Pemikiran Pram yang ‘Jleb’ Banget untuk Anak Muda Kekinian

Pemikiran Pram yang ‘Jleb’ Banget untuk Anak Muda Kekinian

Reza Rahardian sebagai Minke (kanan) pada pementasan teater hasil adaptasi novel Pram. (rappler.com)

Pramoedya Ananta Toer adalah Pramoedya Ananta Toer. Begitulah kira-kira ia menggambarkan dirinya. Memilih untuk menjadi diri sendiri, hidup sesuai ideologi yang diyakini.

Bagi Pramoedya, apa yang dilakukannya lahir dari kehendak jiwa yang bebas. Ia hidup tanpa mau didoktrin, diintervensi, atau diperalat. Apalah arti sastrawan, bila hanya duduk manis di atas menara gading permainan kata-kata indah, tanpa melihat dan menyuarakan realitas.

Pram, begitulah dia akrab disapa. Namanya sudah kadung dikenal orang. Sebagai sastrawan cum sejarawan, yang mengusung sastra realisme. Pengarang masterpiece ‘Tetralogi Pulau Buru’ yang termasyhur itu.

Dalam dunia sastra, Pram adalah salah satu pengarang yang produktif, menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Ia pun berkali-kali masuk nominasi peraih nobel sastra.

Namun, baginya, semua itu tidak terlalu penting. Ia tidak suka hidup dalam label atau embel-embel tertentu. Ia mengaku tak pernah memihak ideologi apa pun, meski Orde Baru menudingnya sebagai seorang komunis.

Pram sebetulnya hanya ingin memperjuangkan keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan. Maka, tak jarang, karya-karyanya selalu ditempatkan dalam sudut pandang rakyat kecil dan kaum tertindas.

Barangkali, karena itulah namanya selalu menjadi perbincangan serentak dan diperhitungkan di kancah internasional. Buku-bukunya dibahas di sekolah-sekolah lanjutan di Eropa dan Amerika.

Namun, miris, kala itu kaum intelektual maupun penguasa di negeri sendiri tak habis-habisnya menyoal anutan ideologi. Seorang sastrawan ternama bahkan meributkan itu hingga sekarang. Ia menjadi pemrakarsa penolakan pemberian Ramon Magsaysay Award kepada Pram tahun 1995.

Pram memang selalu berada di pusaran pro dan kontra, bisa juga sebagai paradoks atau konsekuen. Lihat saja, bagaimana hingga akhir hayatnya ia menolak memberi maaf kepada negara yang telah melumpuhkannya, meski permintaan maaf pernah disampaikan oleh seorang Gus Dur sekalipun.

Pram justru tanpa tedeng aling-aling mengutarakan apa yang dirasakan ketika jadi tahanan politik rezim Orba. Haknya sebagai pengarang telah dirampas habis selama 43 tahun. Hampir separuh usianya dihabiskan sebagai tahanan dengan penuh siksaan dan hinaan.

Barangkali dia menulis dengan kemarahan, juga penuh sakit hati. Dengan air mata atau mungkin dengan peluh dan darah selama direpresi di Pulau Buru. Maka, “… Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hukum. Semuanya mesti lewat hukum,” tulisnya.

Keyakinan yang teguh pada prinsip hidup menjadi satu hal penting yang tersirat dan tersurat dari Pram. Pikirannya tidak mudah dipatahkan, meski tubuhnya seringkali dihajar. Tulisan-tulisannya menohok jelas, menghantam kekuasaan.

Begitu kuat pendiriannya bahkan hingga saat-saat sebelum ia menghembuskan nafas terakhir. Ia sempat berujar, “Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang.” Ia wafat pada 30 April 2006.

Nah, pada 6 Februari 2017, pria yang gemar merokok itu seharusnya berulang tahun ke-92. Lantas, kalau ulang tahun memangnya kenapa? Kudu tiup 92 lilin atau tumpengan dengan 92 aneka lauk-pauk, gitu?

Pramoedya Ananta Toer (asmarainjogja.id)
Pramoedya Ananta Toer (asmarainjogja.id)

Begini sayang… Karya-karya Pram tak lekang oleh waktu, dinikmati semua kalangan, mulai dari orang tua sampai anak muda kekinian. Ya betul, mereka yang katanya generasi milenial. Entah beneran suka nyastra atau cuma modus belaka.

Kita tahu, pada masa sekarang, menikmati karya-karya Pram tidak harus sembunyi-sembunyi lagi, beda ketika masa Orba. Anak-anak muda bisa bebas beli bukunya. Online juga bisa, kan generasi milenial. Pram sendiri banyak menyinggung kehidupan anak muda, yang kiranya masih relevan sampai saat ini.

Ia termasuk orang yang tetap yakin kalau masa depan bangsa berada di tangan anak muda. Generasi muda mesti membuat perubahan. Tentu saja, itu tidak terlepas dari ketidakpercayaan beliau terhadap generasi tua yang baginya ‘ikut mendirikan rezim’.

Namun, apa yang dikatakan Pram bisa menjadi sebuah tamparan keras dan serentak bagi generasi muda itu sendiri. Kalau berkaca pada kondisi saat ini, banyak anak muda yang cenderung tidak peka, apatis, terhadap negara atau lingkungan sekitarnya.

Waduh, berat ya, hari gini bicara negara. Nggak anak muda kekinian banget kan? Anak muda sekarang itu sukanya yang seru-seruan aja, gak suka ngomong politik, negara, apalagi perubahan. Ya bebas aja sih, kalau kita hidup di negara orang, tapi kan hidupnya di sini. Kalau, misalnya nih, ada jam malam sampai jam 10, kan kelar gaul lo?!

Pram pasti kecewa kalau tahu. Bukan, bukan karena lo nggak bisa gaul, tapi sikap apatis, egois itu lho. Apalagi zaman sekarang, narsisme sudah menjadi semacam ideologi baru. Semua sibuk sendiri, terutama di media sosial.

Maklum, generasi milenial adalah generasi terpelajar, paham teknologi dan ilmu komunikasi termutakhir. Dunia sudah dalam genggaman. Ya tapi bukankah seorang terpelajar harus berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan? Bagaimana bisa mendapat keadilan, kalau kita sendiri tidak adil?

Gokil, itu khotbah apa kuliah?

Pram sebenarnya menulis soal sejarah dunia yang merupakan sejarah orang muda di dalam buku ‘Anak Semua Bangsa’, buku kedua ‘Tetralogi Pulau Buru’. Jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa.

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.”

Namun, bagaimana reaksi Pram ketika mengetahui kalau ada pemuda – mahasiswa harapan bangsa – punya keberanian saling menghajar satu sama lain? Bahkan sampai memakan korban, hanya karena sebuah ritual formal-formalan menerobos dan meniduri alam. Apakah mereka telah mati rasa?

Seandainya masih hidup, Pram juga akan menyaksikan para mahasiswa bersaing keras hanya demi memperoleh gelar sarjana. Kampus hanya dijadikan ruang formal oleh mereka untuk mendulang ijazah tanpa punya internalisasi terhadap nilai-nilai kehidupan dan kecakapan.

Lalu, dalam kehidupan bermasyarakat kelak, mereka hanya menegaskan apa yang dituliskan beliau, “Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai.”

Lebih parah lagi, kalau ada orang memanfaatkan ilmu pengetahuannya untuk merugikan orang lain. “Bukankah tidak ada yang lebih suci bagi seorang pemuda daripada membela kepentingan bangsanya?”

Ah, barangkali Pram hanya akan tertawa lepas melihat perilaku sebagian anak muda sekarang. Mudah digiring sana-sini tanpa punya prinsip hidup yang jelas. Kan anak muda kekinian tadi sukanya yang seru-seruan aja, yang penting happy. Maka, dunia ini akan indah.

Tapi bukankah, “Indahnya dunia ini jika pemuda masih tahu perjuangan!”

Perjuangan apa? Bikin skripsi? Kan seperti kata Pram sendiri, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Abadi apanya, wong nulis skripsi aja nggak kelar-kelar, abadi status mahasiswamu…

Jleb!