Panduan Menjadi Pendukung Leicester Musim Depan

Panduan Menjadi Pendukung Leicester Musim Depan

thestar.com

Anda punya jersey Leicester City? Saya punya dan asli. Beli dari hasil gajian. Saya beli yang asli, bukan karena tak suka yang KW. Apalagi hendak menjelek-jelekkan yang KW. Tidak. Itu tak lebih karena rasa cinta pada klub ini. Uang yang saya gunakan untuk membeli jersey asli ini bisa jadi turut menyumbang keuangan klub sepak bola tersebut.

Ketika Leicester juara Liga Inggris, saya tak terlalu terbawa euforia. Saya cukup gembira. Uang yang saya sumbang dalam bentuk pembelian jersey turut membantu klub tersebut menjadi juara baru. Saya yakin itu.

Oh ya, saya tak menyisihkan gaji untuk membeli jersey asli Leicester. Tapi menggunakan gaji. Itu dua hal yang berbeda. Jika anda menyisihkan gaji, mendukung klub berarti bukan prioritas. Beda dong. Saya memang meniatkan gaji saya untuk klub yang dilatih kakek-kakek dari Italia tersebut.

Ngomong-ngomong, sudah berapa lama anda mendukung Leicester City? Semoga sudah cukup lama seperti saya. Semoga anda tidak mendukung Leicester menjadi juara sejak pekan kemarin. Tak lebih tak bukan agar Tottenham Hotspur gagal juara. Itu sungguh tindakan memalukan.

Sepak bola adalah sakral. Saya tahu anda berdoa dengan daya berlipat-lipat agar Leicester juara. Tapi, anda tak bisa tetiba mendukung satu klub dengan alasan klise dan banal semacam itu. Maaf saja, saya tak sudi dan tak rela, jika ada pendukung klub lain tiba-tiba ingin Leicester juara dengan alasan semacam itu.

slate.com
slate.com

Apakah anda tahu menjadi pendukung Leicester itu melelahkan? Anda butuh kesabaran ekstra. Anda harus menunggu sekian purnama hingga ‘The Foxes’ juara. Anda masih ingat posisi Leicester saat AADC pertama tayang di bioskop? Oh, anda perlu membuka laman Wikipedia ya?

Baiklah, saya akan bantu jelaskan. Pada musim 2001-2002, Leicester berada di peringkat 20. Degradasi? Tentu saja. Padahal, skuad LCFC musim itu tak buruk-buruk amat. Ada Tim Flowers, Ian Walker, Dennis Wise, Robbie Savage, dan Muzzy Izzet. Itu nama-nama pemain yang lumayan pada masa itu.

Tapi itu dulu. Sekarang? Lihat saja. Banyak penggemar sepak bola memuja-muja klub ini. Seolah-olah klub berlogo serupa Mozilla Firefox ini adalah perusak hegemoni klub papan atas di premier league. Leicester tiba-tiba menjadi simbol harapan bahwa klub-klub kecil bisa juara. Leicester tiba-tiba memantik gairah untuk mendukung klub-klub semenjana. Ini yang saya heran.

Anda perlu tahu bahwa Leicester bukan klub yang gurem-gurem amat. Klub ini memang pernah turun kasta dari premier league ke Divisi Championship. Tapi, itu bukan berarti Leicester klub semenjana. Pemiliknya saja miliuner dari Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha. Ya mungkin memang tak sekaya orang Rusia di London itu. Tapi, tetap saja, Leicester bukan klub miskin. Beda lah dengan Stoke City.

nickobongiorno.wordpress.com
nickobongiorno.wordpress.com

Nah, musim depan followers @LCFC pasti bertambah. Begitu juga di Indonesia. Akan banyak ditemui orang mengenakan seragam Leicester. Akan banyak yang mengaku relawan Leicester, kawan Kokok Leicester, atau apalah itu. Ada pula yang mungkin mengklaim mendukung Leicester sejak Gary Lineker bermain di sana. Ada yang mengklaim paling menjadi suporter Leicester paling beriman. Merasa paling tahu cara mendukung klub ini.

Saya tentu tidak masalah. Siapalah saya berhak melarang-larang orang mendukung Leicester. Namun, perlu diingat juga. Jalan menjadi pendukung Leicester tidaklah mudah. Musim depan Leicester mungkin akan juara, mungkin juga tidak. Mungkin juga tak akan pernah meraih gelar bergengsi lagi dalam waktu singkat. Atau bahkan, bisa saja degradasi. Siapkah anda menunggu lebih lama?

Siapkah anda merasakan apa yang dialami pendukung Blackburn Rovers? Anda harus ingat, tak sedikit orang yang mendukung klub asal Ewood Park itu karena juara premier league 1995. Tapi, sejak itu pula, ‘The Rovers’ tak pernah meraih gelar bergengsi lagi. Entah berapa lama pendukung mereka menunggu. Mungkin lebih lama dari pendukung Liverpool, Arsenal, atau Tottenham.

Menjadi pendukung Leicester bukan tentang membela mereka yang terpinggirkan belaka, seperti tulisan Isidorus Rio Turangga di Voxpop berjudul “Leicester dan Kejayaan Kaum “Subaltern””. Menjadi pendukung klub yang jarang juara semacam ini berarti menempuh jalan sunyi di tengah gemerlapnya sepak bola.