Panduan Menonton Piala Eropa sesuai Syariat selama Ramadhan

Panduan Menonton Piala Eropa sesuai Syariat selama Ramadhan

Benny Rachmadi/kontan.co.id

Bulan Ramadhan kali ini sungguh barokah. Tapi bukan karena Nabilah JKT48 unggah foto pakai jilbab. Bukan pula kawan saya yang konon dicap komunis dan ateis itu ternyata alhamdulillah puasa. Tentunya karena puasa kali ini dihibur oleh pagelaran Piala Eropa 2016 di Prancis. Ya betul, Prancis yang negara sekuler nan romantis itu.

Penggila sepak bola, seperti saya dan mungkin sebagian besar dari kita, jelaslah bahagia. Ada diskusi setiap hari. Para jomblo pun demikian. Mereka bisa melewatkan momen malam minggu ceria tanpa jaim di depan televisi. Jancukkk…! Karena sebaik-baiknya drama adalah apa yang terjadi di stadion, meski kita cuma bisa saksikan dari TV.

Bayangkan, selama fase penyisihan grup ini, kita bisa duduk manis mulai jam 8 sampai 10 malam WIB. Lalu lanjut jam 11 malam sampai 1 pagi dan terakhir jam 2 sampai 4 pagi. Tentunya kita bisa nonton sambil merokok dan ngopi-ngopi. Setelah itu tinggal tidur sampai sebangunnya (bagi yang nggak kuliah atau kerja kantoran). Kalau begini, nikmat mana lagi yang sanggup anda dustakan?

Tapi yang namanya kenikmatan duniawi selalu saja ada godaan. Bagaimana tidak, pertandingan pertama waktunya pas lagi shalat tarawih. Mau tadarusan, eh pertandingan kedua mulai. Giliran sahur, meski makan indomie pake nasi, mata terus menatap kamu layar televisi. Mau shalat shubuh, bantal guling apek sudah manggil-manggil.

Hey setan, katanya ente dibelenggu selama bulan puasa. Kenapa masih pada gentayangan? Ya Allah, lindungi kami dari godaan setan yang terkutuk. Yang setuju ketik 3 kali, sebarkan!

Tapi jujur, godaan yang paling susah dihindari itu waktu lagi khusyuk nonton bola. Kameramen suka iseng menyorot suporter cewek seksi yang berpakaian minim. Iya saya tahu, malem-malem udah nggak puasa. Tapi bagi yang lajang, ini godaan terberat. Jangan sampai moratorium sebulan nonton koleksi 3gp, mp4 (ehm), dicabut! Astaghfirullah…

Apa perlu Satpol PP berangkat ke Prancis dan merazia para wanita yang berpakaian minim itu? Atau, harus front bela-belaan yang pergi berjihad ke Prancis? Daripada sweeping emak-emak warteg? Kan lumayan ke Prancis. Bisa ibadah di negara sekuler plus jalan-jalan. Itu juga kalau lolos pengamanan ketat aparat yang parno serangan ISIS. Dan juga dananya darimanaaaa??

Maka dari itu, demi menjaga ibadah puasa, saya mau kasih tips yang bisa jadi panduan kecil bagaimana caranya menjadi penonton Piala Eropa 2016 yang sesuai syariat Islam. Sebab, meninggalkan perintah-Nya demi menonton bola, itu berdosa. Tapi kalau harus menanggalkan sepak bola, saya tak rela. Jika sepak bola adalah minuman keras, kami rela hidup dalam dunia yang memabukkan.

Jadi, memang perlu ada win-win solution supaya ibadah di bulan Ramadhan ini tetap jalan, nonton bola dengan segala pernak-perniknya juga nggak ketinggalan. Langsung saja kita simak:

1. Taruhan

Taruhan bola identik dengan judi. Ada pertaruhan uang di sana. Judi sudah jelas dilarang agama. Tapi mana bisa penggila bola lepas dari belenggu judi? Mulai dari judi tebak siapa juara, siapa pemenang pertandingan, sampai tebak skor.

Yang terjadi di bulan Ramadhan ini sungguh unik. Untuk penjudi bola kelas receh, kesepakatan dilakukan setelah buka puasa sampai menjelang pertandingan akhir jam 2 pagi. Penyelesaian transaksi juga berlangsung pada jam-jam segitu. Alasannya klasik: Kan kalau malem nggak puasa??

Ya itu keblinger. Mau siang, sore, malam, pagi, ya tetap satu kesatuan bulan Ramadhan. Lalu judi tetaplah judi. Nggak boleh. Apa perlu kita langsung grebek aja? Tunggu dulu… Saya punya cara yang lebih elok. Boleh aja “berjudi”, tapi bagaimana kalau hadiahnya diganti. Tak lagi uang, melainkan diganti dengan ibadah. Apa bisa? Bisa saja.

Sederhananya begini. Kalau lazimnya yang memenangi judi bola akan diganjar dengan uang receh segepok, kali ini bisa kalian ganti: yang kalah wajib mengaji satu juz! Lho, buktinya ada warteg di Bandung yang kasih makanan gratis, kalau pengunjungnya ngaji dulu 2 juz.

Atau, yang menang ditraktir buka puasa. Toh, orang yang memberikan makanan dan minuman buka puasa kepada orang yang berpuasa, bakal diganjar pahala yang sama? Ajib….? Yang menang dikasih buka puasa gratis, yang kalah dapet pahala.

2. I’tikaf

Saat bulan Ramadhan, ada hal yang identik. Selain masyarakat kita menjadi “latah” dan sok religius, ada satu ibadah yang lazim dilakukan, yakni i’tikaf di masjid atau mushola. Biasanya, mereka yang i’tikaf akan beribadah semalam suntuk sampai menjelang sahur. Ada yang baca Al Qur’an sampai wiridan.

Tapi Ramadhan tahun ini kan berbarengan dengan Piala Eropa, sama seperti Piala Dunia 2014 lalu. Apa kalian bisa meninggalkan tontonan yang menggoda begitu saja? Atau, kalian bisa merelakan waktu i’tikaf kalian di masjid? Saya punya solusi agar keduanya bisa tetap jalan.

Kalian bisa memanfaatkan aplikasi livescore. Kalian bisa tetap update skor tanpa perlu menunggu esok pagi. Tentu kalian punya ponsel pintar kan, meski kita nggak pintar-pintar amat. Jangan katakan masih Nokia pisang?

Atau, kalau kalian ingin sedikit repot, bisa memanfaatkan tripod. Tahu tripod kan? Itu loh penyangga kamera. Kan ada yang khusus untuk HP. Nah, kalian bisa memanfaatkan itu. Tak perlu bawa TV ke masjid. Kalian bisa streaming. Tapi ya itu, pastikan HP kalian ada pulsa atau paket internet. Buat yang levelnya paket hemat, pasti akan pikir-pikir. Belum habis mikir, tahunya udah lebaran.

Setidaknya sediakan 1GB per pertandingan. Kalau ndak ada duit, bisa hubungi mas Kokok Dirgantoro. Jangan lupa bawa power bank. Pastikan HP kalian baterainya cukup. Mosok kalian mau pakai listriknya masjid. Ngisin-ngisini, je. Saya jamin, nanti masjid bakalan ramai. Ramai karena kalian bakal diprotes jamaah se-masjid.

3. Begadang

Salah satu kekampretan Piala Eropa adalah pertandingannya yang berlangsung saat sebagian orang di Indonesia tertidur. Main jam 8 malam sampai 4 pagi, je. Ya pasti banyak yang tidur lah. Apalagi besoknya harus kuliah atau kerja. Mana mungkin begadang selama 30 hari demi sepak bola. Bisa sih, tapi setelah itu kita tipes.

Tapi selama Piala Eropa berlangsung, saya menyiasati itu dengan alarm. Lho, ini bukan alarm biasa. Bagi kalian yang punya pacar, manfaatkan pacar kalian untuk jadi alarm bernyawa. Apa guna pacarmu kalau disuruh bangunin sahur aja ndak bisa? Mending jomblo aja kau.

Kalau pacarmu tak bisa kau andalkan untuk membangunkanmu, cari cara lain. Masih berhubungan dengan alarm. Tapi ganti nada alarm-mu menjadi bacaan Surat Yasin. Saya yakin, kalian pasti bangun. Hah serem, je. Mosok kita tidur tiba-tiba ada suara Yasin mengalun di sekitar kamar.

4. Lebaran

Piala Eropa akan berakhir pada tanggal 11 Juli. Itu berarti setelah lebaran yang kira-kira tanggal 6 atau 7. Dan, tanggal 7 akan ada laga semifinal. Mosok kita meninggalkan laga semifinal. Lah ya ndak mungkin, to? Tapi ya mosok kita tidak sholat Idul Fitri. Setahun sekali lho? Makanya harus seimbang.

Tapi kita bisa menikmati semifinal tanpa harus ketinggalan shalat Idul Fitri paginya. Caranya: Ya tidur seharian penuh. Siang sebelum laga berlangsung, kita tidur seharian penuh. Dijamin, saat malam sampai pagi, mata kita bakalan kuat melek. Toh, ada hadits yang berbicara mengenai kemuliaan tidur. Terkait banyak yang mengatakan itu hadits dlaif, tapi tidur lebih baik daripada razia warung, bukan? Tidur lebih mulia daripada omong jorok sana sini, bukan?

Meskipun hukumnya sunnah, tetapi shalat ied adalah sebuah keharusan. Agak kurang sempurna kalau puasa sebulan tanpa sholat ied. Lalu, bagaimana kalau kalian masih merasa mengantuk saat sholat dan ketika sungkeman ke keluarga dan tetangga? Kalian tinggal pakai kacamata hitam. Bilang saja sakit mata.

Sesungguhnya ada banyak cara untuk menyiasati suatu hal. Jangan dibikin repot. Tuhan menciptakan otak agar kita bisa mikir. Bukan untuk nyinyir. Tuhan memberikan akal agar kita mencari solusi. Bukan malah mencari kesalahan orang lain. Sepak bola dan ibadah harus berjalan beriringan. Jangan ada yang kelewat. Tarawih full tapi nonton bola bolong-bolong, ya sayang banget. Nonton bola sebulan penuh tapi tarawih jarang, ha ya masuk neraka kowe, je…