubuh langsing, berwajah tirus, dan sebagainya.

Di ruang publik, perempuan bisa jadi sosok yang serba salah hanya karena ia perempuan yang tak sesuai ‘standar masyarakat’.

Saya merasa bahwa setiap perempuan bebas menentukan seperti apa ia berpakaian, sesuai dengan keyakinannya. Negara, institusi, sekolah, sampai keluarga mestinya tak ikut campur dengan keputusan individu mengekspresikan keyakinannya saat berpakaian. Perempuan berhak berjilbab, tidak berjilbab, bercadar, memakai celana panjang dan pendek, dan ragam gaya lainnya.

Saya meyakini bahwa Islam punya konsep yang baik soal berbagai hal. Di sisi lain, saya sadar ragam tafsir di dalamnya membuat berbagai konsep soal tubuh dan perempuan juga beragam. Ragam tafsir inilah yang membuat orang awam bingung. Hukum mana yang harus diikuti, jika dalam satu hal jawaban fiqihnya bisa beragam?

Saya merasa bahwa untuk menghadapi persoalan zaman sekarang, dibutuhkan amunisi tambahan untuk menghadapi manusianya – bukan menghadapi agamanya. Terutama mereka yang merasa lebih Islam dari orang Islam lainnya.

Amunisi itu bernama feminisme dan hak asasi manusia.