Lima Tips untuk Mengobati Patah Hati yang Tidak Biasa
CEPIKA-CEPIKI

Lima Tips untuk Mengobati Patah Hati yang Tidak Biasa

Ilustrasi (katforsythe.com)

Hati saya sempat remuk mendengar netizen Indonesia menggemakan tiga tagar berantai, #PatahHatiNasionalJilid2, #MalamPertamaRaisa, #HamishRaisaSatuAtap, hanya karena mengetahui Raisa akhirnya menikah dengan siapa itu nama suaminya?

Saya benar-benar tidak percaya kalau netizen Indonesia yang terkenal tahan banting layaknya Nokia 3310, netizen yang tidak goyah dibanjiri informasi hoax dan tidak tumbang dibuli kalau ketahuan menyebarkannya, bisa secemen itu.

Pertanyaannya sederhana, apa sih yang bisa membuat kita patah hati (dalam kasus Raisa, dia kenal kita aja nggak)? Tidak bisa memiliki – atau merasa memilikinya – , tentu saja. Tapi masak iya, kita gak bisa mengakalinya, move on, dan berdamai dengan diri sendiri?

Dengan perasaan yang berantakan seperti tumpahan bubur kacang ijo, saya bagikan lima tips untuk mengobati patah hati, bahkan mungkin bisa meluruskan kembali janur kuning yang sudah terlanjur melengkung.

1. Mencari kambing hitam

Ini tidak ada kaitannya dengan perayaan Idul Adha, tapi menyalahkan orang lain untuk setiap masalah yang kita hadapi adalah cara yang paling mudah untuk dilakukan.

Caranya pun terhitung sederhana: nyalakan komputer jinjing atau telepon genggam, buka media sosial, lalu tulis status dengan me-mention nama atau akun orang yang mau kita salahkan.

Satu-satunya hal yang rumit dari cara ini adalah memilih orang yang mau kita salahkan, walaupun siapa pun yang kita pilih sebenarnya gak ada pengaruhnya juga.

Pak RT di lingkungan kita boleh saja kita mention, kalau beliau punya akun media sosial. Tapi masalahnya, orang lain belum tentu kenal sama ketua RT kita. Dan, belum tentu juga Pak RT kita itu kenal dengan mantan kita, apalagi sama Raisa dan siapa deh nama suaminya?

Yang paling mudah ya memilih pejabat paling tinggi di negara kita, presiden misalnya. Semua orang mengenal beliau, walaupun beliau belum tentu kenal kita dan mantan kita. Jadi statusnya nanti akan berbunyi, “Pak @Jokowi, mantan saya sudah menikah. Apakah Bapak belum dengar? Apakah Bapak belum lihat? Apa Bapak gak diundang?”

Mudah-mudahan beliau tidak buru-buru membalas dengan berkata, “Syopi, syopi…”

2. Memperbaiki penampilan

Para medioker, seperti kata dosen sastra Pak Maman Mahayana, memang cenderung lari ke media sosial. Apalagi kalau di sana kemudian mereka menyalahkan orang lain. Huh, lemah!

Orang-orang besar, setiap berhadapan dengan masalah, pertama sekali akan mengintrospeksi dirinya sendiri. Dan, saran saya untuk ini: berkaca.

Dengan berkaca, kita akan sadar bahwa di sana ada seseorang yang dari mukanya kelihatan kalau nggak pernah belanja di mal. Lalu bagaimana kita mau bersaing dengan pasangan baru sang mantan? Apalagi suaminya Raisa yang dari wajahnya bukan hanya kelihatan rajin nge-mal, tapi juga kayaknya mampu beli mal sendiri.

Padahal, untuk belanja ke mal, orang gak perlu ganteng-ganteng banget. Yang penting sabar. Sabar nungguin diskon 90%, terus antre berdesak-desakan, terus ngacak-ngacak toko orang. Persis seperti yang dilakukan para social climber di ibu kota beberapa waktu yang lalu.

Kesabaran tentu kita punya, masalahnya, mantan kita sabar juga gak nungguin kita?

Karena itu, memperbaiki penampilan – terutama muka – memang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Minimal mulailah menumbuhkan brewok tipis-tipis. Kalau dari segi DNA kita memang gak ada keturunan brewokan, minyak Firdaus kan masih ada…

3. Menaikkan IQ

Mengubah wajah mungkin sulit, karena itu memang cetakan dari sananya, tapi menaikkan IQ ternyata tidak mustahil. Setelah saya gugling, menaikkan IQ ternyata tidak sesulit yang orang kira.

Secara garis besar, kita cuma butuh mengonsumsi makanan bergizi, tidur secara teratur, dan rajin olahraga. Segampang itu. Yang saya heran, kalau semudah itu menaikkan IQ, kenapa hoax gak ada habis-habisnya?

Tapi saya punya teori lain untuk membantah postulat soal IQ dan hoax itu. Menurut saya, kalau IQ sudah naik, maka orang malah bisa bikin hoax yang lebih canggih. Malah lebih susah dideteksi, apakah yang dikatakan atau disebarkan itu hoax atau bukan?

Misalnya, mengutip status Abangnda Jonru yang katanya sudah menginfaqkan jiwa raganya untuk NKRI, kita juga bisa bilang, “Saya sudah merelakan jiwa dan raga saya untuk membela Raisa.” Masalahnya cuma satu sekarang, Raisa mau gak nerima jiwa dan raga kita?

Atau, sekali lagi mengutip status Abangnda Jonru, kita juga bisa ngaku-ngaku kalau “sejumlah penghulu papan atas Indonesia telah menyatakan bersedia mendampingi saya”.

Sekali lagi, ini kan permainan pikiran, seolah kalau sudah didampingi penghulu papan atas, maka kitalah satu-satunya orang yang berhak menikahi mantan kita. Belum lagi tuduhan tidak langsung, kalau mantan kita dan pasangannya itu dinikahkan oleh penghulu papan bawah.

4. Menerima dengan gagah berani

Kalau menyalahkan orang lain tidak membuahkan hasil, kalau memperbaiki wajah, dan menaikkan IQ juga tidak berdampak apa-apa, maka satu-satunya cara yang tersisa tinggal menerimanya dengan lapang dada.

Kalau kalian suka membaca Roman Tiga Kerajaan, kalian pasti akrab dengan yang namanya Zhuge Liang dan junjungannya, Liu Bei. Banyak yang mengira kalau Zhuge Liang adalah panglima jenius yang selalu menang perang.

Tapi kalau orang teliti, sebenarnya nama beliau menjadi terkenal justru karena bolak-balik berhasil meloloskan diri dari sergapan musuhnya, Cao-Cao.

Kita juga harus bisa belajar dari Zhuge Liang, walaupun gak perlu juga sih membuat patungnya segede gaban di Tuban atau kota mana pun – takutnya nanti malah jadi boros kain buat nutupinnya. Lari bukan kabur, lari adalah pernyataan bahwa kita akan menghadapi musuh lain waktu.

Jadi, begitu mendengar kabar kalau mantan kita akhirnya menikah – dan celakanya ngundang kita ke resepsi kawinannya – , maka segeralah hubungi salah satu stasiun televisi nasional, minta jatah waktu siaran, lalu di sana berteriaklah dengan lantang:

“SAYA TIDAK TAKUT!”

5. Mengepung rumah Isyana

Sebenarnya tips dari saya sudah selesai pada poin keempat dan nama Isyana cuma contoh saja, tapi anggaplah ini bonus. Setidaknya sebagai alternatif yang bisa dipertimbangkan.

Isyana itu mewakili nama salah satu teman perempuan mantan kita, bisa diganti dengan Ratna, Maya, Tumirah, Iswadi, atau Cacachayankkamuhchelallu.

Lalu di mana logikanya yang menikah mantan kita kok yang dikepung rumah temannya, atau yang mau kawin Raisa kok yang dikepung malah rumah Isyana?

Jangan tanya sama saya, tanya sama orang-orang yang mengutuk keras pembantaian etnis Rohingya, lalu ngebet ingin mengepung Candi Borobudur…

  • Guimuzz name

    nice tips gan, ini gua alami jga haha

  • Zakier Al

    Patah hati memang hal yg lumrah, anggap aja itu hal sekilas…. jgn sampai mmerusak segalan.a…