Mendukung Orang Kaya Pamer Harta, Bukan Malah Dinyinyirin

Mendukung Orang Kaya Pamer Harta, Bukan Malah Dinyinyirin

Ilustrasi (aliexpress.com)

Raditya Dika sempat mengunggah foto hypercar Koenigsegg CCX yang terparkir di rumah Raffi Ahmad, sambil diberi keterangan, “Main ke rumah kak Raffi lagi. Eh malah ada mobil Koenigsegg, lebih mahal dari Lamborgini Rolls Royce digabung nih.”

Tak lama kemudian, akun resmi Direktorat Jenderal Pajak mengomentari foto dan cuitan Dika. “Tolong bilangin ke Kak Raffi, jika ada penambahan harta di tahun berjalan, jangan lupa laporkan di SPT tahunan ya Kak @radityadika.”

Namun, belakangan, Raffi membantah memiliki mobil mewah asal Swedia seharga Rp 64 miliar tersebut. “Itu mobil orang yang lagi nitip di rumah, gue pakai terus dibilangnya mobil gue. Cuma enggak apa-apa lah, tambah ngetop gue.”

Raffi pun sudah menyambangi kantor Ditjen Pajak (DJP) untuk klarifikasi. Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi pun berkomentar, “Soal mobil sudah jelas, karena Raffi sebagai bintang iklan, dan pemilik mobil ini adalah importir, selama ini belum laku. Nanti kalau laku, saya minta yang membeli tolong laporkan di dalam SPT.”

Begitulah ‘salah satu cara’ DJP di era milenial ketika mengingatkan Wajib Pajak (WP) terkait kewajibannya. Berawal dari cuitan di media sosial yang renyah, hangat, dan ramah, meski memantau harta WP via medsos belum ada di tupoksi.

Padahal ya, cuitan itu tertanggal 5 Agustus 2017, pukul 11:36. Saya tahu persis bahwa Sabtu adalah hari libur di instansi tersebut, karena jajaran pegawai DJP jatah pelayanannya hari Senin sampai Jumat.

Elok sekali adminnya, libur-libur di siang bolong masih menyempatkan diri untuk mengedukasi umat. Saya bertanya-tanya, memang asli lillahi ta’ala atau ternyata ada honor lemburnya, min?

Ngomong-ngomong tentang kewajiban. Manusia memang tempatnya gejala amnesia ringan. Terkadang, kita pun masih perlu diingatkan oleh orang tua atau kekasih untuk sekadar menunaikan kewajiban sholat – saat lantunan adzan dari corong speaker belum kuasa menjewer gendang telinga.

Begitu pula dengan sikap dan perhatian dari salah satu institusi negara kita tercinta. Konon, perhatian adalah kompos bagi suburnya kasih sayang. Saya, kamu, kak Radit, hingga kak Raffi, sebagai WP yang baik tak jarang tersandung batu khilaf saat menyampaikan laporan SPT tahunan secara benar.

Mungkin, untuk melamar jadi admin salah satu akun medsos institusi pajak ada syarat khususnya, yakni harus seorang yang penyayang.

Jujur saja, tiap tahun kita sering khilaf tho dalam menulis tumpukan daftar harta yang mendongkrak status sosial kita pada salah satu lembar laporan SPT tahunan?

Padahal, sebagai warga negara yang baik, demokratis, pancasilais, menjunjung tinggi toleransi dan kebhinnekaan, serta suka teriak-teriak NKRI harga mati, sudah jadi barang fardhu perihal material duniawi musti dilaporkan secara lengkap.

Padahal, dalilnya juga sudah terang tertuang dalam pasal 3 ayat 1 kitab Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP);

“Setiap WP wajib mengisi SPT dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor DJP tempat WP terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.”

Pusing? Sama… Namanya juga bahasa undang-undang.

Kembali lagi soal cuit-cuitan.

Kini, saya agak was-was, tak lagi leluasa seperti biasanya. Coba saudara bayangkan. Tiap kali mau nge-upload konten glamor, rekreasi mingguan, hingga latihan baris-berbaris mobil-mobil saya – demi memasok suntikan hormon like bagi keseimbangan mental dan eksistensi jiwa melalui media sosial – kini serasa dibuntuti malaikat pencatat amal digital.

Bagaimana bila unggahan foto laptop RoG, foto jam Rolex, hingga foto bentangan sawah saya di-capture? Bagaimana bila laporan mingguan rekreasi saya kepada netizen juga dicatat?

Lalu, petugas pajak di garda terdepan akan mengulasnya dengan laporan SPT tahunan, kan nanti jadi hmmm… Kan nanti saya nggak bisa pura-pura miskin lagi.

Misalnya nih, satu buah foto laptop spek dewa akan diulas, kira-kira nilainya Rp 20 juta-an. Padahal, tukune yo kreditan.

Lalu, piknik yang katakanlah memakan jatah 10-15% dari penghasilan bulanan, juga akan dikalkulasi. Bila saya nge-path liburan seminggu sekali, yang sekali nge-trip ditaksir habis Rp 300 ribu-an, maka sebulan bisa menelan Rp 1,2-1,5 juta-an untuk pos piknik. Berarti bisa diprediksi dong potensi digit-digit recehan kita.

Kemudian deretan mobil yang tak sengaja turut menghiasi isi akun. Lha opo ra mumet kalau itu semua dicatet, eee… ternyata kok kagak sinkron babar-blas dengan apa yang tertera dalam SPT.

Njuk begini. Andaikan kita sudah rapi menjaga kelatahan dalam mengekspos diri melalui kanal digital, tapi kalau ada teman kita main dan iseng mengunggah harta, kan kampret…

Padahal lho, laptopnya ya bukan laptop saya alias cuma minjem teman (kreditan pula) agar netizen nganggep saya sebagai seorang gamer level makrifat.

Pikniknya pun aslinya saya juga nggak piknik, cuma nitip fotoin spot yang bagus beserta selembar kertas dengan bumbu ucapan yang ada nama saya, “Haii… Juminten, kapan ke sini bareng? #Farid”, misalnya gitu.

Kan netizen mengira saya sedang nge-trip di sana, sekalian nyepik-nyepik Juminten, ibarat melempar dua ekor burung dengan satu batu. Walau realitanya saya cuma mager kelonan guling di atas ranjang dari pagi hingga sore.

Dan mobil-mobilnya pun, halahhh.. Itu juga milik orang lain kok, saya cuma numpang mejeng foto pura-pura lagi pegang kemudi, atau sedang bersandar di samping pintu dengan pose agak-agak jaim. Sudah hampir mirip sama sales-sales MLM yang senantiasa semangat berteriak salam dahsyat.

Jadi teman-teman fiskus – nama lain dari pegawai pajak – kami kelas menengah super duper yang tergopoh-gopoh menaikki tangga kelas sosial ini sebenarnya tidak sekaya yang bapak-ibu kira.

Terlebih, semua harta-harta yang tadi itu cuma fiksi, lha Instagram saja saya tidak ada kok pak. Punyanya ya Facebook, itu pun untuk nge-share hoax, hihi… Potensi apa yang mau digali dari rakyat jelata macam saya?

Namun, upaya membentuk Fiskus Cyber Army layak untuk jadi pertimbangan, kalau perlu diperbanyak. Lumayan kan kalau bisa menyasar bakul-bakul onlen hingga artis-artis endorse.

Sebab, dalam rutinitas kejenuhan bekerja, tentu kehadiran mereka sangat berarti bagi penyegaran timlin, juga penyegaran target pendapatan negara. Daripada tiap hari nonton pengikut buzzer-buzzer politik pada berisik?

Media sosial memang diciptakan untuk pamer, namun tiap orang memiliki kadar kenorakan yang berbeda-beda. Pak Ken selaku Dirjen Pajak bisa mempertimbangkan pembentukan Fiskus Cyber Army, pak, mumpung mereka belum baca ini lantas memprivasi postingan-postingan hartanya.

Karena itu, kita seharusnya mendukung penuh orang kaya atau yang mengaku-ngaku kaya untuk memamerkan harta mereka. Biar cepat dan mudah terpantau radar. Daripada disembunyikan dan tidak dilaporkan?

Fiskus Cyber Army, siap..?

  • Dedi Kurniawan94

    Kenyataannya memang seperti itu sekarang ini, tidak hanya kalangan artis saja, bahkan tetangga sekarang Saling pamer….

  • Marilyn Zoldick

    Kebanyak artis mach emang kaya gitu cuma bisa pamer harta kekayaan doang..

  • KiosCoding

    Ya sudah kita lihat pada kenyataannya sekarang hehe bukan cuman artis aja ko 😊

  • Nyinyir mah enak gan.. wkwk .. biar dikira anak hits, selalu tau hal baru -_-

  • wkwkw alangkah baiknya bila kita tetap sederhana walau serba ada..