Balada Pasangan Muda ketika Ditanya “Sudah Punya Momongan Belum”

Balada Pasangan Muda ketika Ditanya “Sudah Punya Momongan Belum”

Ilustrasi (StockSnap/pixabay.com)

Hidup sebagai masyarakat Indonesia tidaklah mudah. Tiap hari kita dicekoki cerita maupun opini yang bermacam-macam. Ada yang sifatnya baik. Namun tak jarang sifatnya buruk.

Tentu sebagai masyarakat yang baik, kita harus dituntut memilah dan memilih mana cerita yang patut diresapi atau diratapi. Soal cerita yang diratapi, mungkin saya mau bercerita tentang kisah keluarga.

Saat ini, saya berusia dua puluh delapan tahun. Telah menikah selama dua tahun. Dalam rentang waktu itu, kami belajar bagaimana menjadi keluarga muda seperti yang kami lihat di dunia maya maupun nyata.

Kami berharap dalam rentang waktu tersebut akan menjadi keluarga seutuhnya. Bahagia dan sukses lahir batin. Namun, harapan tak sesuai kenyataan. Ada yang mengganjal dari kata keluarga yang sampai saat ini dirasa kami belum pantas menyandangnya.

Persoalan anak.

Ya, di Indonesia sepasang suami-istri baru akan dianggap keluarga jika telah memiliki anak. Setidaknya, itu paradigma yang berkembang dari kakek-nenek moyang kita hingga saat ini di era milenial.

Tapi paradigma tersebut menjadi pengertian yang baku. Bahwa keluarga adalah ibu dan bapak beserta anak-anaknya. Dan itu ada pengertian keluarga versi KBBI V pada sub yang pertama.

Kadang kami bingung. Apa iya, kami tidak bisa disebut keluarga hanya karena belum memiliki anak? Pertanyaan tersebut muncul dalam benak saya ketika bertemu dengan tetangga bahkan keluarga terdekat di lingkungan kami.

Tentu, kami ingin memiliki anak. Lucu, imut, dan menggemaskan. Impian seluruh keluarga di Indonesia bahkan dunia. Namun, mungkin Tuhan berkehendak lain. Hingga kini, kami memang belum dikaruniai keturunan.

Mulanya kami tak masalah. Toh, kalau takdir mengatakan kami akan diberikan keturunan, Tuhan pun akan campur tangan. Namun, ujaran datang silih berganti. Saya sebagai suami mungkin akan biasa saja. Lain dengan istri. Pertama mungkin biasa, tapi lama-lama cenderung tak biasa.

Istri kadang sering menangis. Menyendiri. Tak tahan dengan ujaran tersebut. Saya sebagai suami hanya bisa menenangkannya.

“Sabar, kalo Tuhan berkehendak, pasti akan dikabulkan.”

Tapi masalahnya kadang orang lain tak mau tahu. Apalagi melihat usia pernikahan kami yang menginjak usia dua tahun.

“Jangan menunda mas, segera punya anak, nanti keburu tua.”

“Kalian gak pernah berusaha? Kok sampe sekarang belum punya keturunan.”

Dua kalimat di atas sering kami dengar. Bahkan berulang-ulang. Saya sih agak maklum. Lha yang ngomong sudah punya anak. Kalau saya marah, lalu meladeni ujaran tersebut, mungkin akan menghabiskan tenaga.

Di era sekarang, memiliki anak tak semudah yang dibayangkan. Ada yang mungkin merasakan waktu yang lebih lama daripada kami. Seorang teman yang lebih senior bercerita bahwa ia harus menunggu lebih dari sepuluh tahun untuk mendapatkan anak.

Tentu dari sepuluh tahun itu, ia menggunakan berbagai cara. Mulai dari konsultasi ke dokter terkenal hingga pengobatan alternatif. Mulai dari mengonsumsi obat-obatan hingga jamu-jamuan. Semua diupayakan demi menghadirkan keturunan.

Ia juga bercerita bahwa upaya tersebut dilakukan demi menghindari cercaan. Ia pun kadang sakit hati, karena telah dianggap ‘mandul’ oleh sebagian teman-temannya. Namun kini, cercaan itu berganti sanjungan. Anggapan tersebut sirna setelah punya anak.

Saya memang belum ada yang sampai mengatakan seperti itu. Kalaupun ada, mungkin saya anggap sebagai angin lalu. Tapi masalahnya, belum tentu semua orang menganggap hal tersebut angin lalu. Bisa jadi malah menjadi angin ribut.

Ya, keributan soal itu bisa menjadi percik kerumitan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Dan itu biasanya malah menjadi sekam dalam biduk rumah tangga.

Proses membuat anak tidaklah mudah. Jangan dipikir cuma enaknya saja. Di sekeliling kami, banyak sepasang suami-istri yang mengalami keguguran. Apapun penyebabnya, tentu bagi yang mengalaminya akan menghadirkan traumatik yang mendalam.

Soal anak, rasanya tak etis di era sekarang untuk menanyakan “sudah punya momongan belum?” Itu sama saja seperti menanyakan “sudah kerja belum?” Basi.

Setiap pasangan tentu mengalami proses yang berbeda. Ada yang dimudahkan begitu nikah, eh satu bulan kemudian hamil, dan selanjutnya lahirlah keturunan. Namun, ada juga yang harus menunggu cukup lama.

Tak elok rasanya, bila menghakimi bahwa pasangan tersebut memiliki riwayat negatif. Tak adil rasanya, bila mencibir bahwa pasangan tersebut memiliki pemikiran yang berbeda.

Namun, sekali lagi, saya bisa menyanggah, tapi kecenderungan masyarakat Indonesia tak pernah salah. Keluarga akan dianggap sebagai keluarga, jika telah memiliki keturunan. Begitu kan?

Lalu sebutan apa yang pantas bagi kami, jika belum memiliki keturunan? Apa iya, kami tak pantas disebut sebagai keluarga?