Orgasme Cepat-cepat di Kereta Cepat

Orgasme Cepat-cepat di Kereta Cepat

Apa jadinya Jakarta-Bandung hanya ditempuh dalam waktu 30 menit? Kalau begitu, selamat tinggal long distance relationship alias LDR. Warga Jakarta yang kangen makan somay bareng pacar, cukup duduk manis dan wuuuuzzzz rasa kangen terlampiaskan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tapi bayar, mosok mau gratisan terus. Bayar apanya? Somay? Ya tiket keretanya Rp 200 ribu untuk sekali jalan, keleus. Mahal? Ya nggak usah pacaran kalau nggak punya modal. #KamiKere

Buat yang kuliah di Bandung, pas kangen masakan mamah di rumah, bisa berangkat pagi naik kereta cepat. Makan siang di Jakarta dan kembali ke Bandung buat kuliah sore. Enak kan? Besoknya naik lagi, besoknya lagi anda bangkrut.

Tapi terlepas dari itu, kereta cepat layaknya kereta peluru di luar negeri memang menakjubkan. Kemungkinan ini bisa meluncur Jakarta-Bandung mulai 2019.

Sekarang ini untuk urusan transportasi, asas cepat-cepat menjadi sebuah keniscayaan sejarah. Mulai dari urusan berburu tiket pesawat promo, naik Uber Taxi dari bandara Soekarno-Hatta, berebutan masuk di commuter line pas jam kantor, sampai mesen Gojek dari Jalan Sudirman, Jakarta, ke Bekasi.

Bukan hanya soal permintaan, tapi pengadaan moda transportasi itu juga diupayakan dengan cepat-cepat. Ambisius? Tidak juga. Segala hal yang bikin kita gondok dengan kemacetan dijamin oleh pemerintah bisa selesai dengan berbagai proyek yang punya nama keren semacam mass rapid transportation (MRT), light rail transit (LRT), dan high speed medium railway (HSR).

Proses konstruksi proyek-proyek itu sekarang, Alhamdulillah, bikin tambah macet. Sampai kapan? Ya sampai selesai tahun 2018-2019. Sabar dikit nggak apa-apa, asal hasilnya nanti memuaskan.

Bagaimana kalau gagal terpuaskan? Jangan pesimis dulu dong. Rupiah saja bisa menguat selama empat bulan terakhir. Banyak orang masih percaya sama ekonomi Indonesia. Yang nggak percaya, ya sudah. Cukup nge-share berita-berita dari situs apa-apalah itu.

Jadi ceritanya Presiden Jokowi sudah groundbreaking pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Kalau ada typo di batu peletakan pertama, ya namanya juga kereta cepat. Nulisnya cepat-cepat. Batunya juga baru angkut dari Gunung Gede. Gitu aja kok nyinyir.

Belum seminggu berlangsung, sudah banyak yang komentar miring. Semuanya memang serba cepat. Ya proyeknya, ya komentarnya. Justru yang paling pertama datang dari Kementerian Perhubungan. Lho?

Pak Menhub Ignasius Jonan tampaknya punya niat yang baik. Dia tak rela izin kereta cepat yang nilai investasinya US$ 5,5 miliar atau setara Rp 78 triliun itu buru-buru diterbitkan. Pak Jonan belum tertarik ikut main cepat-cepatan seperti yang lain.

Sejak semula dicetuskan, banyak yang melihat Pak Jonan tidak dilibatkan banyak proyek tersebut. Perannya cukup minim. Padahal, izin soal transportasi berada di tangannya. Pak Jonan bahkan tidak hadir ketika groundbreaking proyek ini. Ngambek ya pak?

Miniatur Kereta Cepat Jakarta-Bandung (tempochannel.com)
Miniatur Kereta Cepat Jakarta-Bandung (tempochannel.com)

Sedari awal, pihak yang paling semangat menangani proyek ini adalah Ibu Rini Soemarno, menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kepiawaian negosiasi Bu Rini yang pernah menjadi CEO Astra International ini mampu memikat hati BUMN Tiongkok untuk menjadi mitra Indonesia di proyek kereta cepat.

Pak Jonan kemungkinan akhirnya senang. Sebab, Pak Jokowi memutuskan proyek ini tidak menggunakan anggaran negara alias murni proyek bisnis antara BUMN Indonesia dengan BUMN Tiongkok. Ini artinya, jika proyek mangkrak di tengah jalan, maka jadi tanggung jawab masing-masing perusahaan yang terlibat. Meski begitu, nilai proyeknya dibilang kemahalan pula.

Persoalan belum berhenti di situ. DPR khususnya Komisi IV mengaku belum diajak bicara mengenai alih fungsi hutan di sekitar Walini, yang menjadi jalur kereta cepat. DPR menilai analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan belum detail.

Selain membelah hutan di sekitar Jawa Barat, kereta cepat dikabarkan bakal menggusur sekitar komplek strategis lapangan udara (lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta. Lahan komplek lanud yang bakal diserahkan untuk proyek kereta cepat mencapai 49 hektare (ha). Lho kok bisa lebar begitu ya? Bukannya yang dibangun itu rel perlintasan?

Saya pribadi pernah bertanya dengan Pak Bintang Perbowo, direktur utama PT Wijaya Karya Tbk, sebelum groundbreking proyek ini. Bagaimana rencana pengembangan bisnis kereta cepat ini, di luar bisnis transportasi itu sendiri.

Wika sebagai pemimpin konsorsium proyek kereta cepat telah menunjuk konsultan asing kelas dunia yang pernah mengerjakan proyek serupa. Mereka berpikir bagaimana bisa bikin resor dan taman hiburan di sekitar Walini, tapi tidak ‘membunuh’ proyek di sekitarnya.

Lalu, soal petani-petani di sekitar Walini. Ternyata dalam masterplan yang dibuat konsultan asing itu ada pengkajian soal aksi memberi kembali terhadap lingkungan.

Sebagai warga sebuah kota, kita secara tidak langsung ikut ke dalam proses sebuah perubahan. Teman saya yang pesimis pernah bilang, “Gue sebaiknya pindah dulu ke Bali dan balik lagi ke Jakarta saat semua pembangunan ini sudah selesai, sudah rapih.”

Saya sebenarnya nggak sepakat. Ibarat rumah tangga, seharusnya warga sebuah kota juga menikmati jatuh bangun dan pahit manis hidup bersama kota itu sendiri. Kecuali kalau kita memang berperan sebagai turis.

Tapi saya malas ah ngomong soal egoisme warga kota metropolitan. Saya kembali lagi berpikir soal pak Jonan. Dia pernah mempertanyakan apa urgensinya bikin kereta cepat di Jawa, sementara infrastruktur kereta di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua belum punya masterplan yang memadai.

Apakah karena di Jawa ini, orang-orang ingin semuanya dikebut? Seolah-olah ingin orgasme cepat-cepat. Tapi baru mau dikebut, cepat-cepat orang mengerubut. Lagian apa enaknya orgasme cepat-cepat?

Foto: chinadaily.com.cn