Pemudik dalam Pusaran Gal Godot

Pemudik dalam Pusaran Gal Godot

Ilustrasi (mungkopas.blogspot.co.id)

Setiap menjelang Lebaran, berita-berita seputar mudik mulai memenuhi beranda media. Aktivitas pulang kampung itu sudah menjadi tradisi yang selalu mendapatkan ruang khusus saban tahun.

Lihatlah bagaimana awak redaksi dengan perkakas liputannya melaporkan secara langsung dari beberapa lokasi. Keluarga saya di Flores yang kerap di depan layar televisi, praktis lebih paham situasi terkini arus mudik di Pulau Jawa ketimbang saya yang menetap di Jawa.

Jauh-jauh hari sebelum gelombang arus mudik, kabarnya pemerintah sudah mengantisipasinya dengan membenahi sarana infrastruktur. Misalnya perbaikan jalan, penambahan moda transportasi, hingga nantinya pengerahan petugas. Pelayanan selama mudik, terutama di Pulau Jawa, seolah mengangkat harkat dan muruah pemerintah di mata publik.

Hasil evaluasi mudik tahun sebelumnya dijadikan acuan untuk peningkatan pelayanan mudik tahun berikutnya. Begitu seterusnya. Alhasil, mudik yang semula identik dengan jubelan dan ketidakteraturan penumpang di stasiun dan terminal mulai berkurang.

Paling mentok kendalanya cuma macet. Ya mau bagaimana lagi, di Jawa kan banyak kelas menengah, banyak yang membawa kendaraan dinas pribadi. Di sisi lain, ketersediaan ruas jalan tidak berbanding lurus. Ah, namanya juga kelas menengah, boleh dong berisik soal macet.

Tapi sayang, narasi di atas tidak berlaku bagi pemudik yang pulang ke kampung halamannya di kawasan timur Indonesia. Gambaran tentang mudik yang menyenangkan belum dirasakan oleh pemudik yang ingin menuju NTT, Maluku, dan beberapa daerah lainnya.

Ketiadaan dukungan sarana transportasi yang memadai memaksa pemudik ini harus kembali bernostalgia dengan kenangan mudik yang suram pada tahun-tahun sebelumnya. Di pelabuhan, para pemudik bahkan harus sikut-sikutan di tangga kapal hanya gegara berebut tempat.

Kondisi ini terjadi lantaran kapasitas ruang kapal tidak cukup menampung jumlah penumpang yang begitu banyaknya. Bagi penumpang yang beruntung bisa menikmati pelayaran dengan ranjang bermatras kelas proletar.

Bagi yang kurang beruntung, terpaksa menghuni lantai lorong serta ruang yang letaknya berada di sekitar pagar pembatas di luar dek. Mau bagaimana lagi? Memang tinggal itu satu-satunya cara agar bisa sampai di kampung halaman.

Kenyataan itu semakin diperparah dengan para calo yang gentayangan menjual tiket di atas harga normal. Penumpang yang tidak kebagian tiket di loket resmi terpaksa membeli dengan harga yang selangit. Jadi, jangan pernah berpikir calo-calo sialan itu sudah lenyap dari dunia urusan tiket.

Jenis manusia ini justru berlindung di balik usaha jasa penyedia layanan tiket yang berstatus legal. Lebih menyedihkan lagi, kejadian-kejadian seperti itu justru luput dari liputan khusus arus mudik Lebaran. Mungkin, masalah kemacetan di Pulau Jawa jauh lebih penting.

Satu orang pemudik asal Pulau Jawa yang terlantar di stasiun atau terminal bus bisa mendapat perhatian yang begitu cetar dari media. Sementara, di sisi lain, ada ribuan pemudik yang memanfaatkan transportasi laut terancam batal mudik gegara kurangnya moda transportasi. Dan, ini biasanya tidak tersentuh media, kecuali media sosial.

Sebagai wilayah dengan kondisi geografis berbentuk gugusan pulau, transportasi laut memang menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat di kawasan timur Indonesia. Keuntungan menggunakan kapal laut adalah mampu mengangkut barang bawaan, meski dalam jumlah besar.

Dan, satu hal penting yang patut dicatat di sini adalah kultur masyarakat lokal yang begitu akrab dengan sesuatu yang berbau laut. Sudah semestinya ada penambahan armada kapal yang signifikan selama mudik untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.

Tahun lalu, bersama ribuan penumpang lainnya, saya terpaksa merayakan Lebaran di tengah laut. Jengkel, sedih, sudah pasti. Pahit memang. Ironisnya, tahun ini kejadian serupa terancam terulang. Masalahnya masih sama seperti tahun lalu. Duh, Tuang ala e… kapan kita punya negara bisa maju?

Kenyataan yang bertolak belakang dari situasi mudik di Pulau Jawa ini mengingatkan saya pada konsep tol laut yang menjadi program prioritas pemerintah. Secara sederhana, konsep ini bertujuan menciptakan sistem kerja distribusi yang efisien.

Caranya adalah memastikan jadwal operasi pelayaran kapal laut yang selama ini belum terkondisikan dengan baik, sehingga suplai logistik – misalnya dari wilayah barat ke timur – bisa terakomodasi.

Mengingat negara ini terdiri banyak pulau, implementasi konsep tol laut diharapkan bisa mendorong tumbuh kembangnya wilayah yang selama ini sulit diaskes, salah satunya mempermudah pengangkutan barang dan juga penumpang dari dan ke kawasan timur Indonesia.

Memang betul, butuh waktu panjang agar tol laut bisa menampakkan hasil yang diharapkan. Tapi plisss… jangan biarkan rakyatmu yang lantang mengucapkan ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’ ini selalu merana tanpa kapal saat mudik Lebaran, Pak…

Jangan pula membiarkan kami baku pukul di pelabuhan hanya karena berebutan di tangga. Masa, dari zaman ‘piye kabare, lek. Jek penak jamanku toh’ sampai zamannya blusukan jadi tren, masalah yang dihadapi pemudik masih itu-itu saja?

Ya soal kapal yang kelebihan muatan, harga tiket selangit gegara calo, penumpang yang menumpuk di pelabuhan, dan terakhir yang paling mengenaskan adalah ancaman batal mudik massal.

Saya bahkan menulis ini di tengah ketidakpastian menunggu kapal tiba, setelah sebelumnya membeli harga tiket yang luar biasa mahal. Bagi saya, ini sama saja menunggu Godot, seperti yang diceritakan dalam naskah klasik karya sastrawan Irlandia, Samuel Beckett.

Naskah berjudul ‘Waiting for Godot’ yang meraih hadiah Nobel pada 1969 tersebut menceritakan kisah Vladimir dan Estragon yang menunggu sosok bernama Godot. Sebuah penantian yang tak jelas, karena mereka tak tahu siapa dan seperti apa sosok Godot.

Kisah menunggu Godot sebetulnya ingin menggambarkan harapan yang tidak kunjung berakhir. Sama halnya dengan perasaan pemudik yang ingin pulang ke timur Indonesia. Selalu penuh harapan untuk bisa tiba di teras rumah, meski diliputi ketidakpastian.

Mungkin, sebentar lagi kapal akan mengangkut saya beserta ribuan penumpang lainnya. Tapi bagaimana dengan Lebaran-lebaran selanjutnya, apakah persoalan pemudik akan sama saja seperti tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya?

Apakah pelayanan memadai untuk pemudik yang ingin pulang ke timur Indonesia hanya menjadi harapan yang tak kunjung berakhir? Jika demikian, setiap tahun, kami akan selalu dirundung perasaan galau. Galau menunggu Godot alias Gal Godot.

Saya tidak sedang memplesetkan Gal Gadot menjadi Gal Godot. Jelas keduanya jauh berbeda. Karier Gal Gadot setelah berperan sebagai Wonder Woman tentunya penuh kepastian. Sedangkan Gal Godot jelas merupakan ketidakpastian.

Dan, satu hal lagi, Gal Gadot adalah idola kaum Adam sedunia. Beauty, brain, and behavior. Gak percuma, mbak Gadot pernah jadi Miss Israel dan mewakili Israel di kontes kecantikan Miss Universe, yang kemudian menyatakan dukungannya kepada tentara Israel untuk menduduki Jalur Gaza dari Palestina.

Lha, kalau Gal Godot apa? Mungkin sejenis mutan…