Panca Azimat Penangkal Pelecehan di Jalan

Panca Azimat Penangkal Pelecehan di Jalan

inquisitr.com

Guys, pernah gak sih kalian disuitin sama tukang parkir di pinggir jalan? Atau dipanggil ‘kakak’ dan ‘sayang’ oleh orang asing dari sebuah mobil atau motor? Saya sendiri pernah mengalaminya hampir setiap hari. Dan ini sangat mengganggu.

Pengakuan yang saya dapat dari teman-teman bernada serupa. Tak ada yang suka diganggu ataupun dilecehkan ketika sedang berjalan sendirian di jalan atau ruang publik.

Pelecehan di jalan atau catcalling akhir-akhir ini naik ke permukaan. Banyak orang-orang mulai bersuara tentang isu tersebut. Beberapa media di Jakarta mulai mengulas profil komunitas anti-pelecehan jalanan seperti Hollaback! Jakarta. Dan isu ini pun dibawa ke Women’s March Jakarta (WMJ) 4 Maret lalu.

Tapi sebenarnya, pelecehan jalanan sudah ada jauh sebelum itu. Sepanjang ingatan, saya sudah digoda di jalanan sejak SMP. Tentu saat itu kesadaran saya belum sepenuhnya mengerti bahwa apa yang saya alami adalah bentuk pelecehan dan tergolong kekerasan gender.

Kejadian ini berlanjut sampai saya kuliah hingga bekerja di Jakarta. Begitu banyak kejadian, baik yang saya alami maupun teman-teman perempuan alami. Mulai dari disuitin, dipanggil ‘sayang’ atau ‘cantik’ atau ‘seksi’, hingga ditepuk pantat atau dicolek payudaranya oleh manusia berjenis kelamin laki-laki.

Di setiap sisi jalan di Jakarta, pelaku pelecehan seksual bertebaran dan beragam jenisnya. Mulai dari tukang parkir, anak sekolahan, sopir angkot, pengendara mobil, hingga mas-mas berpenampilan necis. Mereka ada di pinggir jalan, di dalam toko baju, di pasar, di stasiun kereta api, ataupun di balik kaca mobil yang diturunkan ketika seorang perempuan berjalan sendirian.

Mereka juga bisa berwujud tukang ojek berseragam yang suka bersiul atau mengklakson dari belakang. Acap kali, saya dipandang dengan tatapan yang tidak menyenangkan oleh pengendara bermotor. Reaksi saya selalu sama: jengkel, kaget, marah, dan terkadang frustrasi.

Kegemasan saya sangat berdasar. Sebagai pejalan kaki yang harus berjuang dengan buruknya trotoar di ibu kota, masak saya harus berhadapan lagi dengan otak-otak mesum semacam itu? Sungguh tidak penting. Tetapi kenyataannya memang demikian.

Perempuan belum mendapatkan keamanan di ruang publik. Keinginan tersebut hampir menyerupai cita-cita yang sungguh mustahil, seperti mengharapkan unicorn bertanduk pelangi menari pada hari ulang tahunmu yang kelima.

Belum lagi jika membaca berbagai opini di media sosial yang menyatakan bahwa catcalling adalah semacam pujian untuk perempuan. Mengapa sih perempuan harus risih dan marah, jika dipanggil ‘cantik’ atau ‘seksi’, itu kan pujian? Begitu dalihnya.

Well, FYI, suitan atau panggilan ‘cantik’ atau ‘sayang’ tidak membuat perempuan merasa terpuji, mabuk kepayang, atau terbang melayang ke langit ketujuh. Mabuk karena Vodka, ya, tapi mabuk oleh celotehan busuk orang asing yang memaksakan dominasi atau kehendaknya terhadap perempuan? Mikir.., jika mampu.

Hasil dari catcalling itu adalah rasa tidak aman, kesal, marah. Seringkali pelaku menertawakan jika korban pelecehan jalanan berteriak. Jika tak diacuhkan, perempuan dipanggil ‘sombong’ (kenal aja enggak!). Yang ada, perasaan kesal karena harus menahan amarah. Kadang muncul pula rasa takut.

Ya, pelecehan di jalanan itu melelahkan, teman… Jiwa maupun raga. Menurut penelitian seorang profesor bernama Laura Beth Nielsen, pelecehan di jalanan berpengaruh secara emosional dan psikologis bagi korban. Banyak responden penelitian Nielsen yang mengubah rute perjalanan, mengganti cara berpakaian, atau tindak-tanduk karena dilecehkan di jalanan. Bukankah mengganggu kenyamanan dan menimbulkan rasa tidak aman bagi orang lain itu keji?

Tapi tenang, saya tidak membenarkan cara-cara kekerasan untuk menghadapi perilaku yang melecehkan itu. Untuk teman-teman perempuan dan kaum minoritas termasuk laki-laki yang pernah dijahili, saya memiliki beberapa saran yang sarat gizi dan asli berdasarkan pengalaman. Berikut lima alias panca azimat yang terbukti ampuh menangkal pelecehan dari orang-orang iseng di jalanan:

1. Berbaliklah, tanyakan pada mereka, ada perlu apa?

Dari pengalaman saya, pelaku pelecehan di jalanan kerap berkelompok atau lebih dari satu orang. Hal ini sebenarnya sudah menunjukkan bahwa tukang melecehkan itu mentalnya jauh lebih kecil dari biji sesawi! Baru-baru ini, saya mempraktikkan jurus berbalik dan menjalin percakapan dengan orang yang menggoda saya di pinggir jalan.

Ketika saya tanya, dia menggeleng saja. Lalu segera saya katakan bahwa saya tidak menyukai jika diperlakukan demikian. Ujung-ujungnya, ya, kami terlibat debat kusir. Pernah juga saya mengomeli polisi yang melontarkan kalimat ofensif saat saya mengikuti Women’s March. Juga beberapa pemuda di jalan dekat tempat tinggal saya dulu.

Memang, tidak semua berujung baik. Jika emosi sudah naik, saya biasanya balas berteriak. Terkadang pelaku bisa super defensif dan ngajak perang urat. Tapi intinya adalah mereka harus tahu bahwa perempuan tidak suka diperlakukan seperti itu.

Melecehkan perempuan di jalanan bukanlah norma. Itu penyakit yang harus dibumihanguskan. Pelaku harus mengetahui apa yang ia lakukan sama sekali salah. Sejauh ini, azimat nomor satu adalah yang paling ampuh. Sekalian bisa mengeluarkan unek-unek dan mendidik mereka bahwa perempuan tidak suka diperlakukan demikian!

2. Berbalik dan lemparkan tatapan galak

Jika segerombol laki-laki bersiul atau memanggilmu ketika melintas, kamu bisa membalikkan badan dengan tiba-tiba. Tatap mata pelaku lurus-lurus selama beberapa detik. Cukup untuk membuat dia tahu bahwa kamu tidak suka diperlakukan demikian. Jangan terlalu lama. Bisa jadi dia salah sangka, lalu GR sendiri.

3. Jangan sekali-kali tersenyum!

Saya teringat percakapan saya dengan seorang teman lelaki tahun lalu. Saya mengeluhkan betapa muak dengan perilaku pelaku pelecehan jalanan yang kerap saya temui di berbagai stasiun di Jakarta. Saya merasa sangat tak nyaman dan tidak aman. Tanggapan teman saya? Dia menyarankan saya untuk bersikap ramah pada mereka. “Tersenyum saja daripada nanti diserang kalau melawan.” Begitu kata teman saya.

Jelas saya tidak terima itu. Perempuan tidak berutang senyum atau sopan-santun apapun terhadap pelaku pelecehan di jalan. Pembelaan lainnya adalah mungkin pelaku hanya ingin bertegur sapa. Masalahnya adalah tegur sapa dilakukan dengan ekspresi mesum dan dekorasi siulan yang mengganggu telinga.

Saya rasa, anak SD saja bisa mengerti perbedaan orang yang tulus ingin bertegursapa dengan yang iseng semata. Lagipula, jika ingin berinteraksi ala adat ketimuran seperti yang diajarkan dalam pelajaran budi pekerti, ada caranya. Bukan dengan bersiul atau menepuk pantat orang!

4. Jangan acungkan jari tengah, abaikan saja

Tak bisa disangkal, setiap kali ada pengendara motor atau tukang parkir yang menggoda saya di pinggir jalan, saya ingin sekali mengacungkan jari tengah dan memaki mereka. Terkadang saya kelepasan, tapi seringkali saya mampu menahan diri.

Untuk sekarang ini, saya mengandalkan azimat nomor satu dan dua, karena dari pengalaman saya lebih ampuh untuk mematikan cengkonek mereka. Cara ini mungkin lebih cocok untuk para nihilis atau yang tidak peduli dengan kehadiran orang lain, atau yang sama sekali malas berurusan dengan mereka. Jangan pakai jari tengah.

Simpan jari tengahmu untuk hal yang lebih berguna. Semisal, untuk mengoles selai cokelat sampai lumer-lumer di roti bakar atau menggosok gigi dengan sirih.

5. Suitin balik, pakai peluit

Cara ini cocok untuk kaum eksperimental yang sekaligus ingin menguji kemampuan bernapas panjang sebelum berpindah ke terompet atau saksofon. Peluit adalah sebuah alat yang patut dicoba untuk membalas kejahilan orang mesum di pinggir jalan. Setiap disuitin, tiuplah peluit itu sekeras-kerasnya. Mereka pasti kaget. Dan jika mereka menertawakanmu, berdoa saja ada lalat got yang masuk ke dalam mulut mereka.

Itulah, panca azimat dari saya. Bila kamu punya pengalaman dan azimat yang lebih ampuh, mari berbagi. Demi kesejahteraan kita di ruang publik. Katakan tidak pada pelecehan di jalan!