Pedagang ‘Online’ Juru Selamat Dunia Maya
CEPIKA-CEPIKI

Pedagang ‘Online’ Juru Selamat Dunia Maya

telko.id

Piye kabare, Donald Trump?

Walaupun sindrom pasca pilpres – penyakit yang mendera kita dan sekarang menjangkiti Amerika – di Amerika sana tidak benar-benar reda, tapi pelan-pelan beritanya mulai redup. Di linimasa media sosial saya, pemberitaan soal Donald Trump dan penolakan kepadanya tertutup oleh riuhnya demo demi demo di dalam negeri.

Habis gelap, terbitlah terang; habis musim unfriend, terbitlah musim demo. Ditambah keributan perdebatan yang mengikutinya, tidak salah rasanya kalau bulan November kita tetapkan sebagai Bulan Demo Nasional. Demo 411 dinyinyiri yang kontra karena rusuh, demo 1911 ditertawai yang anti karena sepi. Cuma demo 1811 saja yang bebas celaan. Ada gitu yang berani ngetawain massa yang dipimpin sama Pak Gatot dan Pak Tito?

Belum lagi isu rush money, yang bahkan sampai memaksa calon presiden masa depan Indonesia, idola kita semua, Mas Kokok Dirgantoro menulis status panjang di akun fesbuknya, lalu menutupnya dengan “saya berharap dan meminta dari lubuk hati yang paling dalam….”

Di dunia ini, saya rasa cuma tiga hal yang bisa membuat hati netizen dalam negeri bergetar: Pak Jokowi yang pagi-pagi bikin konferensi pers di tivi, status Mas Kokok yang ditutup dengan “dari lubuk hati yang paling dalam” tadi, dan menerima inbox “apa kabar” dari mantan.

Ajakan untuk melakukan penarikan uang secara massal dari bank itu memang ngehek banget. Ibu Sri Mulyani – mungkin setelah membaca status Mas Kokok – menanggapinya dengan serius. Aparat negara konon juga sedang memburu sekitar 70 akun penyebar ajakan mbobol celengan massal itu.

Saya sendiri tidak terlalu khawatir. Saya percaya ekonomi negara kita akan baik-baik saja, karena di darat kita punya Pablo Putra Benua. Sementara di udara ada Kokok Herdhianto Dirgantoro.

Tinggal di laut aja yang masih lowong. Dan, plis jangan bilang karena Imam Samudera sudah tiada.

Tadi malam saya sempatkan memeriksa alexa.com, situs penyedia data traffic dan ranking situs web di seluruh dunia. Di Amerika, facebook masih duduk di peringkat tiga di bawah google dan yahoo. Twitter, saingan berat facebook beberapa tahun belakangan ini, ada di posisi tujuh. Pantesan orang Amerika masih asyik berdebat satu sama lain. Eh, tapi kita juga masih ding…

Tapi coba bandingkan dengan Indonesia. Di tempat kita, facebook cuma menempati urutan 13. Di atas facebook bertengger google, youtube, dan yahoo, serta situs-situs penyedia berita seperti detik, tribunnews, liputan6, dan kompas. Bahkan kapanlagi yang memberitakan soal artis, berada tepat satu strip di atas facebook. Dua yang menarik adalah tokopedia dan bukalapak yang nyempil di posisi tujuh dan sebelas.

Yoi, situs jokulan online.

Lazada dan elevenia memang ada di urutan 16 dan 20, tapi itu jauh lebih baik daripada twitter yang terperosok jauh di bawah, di posisi 52. Saya rasa ini adalah bukti bahwa di negara kita, belanja jauh lebih penting daripada perdebatan soal pilpres, pilkada, agama, dan sebagainya. Benarlah kata pepatah lama, “Di hadapan situs belanja online, agama semua orang sama.”

Luar biasanya lagi, para pelapak online itu tidak pernah ragu untuk terjun ke kancah pertempuran para keyboard warrior. Di tengah berita tentang salah satu cagub Jakarta, misalnya, di tengah perang komentar, pertumpahan dahak, dan makian-makian yang semakin kasar, ada saja pedagang online yang dengan tenang dan dingin menulis komentar, “Pusing dan tengkuk leher terasa berat dan pegal? Ingat JAMKHO! Solusi turunkan kolesterol dalam satu jam.”

Rasanya seperti berada di tengah desing lemparan batu atau dengung gir gesper tawuran suporter sepak bola atau anak SMA, lalu sayup-sayup mendengar suara, “Cang-ci-men, cang-ci-men, kacang, kuaci, permen. Akua, akua, mijon, mijon.”

Syaraf para pedagang itu sepertinya memang terbuat dari baja. Tentu kita belum lupa dengan Pak Jamal tukang sate yang tetap woles ngipasin dagangannya di tengah ledakan bom dan desing peluru di Sarinah beberapa waktu yang lalu. Pak Jamal yang kemudian mengilhami kita semua untuk membuat tagar #KamiTidakTakut. Para pedagang online itu mungkin mewarisi keberanian Pak Jamal.

Mereka memang tidak bisa mendamaikan dunia, tapi setidaknya mereka menunjukkan pada kita bahwa ada yang lebih penting daripada cuma beradu otot jari di dunia maya.

Di sinilah saya kemudian mau bilang bahwa ajakan rush money itu benar-benar bedebah. Kalau banyak orang – termasuk Mas Kokok – menghitung dampaknya secara matematis terhadap industri perbankan nasional, maka saya berpendapat bahwa yang akan terhantam lebih dulu jelas para pedagang online itu tadi. Lha, mereka kan mengandalkan transferan yang juga online. Kalau tabungan semua orang kosong, terus mereka mau ditransferi apa? Ilmu kanuragan?

Lalu, kalau para pedagang online itu bangkrut semua, maka peringkat alexa media sosial seperti facebook dan twitter akan terangkat lagi. Bisa jadi kembali ke peringkat tiga dan tujuh seperti di Amerika. Dan, itu artinya berita-berita hoax dan perdebatan-perdebatan panjang akan kembali berseliweran di dinding-dinding media sosial seluruh orang Indonesia dan menyesaki hari-hari kita.

Berantem lagi, unfriend lagi, demo lagi. Gitu terus sampai Mas Kokok membelikan kita semua Alphard.

Jadi, kalau bukalapak meminta kepada kita untuk jadi pahlawan bagi jutaan pelapak, saya pikir inilah saatnya kita untuk menuntut hal yang sebaliknya: “Kalau kalian memang benar ada di luar sana, selamatkanlah kami, wahai para pedagang online…”