Kebangkitan Nasional: Antara ‘Magnum Opus’ dan ‘Hipster’ Naik Tahta

Istilah librisida mengambil alih semua kosakata soal pemberangusan buku. Ini awalan dari gagalnya memaknai kebangkitan nasional.

Media Aku, Kamu, dan Kita Semua

Kita yang beradu atau justru diadu-adu?

Maka Tertawalah Nietzsche di Alam Baka

Bagaimana Nietzsche tak bahagia? Menyaksikan sekian banyaknya pertunjukan umat manusia yang bernafsu ingin memuaskan syahwat berkuasa.

Hari Buku Nasional yang Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya!

Karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya. Karena setiap aksara membuka jendela dunia. (Efek Rumah Kaca)

Keceriaan Dunia Sophie dan Muramnya Hari Buku Nasional

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.” (Milan Kundera)

Bersiap Merayakan Kebangkitan Anti-Hero!

Anti-hero adalah antitesis dari sebuah hiperealitas atau kelebayan. Banyak orang jatuh cinta kepada sosok ini, persis seperti fenomena ‘Stockholm Syndrome’.

Lemesin Ajah…

Informasi yang begitu deras terkadang menyesatkan dan menimbulkan fitnah. Bisa jadi kita sedang puber teknologi atau menjadi komoditi.

Teman Kokok, Teman Ahok, Teman Khan

Kejayaan juga milik kaum inferior. Asalkan, kalau sudah naik kelas, jangan jadi superior baru yang berperilaku sama.

‘Tidak Ada New York Hari Ini’ dan Hipster Gagal Seksi

Sepertinya pemikiran dan permainan kata-kata Aan Mansyur yang sungguh ajaib dan sangat mengalir mampu menjembatani antara Millennialis, Gen Y, dan Z.

AADC 2: Roman Picisan yang Diselamatkan Sastra

Tanpa sentuhan sastra, AADC 2 tak ada bedanya dengan drama FTV di layar kaca.