Parade Masokis

Parade Masokis

Puluhan orang berkerumun di sisi timur halaman Museum Fatahilah, suara cemeti keras terdengar. “Ayo mendekat, jangan takut,” teriak seorang pria yang membawa cemeti besar itu sembari mengibaskan cemetinya ke lantai, menghasilkan suara menggelegar.
Pertunjukan dibuka dengan atraksi seorang anak kecil yang dibungkus menyerupai pocong. Setelah kain putih membungkus tubuh si anak, seutas tali diikatkan ke tubuhnya. Anak itu tak bisa bergerak. Tak cukup, si anak “dikerjain”, diseret-seret, dicambuk, ”digoblok-goblokin” di depan puluhan pasang mata termasuk mata anak kecil lain yang ikut menonton.
Setelah selesai dikerjain, si anak dimasukan ke dalam tudung yang terbungkus kain hitam. Seperti atraksi sulap Houdini, ketika tudung dibuka anak itu sudah terbebaskan. Kain putih terlipat rapih, tali tergulung.
Pertunjukan dilanjutkan, kali ini seorang pria dewasa memadamkan api di dalam mulutnya. Sesekali dia melakukan kesalahan, mungkin disengaja, tampak raut kepanasan dari mukanya.
Lalu pria lainnya yang mungkin berperan sebagai kusir mencambuknya, “Bisa kerja gak? Goblok!” teriak si kusir. “Iya bang, Goblok bang,” sahut si pemakan api tersebut, seperti budak di hadapan majikan kejamnya.
Yang menjahili, yang jadi “korban”, semuanya diperlakukan sama di depan sang kusir. Dicambuki, dicaci-maki. Yang jahil karena kejahilannya, yang sedang beratraksi karena terlihat bodoh dalam melakukan atraksinya.
Dan, puluhan pasang mata yang menyaksikan itu tertawa. Mendengar suara makian dari sang kusir, penonton tertawa. Melihat tubuh dicambuki, penonton tertawa. Menyaksikan aksi-aksi masokis – kesenangan yang berasal dari rasa sakit – tersebut, penonton pun tertawa!
  • thabsyarahil

    Zaman semakin edan ya. Semakin melihat orang lain menderita dan sangat kesakitan, semakin menyenangkan dan terasa puas. #miris