Orang Tua Pacar Tak Suka, Bisa-bisa Kamu Masuk Penjara

Orang Tua Pacar Tak Suka, Bisa-bisa Kamu Masuk Penjara

Ilustrasi (Prawny/pixabay.com)

Coba bayangkan ya gaes, setiap hari mengantar jemput dengan tulus, ngingetin makan tiga kali. Hujan badai diterobos, panas terik tak masalah. Ngambek-ngambekan, ketawa-ketawa bareng. Semua dijalani tanpa mengeluh.

Ya namanya juga pacaran. Perjuangan buat deket sama pujaan hati memang gampang-gampang susah. Kalau gampang doang itu namanya bukan pacaran, tapi Tinderan. Geser, jodoh, ngobrol.

Nah, masalah mulai timbul ketika orang tua mulai tahu hubungan kalian dan mereka tidak setuju. Padahal, kalian berdua sudah jelas suka sama suka. Terus, kamu disuruh pulang dan tidak boleh datang-datang lagi. Syedih…

Tidak cukup cuma disuruh pergi dan jangan kembali. Kondisinya sekarang bisa semakin njelimet. Pasalnya, negara mulai ingin ngatur-ngatur hubungan percintaan dua insan. Negara juga memberikan peluang buat orang tua mempidanakan pacar anaknya.

Itu semua tertuang dalam pasal-pasal kesusilaan pada rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), yang berpotensi mengkriminalisasi privasi dan mempersekusi warga negara.

Lebih dari 50.000 orang sudah menandatangani petisi untuk menolak perluasan pasal zina dalam draf RKUHP melalui situs change.org. Tunggal Pawestri adalah salah satu inisiator petisi. Kamu udah tandatangan, belum? Kamu juga bisa jadi korban, lho!

RKUHP yang sekarang dibahas di DPR sudah sepakat bahwa pasal 484 diperluas kepada orang yang belum menikah. Di situ juga dimasukan komponen pihak ketiga yang tercemar sebagai orang tua atau anak.

Perluasan subjek dalam RKUHP inilah yang mengancam kamu-kamu yang lagi pacaran dan tidak disetujui oleh orang tua. Kamu bisa dilaporkan ke polisi dan dipidanakan.

Tidak berlebihan kalau menduga hal ini akan terjadi. Mbak Tunggal di Twitternya memaparkan pengalaman dia dulu pada tahun 2010. Mbak Tunggal bertemu dengan seorang anak berusia 18 tahun. Anak itu mengalami kekerasan psikis dan fisik dari orang tua. Karena apa? Karena pacaran!

Orang tua dari remaja perempuan ingin memisahkan anaknya dengan pacar pilihannya. Orang tua merasa pacar si anak stratanya jauh di bawa mereka. Pas si anak lagi berduaan, mereka digerebek. Nah!

Si anak laki-laki dibawa oleh orang tuanya si perempuan ke kantor polisi. Mereka meminta supaya anak itu ditahan. Si anak perempuan meraung-raung, tidak mau pacarnya ditahan. Lah, mereka sama-sama suka kok.

Pas sampai di kantor polisi, giliran polisinya yang bingung. Tidak ada pasal yang bisa jadi pijakan buat menahan pemuda itu. Akhirnya polisi malah pakai “pasal karet”: Pasal perbuatan tidak menyenangkan.

Kalau RKUHP yang sekarang sedang dibahas itu bisa lolos dan disahkan, polisi memang tidak akan bingung lagi cari pasal. Tapi masalahnya, masa iya kita mau mendukung dan membiarkan model keluarga yang seperti itu?

Kegagalan orang tua dalam berinteraksi dengan anak dan kegagalan penyediaan pendidikan seks yang komprehensif, semuanya cuma dijawab oleh pidana. Seakan-akan dengan begitu semua masalah bisa terselesaikan.

Apa tidak dihitung dampaknya nanti? Belum disahkan saja sudah banyak orang yang secara agresif ikut mengurusi masalah pribadi orang lain.

Dengan disahkannya pasal tersebut, malah bisa membuat orang semakin rajin mengurusi masalah-masalah pribadi yang notabene tidak ada hubungannya sama mereka. Bukan tidak mungkin skema “Asumsi-Ngerumpi-Persekusi” jadi semakin banyak terjadi di negara ini.

Ditolak sama orang tua gebetan saja rasanya sudah sakit banget. Lah ini, sekarang negara malah memberikan payung hukum supaya bisa dibui. Hidup bernegara kok ya gini-gini banget sich?

2 KOMENTAR

  1. Mungkin habis ini penjara penuh… solusinya paling minta dana APBD untuk bangun penjara baru (lumayan ada garapan)… penjara khusus ‘pelaku mesum’ 😑😑😑

TINGGALKAN PESAN