Panduan Lengkap nan Berfaedah saat Nonton FTV

Panduan Lengkap nan Berfaedah saat Nonton FTV

Ilustrasi tayangan FTV (youtube.com/MD Entertainment)

Pada 1995, salah satu televisi swasta melakukan sebuah gebrakan besar yang mengubah dunia pertelevisian Indonesia. Kala itu, mereka melihat bahwa masyarakat sangat jenuh dengan tayangan berita.

Dari situ, tercetus ide untuk membuat sebuah film yang dikhususkan untuk televisi. Itulah cikal bakal FTV yang dikenal sampai saat ini.

Namun, meski ada embel-embel film, bujet yang disediakan untuk FTV tak setinggi film-film layar lebar. Hanya agak lebih mahal dari pembuatan satu episode sinetron.

Dalam perkembangannya, hampir semua televisi kini memiliki tayangan FTV. Meski demikian, stasiun televisi hanya menayangkan FTV dengan genre ini: Kalau tidak reliji, ya romansa. Dan, tak hanya genre saja yang tak jauh beda, isinya pun sesungguhnya beda-beda tipis.

Voxpop.id sebagai salah satu media anti-mainstream kesukaan banyak orang, akan mengungkap apa saja hal yang selalu ada di hatimu dalam sebuah tayangan FTV.

Harapannya bisa menjadi panduan lengkap ketika menonton FTV dan menambah wawasan menghibur Anda semua. Syukur-syukur bisa membuat tayangan FTV sendiri.

Sila disimak…

Judul Bombastis

Seperti media online, judul menjadi sangat penting bagi sebuah tayangan FTV. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa dari judul lah muncul rasa penasaran terhadap alur ceritanya.

Namun, untuk menciptakan judul sebuah tayangan FTV tidak boleh sembarangan. Kita hanya bisa membuat judul FTV dengan dua cara. Cara yang pertama, bikin judul yang betul-betul bikin pusing.

Semisal, “Aku Tak Bisa Mengakui Anakku adalah Anakku”, “Istriku Ternyata Bukan Istriku”, “Aku Harus Terus Awasi Suamiku”, atau “Anakku Anak Suamiku, Tapi Bukan Anakku”.

Pusing? Sama, aing juga. Tapi penasaran!

Lalu, cara yang kedua, bikin judul yang sudah membocorkan hampir seluruh cerita. “Aku Jatuh Cilok Padamu”, “Babysitter yang Tertukar”, “Bengkel Service Patah Hati”, atau “Romansa Cinta di Kandang Bebek”.

Ya, Anda tentu tahu kan FTV-FTV macam itu bagaimana akhir ceritanya? Apapun judulnya, selalu berakhir bahagia. Tidak seperti kisah cintamu. Eeaa…

Gampang Ditebak

Ya, setelah Anda tertarik menonton sebuah FTV karena membaca judulnya, saatnya kini masuk ke dalam cerita yang begitu-begitu saja. Kendati demikian, jika Anda pahami betul, alur cerita dengan tema romansa tentulah berbeda dengan tema relijius.

Dalam FTV tema romansa, cerita selalu tentang kesenjangan sosial. Alurnya seperti ini: seorang sobat miskin pantang menyerah (bisa laki-laki, bisa perempuan) diincar si kaya yang tampaknya angkuh, namun sebenarnya baik hati.

Cara bertemunya bisa dengan berbagai cara. Dalam beberapa episode, si kaya biasanya pergi ke sebuah kampung, karena disuruh ibunya dan tiba-tiba saja bertemu dengan si miskin. Atau, si miskin itu pembantu baru di rumah si kaya. Atau, bisa juga melalui adegan klise ini: nabrak tiang listrik tabrakan.

Si kaya nabrak si miskin, lalu si miskin marah-marah. Si kaya mengagumi paras si miskin dan dari situlah cerita dimulai. Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Ya memangnya apalagi selain pepet terus jangan kasih kendor alias petrus jankador?

Si Kaya kemudian melakukan aktivitas bersama dengan si miskin. Jika si miskin jualan cilok, maka si kaya ikutan jualan cilok. Kalau jual seblak, ikutan jualan seblak. Kalau jualan cinta terus bobo bareng, itu namanya Love for Sale. Sudah masuk ranah film layar lebar, offside nanti.

Yang alur ceritanya jadi pembantu di rumah si kaya juga sama intinya. Lagi nyapu, ketemu. Lagi ngepel, ketemu lagi, ehm. Kalau yang ini klasik banget, tapi berisiko tinggi terutama jika ceritanya si kaya sudah punya pasangan.

Jangan sampai terulang ucapan, “Maksud e opo selama ini koyo ngono kuwi? nyoh! nyoh! nyoh!”

Kalaupun si kaya belum punya pasangan, mirip-mirip juga ceritanya. Maka, sengaja dimunculkan poros ketiga orang ketiga, terutama jika si kaya dan si miskin sudah mulai dekat. Pada akhirnya, orang ketiga berhasil memecah suara membuat konflik.

Namun tetap saja, kita tahu ceritanya bakal berakhir bahagia antara si kaya dan si miskin. Dan, selalu berakhir dengan pelukan yang ditonton oleh seluruh karakter pendukung dalam FTV. Kalau kamu kapan?

Itu untuk tema romansa. Sekarang kita bahas tentang FTV bertema reliji. Tema reliji sebenarnya lebih gampang lagi. Kisahnya bisa tentang kemiskinan, bisa soal kerukunan rumah tangga, bisa juga tentang ayah dan anak. Namun, di balik perbedaan itu, ya sama saja: mengajarkan Anda untuk hidup di jalan yang lurus.

Karakter utamanya adalah seorang yang tak bersyukur dan suka menghalalkan segala cara. Lalu ia punya anggota keluarga (biasanya istri atau suami) yang selalu mengingatkan tentang azab Tuhan.

Tentu saja, karakter utama tak mendengarkannya. Kalau ia mendengarkan nasihat orang, ya tidak ada ceritanya, vrohDan, ia terus hidup sampai suatu hari tertimpa musibah. Simpel.

Nah, ketika itu terjadi, karakter utama hanya dikasih dua pilihan oleh penulis skenario. Kalau dia tidak mati, ya tobat. Kalau dia tobat, anggota keluarganya akan menyambut si karakter utama dengan muka haru sambil mengucap syukur akhirnya kena batunya, kan?.

Kalau dia mati, ya waktu dikubur akan muncul hal-hal aneh. Semisal, jasadnya susah dikubur atau liang kuburnya kebanjiran. Matinya pun juga macam-macam. Misalnya kecolok bulu mata palsu. Lha, ini tema relijiyes atau misteri, sih?

Lagu yang Itu-itu Saja

Sekarang, kita bicara tentang lagu. Karena genrenya berbeda, tentulah FTV reliji dan romansa punya lagu yang berbeda.

Di FTV romansa, lagu-lagu seperti “Suka Sama Kamu” oleh d’Bagindas, “Manusia Sempurna” oleh Yovie and The Nuno, dan lagu “Jangan Ngarep” oleh ST12 tak pernah lewat dalam beberapa scene pepet terus jangan kasih kendor.

Lalu, saat konflik terjadi, maka diputar lagu “Di saat Aku Mencintaimu” oleh Dadali atau “Cinta Tak Mungkin Berhenti” oleh Tangga.

Sementara untuk FTV reliji, pilihan lagunya lebih simpel. Ketika anggota keluarga gagal mengingatkan sang karakter utama, maka lagu yang pas adalah “Astaghfirullah”-nya Syakura.

Lalu, ketika sang karakter utama sudah kena batunya, inilah waktu yang tepat untuk lagu “Tak Sanggup Lagi” oleh Rossa. Tolong, jangan tanya kenapa lagu cinta ini selalu dipakai sebagai ending FTV reliji. Lagipula, memangnya ada yang lebih pas?

Ya kalee, sayang opo kowe krungu Via Vallen atau jaran goyangnya Nella Kharisma.

Ya, jadi begitulah. Harus diakui bahwa FTV adalah tayangan yang berfaedah! Setidaknya, tanpa FTV, tidak akan ada meme FTV di media sosial yang bikin ngaqaq dan bahagia… 🙂

1 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN