Ayolah, Banyak yang Lebih Penting daripada Kebelet Kawin dan Ngurusin Orang Pacaran

Ayolah, Banyak yang Lebih Penting daripada Kebelet Kawin dan Ngurusin Orang Pacaran

Ilustrasi (Ben Rosett/unsplash.com)

Gaes, baca berita tentang anak remaja di Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang ngebet nikah nggak?

Bocah-bocah SMP ini jadi bahan omongan di mana-mana, sampai-sampai anggota DPR juga ikut bersuara. Mereka minta dinikahkan dengan alasan yang bikin melongo: si anak perempuan takut tidur sendirian sejak ibunya meninggal.

Sementara, pihak keluarga bukannya kasih solusi, kan bisa menemani si anak atau mungkin mengajak anak tersebut pindah ke rumah kerabatnya untuk sementara waktu.

Eh, malah minta dispensasi ke Departemen Agama setempat agar bisa menikahkan mereka berdua, yang jelas masih unyu-unyu dan usianya di bawah aturan hukum soal batas minimal usia menikah.

Ini lho, yang kadang bikin heran. Gampang banget para orang tua ngizinin anaknya menikah? Nggak liat umur, kesiapan mental, ekonomi, dan segala macem? Yang dipikirin cuma satu. Senang, karena anaknya udah laku. Ada yang mau ngawinin.

Ya kale laku, dagangan gitu?

Masalah pernikahan dini ini bukan masalah sepele lho, gaes. Bukan sekadar kawin, tercatat di negara, have fun, punya anak, lalu kelar. Nggak lah, menikah lebih dari itu.

Tapi sayangnya, banyak orang tua yang nggak concern tentang bagaimana masa depan anaknya kelak. Mereka lebih concern gimana caranya si anak laku, plus nggak jadi ‘aib’ keluarga kalau sampai jadi perawan tua.

Duh…

Menurut data BPS, setiap tahun, paling tidak lebih dari seperenam anak perempuan yang menikah, dengan rentang usia di bawah 24 tahun. Atau, kalau dikalkulasi ulang ya, ada sekitar 340.000 anak perempuan di bawah umur yang menikah dini setiap tahun.

Bukan angka yang sedikit yak?

Nah, karena ini pula, Indonesia menduduki peringkat ke-7 sebagai negara dengan kasus pernikahan dini tertinggi di dunia. Dunia lho ini, keren kan? Prestasi gitu?

Kalau iya ini prestasi, kenapa juga UNICEF sama WHO sampai bolak-balik menegur pemerintahan kita, karena banyaknya kasus ibu melahirkan, yang rata-rata usianya masih muda alias pelaku pernikahan dini?

Sementara dari UNICEF, ya apalagi kalau bukan ’memperjuangkan’ para bocah cilik ini mendapatkan hak mereka untuk bisa menikmati pendidikan minimal hingga wajib belajar 12 tahun, serta memperoleh kesejahteraan dan kebebasan mereka sebagai bocah.

Sayangnya, akhir-akhir ini, kasus pernikahan dini kembali marak.

Banyak orang tua yang merasa bahwa pernikahan ini sebagai solusi untuk para bocah kencur yang baru tahu apa itu istilah lawan jenis. Alasannya ya nggak jauh-jauh dari “ketimbang mereka pacaran, terus tahu-tahu hamil, kan zina namanya. Jadi, mending dihalalin aja sekalian daripada zina”.

Wadaw…

Jadi inget tempo hari, cuy… Bekasi kebanjiran anak muda yang unyu-unyu lugu, dengan slogan ‘Indonesia Tanpa Pacaran’, yang sebetulnya punya nafas yang sama. Pacaran itu dosa, langsung nikah aja daripada berzina. Duh…

Padahal ada lho, temenku, yang justru jadi semangat datang ke pengajian. Pacarnya yang ngenalin dia ke pengajian tersebut, dan dia dengan senang hati menemani sang kekasih belajar tentang agama. Terus, apa itu juga zina, berdosa?

Ini menikah lho ya, menikah, bukan sekadar legalitas di atas kertas untuk bisa bercinta di mana saja bin kapan saja!

Menikah itu bukan kayak beli kucing di dalam karung, sedapetnya aja. Mau busuk, jelek, cakep, kudisan, kumisan, blepotan, bersih, pengangguran ataupun udah kerja, pokoknya siapa saja, ya terima, yang penting mau menikahi, gitu?

Kalau ternyata yang mau menikahi itu udah punya anak istri, apa iya masih mau inggih-inggih gitu aja buat nerima jadi suami? Memangnya nggak ada pilihan lain? Kepikiran nggak ada hati perempuan lain yang tersakiti? Aihh…

Belum lagi kalau ternyata si laki adalah pengangguran, pemalas, dan ringan tangan. Ya kale, mau gitu seumur hidup jadi sansak, plus jadi tulang punggung keluarga?

Kita lagi ngomongin hidup di era kekinian. Yang lagi kampanye kepikiran nggak sih, apa iya dengan menikah muda itu semua masalah selesai begitu saja? Kalau cuma urusan seks, mungkin.

Tapi gimana soal finansial, apa sudah settle? Mental, apa sudah mature? Kok ya ada pemuda-pemudi yang katanya harapan bangsa dan negara (aihh sedap) yang dipikirin cuma kawin-mawin doang.

Nggak ada keinginan untuk berprestasi, gitu? Atau, belajar lebih banyak lagi. Kok kayaknya yang dimumetin cuma area selangkangan melulu?

Nggak malu sama Raeni, anak tukang becak, masih muda, nggak puyeng mikir nikah, tapi lebih mentingin berprestasi – beasiswa lagi – untuk jenjang yang lebih tinggi?

Ayolah, masa iya cuma bisa mikir sesempit itu, bahwa menikah adalah solusi semua masalah. Bukankah justru menikah itu menambah masalah? Itu kenapa juga butuh kesiapan mental dan finansial.

Bayangkan, menikah muda, tapi belum punya penghasilan atau minim. Lantas, bergantung pada orang tua. Apa nggak kasihan sama orang tua, nambah beban ke mereka yang sudah berumur?

Terus, masalah mental yang masih labil, gampang jelesan, gampang curigaan. Potensi konflik itu lebih besar ketimbang mesra-mesraan-nya, shay…

Di sisi lain, ibu muda yang belum siap secara mental juga berisiko dengan kehamilannya. Entah kehamilan yang bermasalah, kematian pada saat melahirkan, hingga ancaman postpartum depression.

Plus, satu lagi yang jarang orang tahu, perilaku seks di bawah usia 18 tahun berkontribusi besar terhadap ancaman kanker serviks.

Saat ini, menurut WHO, Indonesia adalah negara dengan penderita kanker serviks tertinggi di dunia. Setiap tahun, tak kurang ada 15.000 kasus kanker serviks dan angkanya terus meningkat.

Catatan WHO juga mengungkapkan bahwa paling tidak setiap hari terdapat 40 perempuan yang terkena kanker serviks di negara ini, yang separuh di antaranya meninggal dunia. Setiap hari!

Belum lagi, efek bonus  demografi dari anak-anak hasil pernikahan dini. Ini bonus demografi seringkali menjadi pisau bermata dua.

Para anak muda usia produktif ini jarang sekali mempunyai skill yang memadai. Karena keterbatasan ekonomi, mereka membatasi pendidikan seadanya, semampu para orang tua yang masih muda.

Kenapa nggak pada mikir solusi lain selain menikah? Ya kalau nggak pingin pacaran, nggak usah pacaran. Nggak mau berzina, ya jangan berzina. Simpel tho?

Lagipula, kalau niatnya memang mau zina, nggak usah pake acara pacar-pacaran segala, zina ya zina aja.

Dalam hal ini, orang tua juga punya andil, terutama yang suka melarang-larang anaknya pacaran dengan alasan nanti takut hamil. Alih-alih menjelaskan gimana pacaran yang sehat, ini malah menakut-nakuti.

Pendidikan seks dari orang tua atau guru di sekolah itu penting banget, daripada si anak belajar sendiri? Iya, kalau dari literatur yang bener, kalau dari situs porno?

Generasi muda jangan cuma mikir gimana caranya nggak zina terus nikah muda, gitu lho. Sementara anak-anak muda di luar sana sibuk mengukir prestasi, bersuara lantang demi hajat hidup orang banyak.

Mbok kayak Djamaluddin Adinegoro, yang berangkat ke Eropa pada usia 22 tahun, demi bisa belajar jurnalistik. Masih 22 tahun lho ya, sama unyu-unyunya dengan mereka yang datang ke acara deklarasi tanpa pacaran-pacaran itulah.

Atau, seperti WJS Poerwadarminta, kenal nggak? Makanya jangan cuma (merasa) tahu urusan kawin-mawin. Poerwadarminta adalah Bapak Kamus Indonesia.

Pada usia 20 tahun, beliau sudah mengajar di sekolah dasar, sambil belajar berbagai bahasa: Belanda, Inggris, Prancis, Sansekerta, Melayu, Jerman, Jepang, dan lainnya. Itu demi bisa mengenalkan berbagai bahasa asing kepada kita.

See, masih banyak hal produktif yang bisa dilakukan, ketimbang ngeribetin orang yang pacaran atau nggak. Mumpung masih muda, masih punya banyak kesempatan untuk bisa mengubah dunia lewat prestasi, bukan ribut-ribut ngurusin pribadi orang.

Australia sudah bisa bikin lem buat nyambung luka di kulit manusia segampang nyambung kertas sobek, kok di sini masih saja urusan selangkangan.

Sudah ya, saya mau pacaran dulu…