Pelajaran Berharga dari Santiago del Estero

Pelajaran Berharga dari Santiago del Estero

motor.sportku.com

“Sepertinya race malam ini betul-betul menghilangkan kantuk ya bung Matteo,” kata mbak Lucy. Dia lalu melanjutkan, “Sepertinya ini membuat kita tidak percuma untuk begadang.” Race MotoGP di sirkuit Termas de Rio Hondo, Santiago del Estero, Argentina, baru-baru ini, memang menyajikan keseruan. Marc Marquez muncul sebagai juara setelah finish di depan seniornya, Valentino Rossi.

Sejak putaran lap pertama, balapan memang dipimpin Marquez dan Vale. Namun, setelah di lap 10, para pembalap mampir di paddock, Marquez melaju sendiri jauh di depan. Sedangkan Vale disibukkan dengan tiga juniornya, Maverick Vinales, Andrea Dovizioso, dan Andrea Iannone.

Vale terlihat cukup kewalahan menghadapi Maverick. Sedang dua pesaing lainnya juga tak kalah rapat menguntit di belakangnya. Maverick beberapa kali terlihat jumawa memimpin di depan Vale. Hingga akhirnya, saat tersisa dua lap, Maverick tergelincir setelah mencoba menyalip Vale. Satu junior tumbang, mungkin kualat sama Vale.

Banyak orang bilang, “Jangan coba-coba melawan senior, kalo enggak mau tergelincir. Apalagi mencoba mempecundangi senior.” Setidaknya itu pelajaran pertama yang bisa diambil. Tentunya itu terlontar dari orang yang merasa sudah senior.

Duel pun dilanjutkan antara Vale dan dua juniornya yang merupakan duo Ducati. Di beberapa tikungan, Vale masih bisa mempertahankan posisi kedua. Sampai akhirnya, dua juniornya itu mendapat kesempatan untuk menyalip, tidak tanggung-tanggung dua sekaligus. Vale tersingkir ke posisi empat. Dua junior jagoan Ducati sukses mempecundangi ‘The Doctor’, seniornya.

Tapi balapan tidak berhenti di situ. Vale masih di posisi empat, sedangkan posisi dua dan tiga masih ditempati Dovizioso dan Iannone. Vale tidak diam saja tentunya, karena beberapa kali ia mencoba menyusul, namun celah belum juga terbuka. Hingga pada tikungan terakhir sebelum finish, terjadilah kesialan.

Iannone mencoba menyalip Dovizioso di posisi dua. Tapi memang, kalau junior itu selalu terburu-buru dan kurang hati-hati. Alih-alih menyalip Dovizioso, motor Iannone malah menabrak Dovizioso. Motor keduanya tergelincir tepat di tikungan terakhir sebelum finish. Vale pun melenggang aman, mencoba menyusul Marquez. Namun, sungguh malang, Vale tak punya banyak waktu untuk menyusul juniornya yang sudah sampai di garis finish.

Marquez boleh saja juara, tapi bukan berarti dia nggak mengalami kesialan. Marquez akhirnya terpleset waktu mau naik podium. Lagi-lagi, beberapa orang yang mengagung-agungkan senioritas berujar, “Apa coba itu, kalau bukan kualat karena ngelawan Rossi yang seniornya?”

Pelajaran kedua yang bisa diambil dari sini adalah jangan terburu-buru dan gegabah saat berhadapan dengan senior. Tetap harus main cantik dan hati-hati, sekalipun kita sudah pasti mengunggulinya.

Beberapa pelajaran di atas bisa jadi perbendaharaan kita ketika hari ini menghadapi senior di sekolah, kampus, kantor, atau tempat-tempat lainnya. Bukan apa-apa, senioritas memang menjadi momok tersendiri.

Saat SD, kita tentu merasakan bagaimana rasanya dipalakin sama kakak kelas. Walaupun cuma goceng, tetap saja uang itu tak ternilai harganya. Sebab, jajan bukan sekadar beli cilok atau es bombom, melainkan sebuah ritual yang memuaskan batin.

Di SMP juga sama, baru masuk kita sudah di-bully di Masa Orientasi Sekolah (MOS). Yang cewek, rambutnya dikepang begitu rupa. Yang cowok, harus dicukur botak ala tentara yang gagal macho. Belum lagi disuruh bawa ini-itu yang entah namanya amburadul dan kadang-kadang absurd.

Di SMA, tradisi senioritas malah semakin menjadi. MOS makin dipenuhi bentakan-bentakan nyaring. Bahkan untuk kesalahan yang kita tidak tahu. Kadang-kadang malah terlihat hanya sekadar dibuat-buat. Tapi ya kita bisa apa, namanya juga masih jadi junior. Bahkan saat Ospek di kampus atau hari-hari awal bekerja di kantor, tradisi itu masih melekat kuat.

Kita tentu kenal betul dengan pasal keramat. Pasal 1: Senior selalu benar. Pasal 2: Jika senior salah, kembali ke pasal satu. Memang, dalam beberapa kasus, semangat senioritas mencapai level kejumawaannya. Terbukti tiga junior pembalap MotoGP di Santiago del Estero ‘kualat’, karena mempecundangi si senior, Valentino Rossi.

Sekarang kita kembali ke Tanah Air. Coba amati kasus pemecatan Fahri Hamzah dari PKS. Terlepas dari sederet dosanya kepada partai, ulah Fahri selama ini selalu bikin jengkel para seniornya di partai. Beberapa bulan lalu, Fahri berseteru dengan Tifatul Sembiring. Meski Fahri jago berkelit, toh akhirnya tumbang juga.

Mungkin ini bisa jadi pelajaran juga buat para bakal calon gubernur DKI Jakarta, yang saat ini makin panas dan liar tanpa arah. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang menyatakan sudah siap head to head melawan seniornya, Yusril Ihza Mahendra, harus hati-hati. Pelajaran kedua dari Santiago del Estero hendaknya menjadi pegangan. Jangan gegabah, tetap harus main cantik dan hati-hati sekalipun sudah merasa unggul.

Tapi terlepas dari fenomena itu semua, pada akhirnya senior dan junior adalah masalah waktu belaka. Junior hari ini adalah senior kelak di masa yang akan datang. Maka sebaik-baiknya senior adalah mengambil pelajaran saat ia menjadi junior. Sebagaimana kata pepatah, “Pemimpin yang baik adalah bawahan yang baik pada awalnya.”