Panduan Praktis Menjadi Penulis pada 2018

Panduan Praktis Menjadi Penulis pada 2018

Ilustrasi (Comfreak/Jonny Lindner/pixabay.com)

Tahun 2017 sudah berlalu dengan menyisakan banyak berita buruk, baik bagi kalangan tertentu – misalnya penulis – maupun masyarakat pada umumnya. Yang lumayan baru ketika Tere Liye turun gunung untuk protes dengan muntab soal pajak profesi penulis.

Intinya adalah royalti yang kecil, susahnya hidup dengan mengandalkan menulis, minat beli yang rendah, dikotomi biner pengetahuan vs hiburan, serta susahnya menjual buku sampai best seller.

Saya akan menanggapi poin-poin tersebut sekaligus menawarkan solusinya. Moga-moga ini bisa membantu para penulis atau mereka yang berniat mulai menulis pada 2018. Yuk kita mulai…

Pahami struktur dunia menulis, lalu perjelas niat

Poin yang ini terkait soal royalti dan susahnya hidup kalau hanya dari menulis. Pertama dan utama, pastikan dengan sejelas-sejelasnya niat menulis itu untuk apa. Apakah murni untuk passion, semi-profesional, atau mau sepenuhnya dijadikan profesi?

Ketiga tahapan itu membutuhkan persiapan dan pendekatan yang berbeda. Kalau untuk renjana dan ekspresi diri, ya sudah, jangan harapkan pendapatan besar dan teratur. Tapi kalau untuk semi-profesi dan profesi, ya beda lagi.

Orang mengira menulis itu gampang, tinggal asal ketik trus jadi best seller deh. Kenyataannya nggak begitu. Menulis termasuk disiplin kompleks multi-kecerdasan yang butuh sepuluh ribu jam untuk jadi ahlinya. Seperti catur, musik, investasi, dan lain-lain.

Ini bukan buat gaya-gayaan, tapi memang begini adanya. Asli, nggak bohong saya. Ini dijelaskan di bukunya Nassim Taleb yang berjudul Black Swan.

Salah satu karakteristik disiplin kompleks adalah distribusi pendapatan ekstrem pada para pelakunya. Ibarat kata, ada beberapa titan dan sisanya adalah ratusan ribu kurcaci.

Kayak Prinsip Pareto yang ekstrem. Saya bukan lagi kejam atau jahat, cuma bicara fakta. Bisa dibaca datanya di The Business of Being an Author: A Survey of Authors Earnings and Contracts. Kalau kurang yakin, bisa lihat penghasilan para pengarang terkaya pada 2017 yang dirilis Forbes, lalu bandingkan dengan penulis ‘biasa’.

Royaltinya setara, tapi penghasilannya bagai langit dan bumi. Memang begitulah struktur ekonominya. Distribusi pola Pareto yang ekstrem.

Ini juga berlaku buat dunia kreatif lain, semisal film. Kalau nggak percaya, bisa nanya sama produser film. Ini seperti di dunia One Piece. Yang best seller adalah yang bertahan hidup di Grand Line. Sisanya tenggelam oleh keganasan kuburan bajak laut ini.

Inilah struktur dan wujud sejati dunia menulis. Makanya niat anda harus amat jelas. Berlayar untuk menikmati angin laut dan berlayar di Grand Line itu lain. Perbedaan level bahayanya ekstrem, maka beda persiapannya juga nggak main-main.

Ingat, tidak ada yang bisa memaksa anda menjadi penulis. Anda bebas memilih. Hidup anda, keputusan anda. Namun, ingatlah bahwa setiap keputusan ada konsekuensinya.

Makanya kita harus paham situasi dengan jelas, baru membuat keputusan dengan jernih. Supaya nggak nyesel pada kemudian hari.

Aspek sosial-komunikasi dari menulis

Dari sini, saya teruskan dengan asumsi mau menulis semi-pro dan pro. Poin berikutnya yaitu soal minat beli yang rendah.

Saya bakal mulai dari aspek esensial dari menulis yang sering luput dari pemahaman. Nulis itu ada aspek komunikasinya. Kayak nyanyi atau ngobrol. Antara karya dan audiensnya harus nyambung. Maksudnya nyampe dan saling paham.

Mau kenalan dan berteman sama siapa

Kalau kita mau nulis itu kayak kita mau kenalan dan berteman. Isi tulisan itulah yang jadi bahan obrolan selama pedekate.

Dan, sebelum mulai ngobrol, kita liat dulu siapa yang kita ajak kenalan. Tentukan dulu target audiensnya dengan jelas. Biar cara ngomong dan isi omongannya jelas, sehingga nyampe ke rekan bicara dan ‘berteman akrab’.

Contohnya, film AADC (pertama) yang berhasil akrab dengan banyak orang. Anak-anak muda. Lalu masyarakat umum, sastrawan, serta kalangan reformator, dengan konteks baru lepas dari Orba.

Isi obrolan dan cara ngobrol selama kenalan

Isi omongan (baca: konten karya) AADC pun disesuaikan dengan semua ‘calon teman’-nya di atas. Dunia remaja yang meliputi persahabatan, masalah keluarga, dan romansa. Lalu peran sastra dan risiko teror serta isolasi sosial dalam melawan Orba.

Isi omongan yang jelas itu disampaikan dengan cara ngomong yang pas juga. Puisi lari ke hutan-nya Rangga, puisi Aku-nya Chairil, musikalisasi puisinya Cinta, pelemparan Molotov ke rumah Rangga, dan lain-lain. Semuanya begitu efektif dan pas.

Makanya dulu AADC sukses besar membangkitkan dunia perfilman Indonesia. Karena AADC sukses berteman akrab dengan banyak orang sesaat setelah Orba.

AADC berhasil menyatukan masalah ‘ringan’ kehidupan remaja dan persoalan ‘serius’, yakni pengetahuan terkait melawan Orba.

Kemudian, menyatukan aspek hiburan dan pengetahuan. Jujur saja, ini zaman audiovisual. Informasi dan pengetahuan harus disampaikan dengan sedemikian rupa supaya audiens tertarik. Ini bukan salah audiens, melainkan soal cara ngobrol atau metode presentasinya.

Pengetahuan bisa disampaikan dengan menarik, kok. Yang penting jelas kita mau kenalan dengan siapa supaya cara ngobrolnya pas, sehingga omongannya nyambung dan jadi akrab.

Misalnya, berbagai persoalan dan kaidah sains dalam manga Dr Stone. Sangat menarik sekaligus informatif. Demografik – ‘calon temannya’ – shonen (remaja lelaki).

Kalau misalnya jago dalam pengetahuan tapi kurang greget dalam presentasi, ya gampang. Solusinya gabung aja dengan yang jago nulis. Bentuk tim kombo.

Semisal, manga Shokugeki no Soma soal masak-memasak itu lo. Ilmu masaknya dari chef Morisaki Yuki. Yang bikin manganya Tsukuda Yuto (penulis) dan Shun Saeki (ilustrator).

Tempat dan tahap membangun kedekatan dengan kenalan

Berikutnya, cara jualan dan promosi. Ini zaman digital. Kini tersedia banyak banget platform untuk menulis. FB, Twitter, Blog, situs pribadi, Wattpad, Kaskus, Elugy, dan sebagainya.

Siapa saja bisa menulis, kalau mau. Digabungkan dengan overpopulasi, munculah ribuan bahkan jutaan konten yang terus menerus diproduksi tiap harinya.

Masalahnya, waktu dan perhatian manusia terbatas. Dari ribuan bahkan jutaan konten itu, cuma segelintir yang dekat dengan seseorang.

Sama aja dengan kita semua. Kita mungkin punya banyak kenalan di dunia digital. Tapi berapa sih yang berhasil bener-bener berkesan dan jadi akrab dengan kita? Pasti nggak begitu banyak.

Untuk jadi akrab dan dekat butuh waktu. Pelan-pelan berinteraksi dan mengenal sifat serta kepribadian. Prosesnya nggak instan. Harus bertahap.

Dalam menulis, bentuknya ya dengan mem-posting secara bertahap di platform daring yang tepat. ‘Calon kenalan’ kita nongkrong di platform daring mana? Di sanalah kita ngobrol (posting).

Setelah memilih tempat ngobrol, bab-bab dalam karya diunggah satu per satu ke platform. Ngobrol secara konsisten. Teratur. Jelas.

Seperti Paman Yusi yang dulu posting bab-bab Raden Mandasia di FB sebelum menerbitkannya. Atau, manga yang diterbitkan per bab di kumcer Shonen Jump sebelum diterbitkan di volume pribadi. Atau, Genta yang mengunggah part-part KTKM di Kaskus sebelum ditawari untuk diterbitkan.

Membangun keakraban itu perlahan. Sedikit demi sedikit. Setelah akrab, jadi ‘ingin terus tahu kabar’ dan ‘terus dekat’. Maka pembaca pun membeli buku dengan sukarela.

Kesimpulan

Demikianlah uraian saya soal panduan praktis menjadi penulis pada 2018. Saya sendiri menyadari hal-hal di atas setelah mencoba beberapa kali. Dulu, saya pernah menerbitkan novel secara indie, tapi gagal. Sepi pembaca.

Ya wajar saja, karena waktu itu saya ‘nggak pintar berteman’. Kikuk. Main labrak. Nggak memperhatikan ‘calon teman’ sehingga ‘isi obrolan’, ‘cara ngobrol’, ‘tempat ngobrol’, dan ‘tahap membangun keakraban’ saya amburadul.

Tapi nggak apa-apa. Orang belajar ada prosesnya. Saya anggap semua itu proses pembelajaran yang berharga. Saya percaya kesuksesan bisa sejalan dengan keselarasan kita dengan manusia lain.

Semoga uraian saya bermanfaat. Semoga para penulis Indonesia sejahtera mulai tahun 2018!