Percayalah, Apa yang Kalian Bayangkan tentang Orang Timur itu Salah

Percayalah, Apa yang Kalian Bayangkan tentang Orang Timur itu Salah

kompas.com

Siapa yang tak gerah dengan stereotip? Bahwa perempuan harus cantik seperti yang dikesalkan Arif Utama dalam tulisannya berjudul “Kamu Tidak Cantik dan Itu Tak Mengapa”. Standar kecantikan dibentuk sedemikian rupa, dari harus berambut panjang, berkulit putih, hingga tinggi semampai.

Siapa pula yang tahan dengan mitos-mitos seperti yang diceritakan oleh Rizpat Anugrah tentang stigma perempuan Sunda dalam artikelnya berjudul “Ini Bukti Perempuan Sunda Tidak Mata Duitan“? Stereotip memang bekerja dengan cara menyederhanakan persoalan, bahwa pelabelan terjadi secara serampangan.

Beta rasa semua orang pernah berhadapan dengan stereotip, terlebih orang Timur yang pernah tinggal lama di tanah Jawa. Memang ada beberapa orang yang memanfaatkan pelabelan orang Timur tersebut, namun beta yakin orang Timur yang merasa terganggu jumlahnya lebih banyak.

Begini, sodara mungkin pernah dengar label ini-itu yang ditempel di jidat orang Timur, semisal orang Timur itu sudah pasti jago main bola? Orang Timur itu suaranya bagus-bagus? Atau, pelabelan yang sudah menyerempet ke hal-hal yang lebih ciyus lagi, misalnya orang Timur itu suka mabuk-mabukan? Orang Timur itu bodoh?

Pelabelan itu tentu tidak relevan, tapi masih berlangsung di tengah masyarakat sampai saat ini. Tentang stigma orang Timur yang suka mabuk, beta sendiri mengalaminya. Beta yang memang hanya doyan kopi kerap dipandang sebagai orang Timur gadungan. Setiap menolak tawaran miras, mereka menunjukkan gestur yang seolah ingin mengatakan, “Orang Timur macam apa ini?”

Ini persis seperti label orang Timur yang suaranya bagus-bagus. Oke, kitorang memang kenal nama-nama seperti Glenn Fredly, Utha Likumahuwa, Edo Kondologit, atau penyanyi-penyanyi kondang lainnya dari Kawasan Timur Indonesia. Pada setiap kompetisi nyanyi dan pencarian bakat, juga selalu ada peserta dari Timur. Faktanya memang tak semua orang Timur itu bersuara merdu bak mendiang Mike Mohede.

Begitu juga dengan anggapan orang Timur itu jago main bola hanya karena di tim nasional selalu ada yang berdarah Timur. Beta punya kerabat yang pernah ditanyai seperti baru saja ketahuan maling jemuran, sebab kakinya tak pernah mau diajak bermain bola. Jangankan bikin gol, ngoper bola yang baik saja butuh bantuan Dewi Fortuna.

Selain itu, suaranya yang lebih menyerupai ayam kawin tentu tak masuk kriteria orang Timur berdasarkan label tadi. Orang Timur macam apa yang tak bisa main bola dan kalau bicara suaranya fals?

Belum lagi yang aneh-aneh. Yang paling sering beta temukan adalah stigma bahwa orang Timur itu garang-garang. Kakak-kakak dan adek-adek pembaca Voxpop pasti pernah mendengar stigma itu, bukan?

Beta punya seorang senior, orang Timur juga, dengan tampang yang kerap ditakuti para junior. Tapi ternyata ia begitu mengagumi Mahatma Gandhi. Ada juga beta punya teman, hitam, keriting, mata merah, tapi tiap kali ngumpul yang keluar dari mulutnya adalah lelucon yang selalu bikin ibu kos marah-marah.

Memang stigma ini berawal dari merajalelanya ‘freeman asal Timur di ibu kota. Beta ingat sebuah anekdot. Begini bunyinya, “Jika orang Timur ke ibu kota, hanya ada dua pekerjaan. Ia akan menjadi penyanyi kafe atau penjaga kafenya.” Padahal, banyak juga yang jadi bos kantoran, dokter, wartawan, sastrawan, sampai debt collector.

Namun, pertanyaan yang lebih menggelitik beta saat ini, apakah benar orang Timur itu garang atau bahkan jahat? Begini, kalau kata orang, seni merepresentasikan kehidupan masyarakatnya. Nah, lirik-lirik lagu Ambon yang populer di Kawasan Timur Indonesia justru menunjukkan sebaliknya.

Bagi bung dan nona yang setidaknya pernah tinggal lama di Maluku, tentu akan paham dengan maksud beta. Bahwa lirik-lirik lagu Ambon ini memutarbalikkan stigma tentang kegarangan orang Timur. Lha bagaimana tidak, lirik pada setiap lagunya sudah seperti remaja tanggung yang uring-uringan karena baru diputusin pacar sampai tak mau makan seminggu. Seorang kawan yang asli Ambon bahkan kesal tiap mendengar lagunya. “Lebay skali, kakak,” katanya.

Misalnya lirik ini:

Beta pung cinta

Tinggi gunung Binaya, anyor (hanyut) ke laut Banda

Sesak Beta pung dada

Dengar beta pung Nona

Su kawin di Belanda

Bayangkan, cintanya setinggi gunung dan kemudian hanyut ke laut, masih untung tidak dijadikan umpan buat mancing cakalang.

Ada juga begini:

Terminal belum fungsi

Katong pung cinta baru resmi

Se mesti pi kase tinggal beta

Aduh Tuhan ee, terminal dibawa-bawa, belum diresmikan pula. Coba bayangkan, seorang dengan tampang garang nyanyi lagu itu sembari menerawang kisah cintanya yang tak kunjung bahagia.

Ada banyak sekali lagu yang liriknya lebih dahsyat. Itu baru lirik lagu yang bercerita tentang putus cinta. Ada juga yang bernuansa kasmaran dan sudah pasti tak kalah spekta. Jangan heran kalau diksi ‘motor matic’ juga ada di lirik lagu Ambon. Serius.

Salah satu artikel di media online menyebutkan bahwa era sekarang lirik-lirik musik EDM lebih nelangsa ketimbang lagu EMO yang selama ini memang terkenal dengan lirik yang putus asa. Kalau saja penulis artikel itu pernah dengar lagu Ambon, rasanya ia akan mempersetankan kedua genre tersebut.

Kalau kata Prof Bambang Sugiharto, seni adalah bagaimana manusia merefleksikan pengalaman. Itu berarti, orang Maluku lebih gampang disebut melankolis ketimbang antagonis. Bukan begitu?

Selain itu, orang Timur juga senang lelucon. Kitorang sudah pasti tahu dengan lelucon khas Papua yang disebut Mop itu. Kebiasaan bercerita lucu ketika sedang kongkow ini yang rasanya menjadi perekat sesama.

Di NTT bahkan beta punya kawan yang leluconnya kerap bernada satire. Misalnya akronim NTT yang sering diganti menjadi ‘Nanti Tuhan Tolong’ sebagai sindiran terhadap ketimpangan sosial yang terjadi.

Lantas di mana letak kegarangan yang sering disebutkan itu?

Percayalah, stereotip tak ubahnya kacamata kuda. Memakainya hanya membuat pandangan menjadi sempit. Tapi, ada satu hal yang paling masuk akal. Bahwa orang Timur itu ngangenin. Itu sudah… 🙂

  • Fanny Fristhika Nila

    Hahahah… Suka bacanya :p. Seger tulisannya mas. Buatku jg, orang timur ga nyeremin kok. Mereka malah asyik dan lucu2. Salah satu iparku juga orang ambon mas.. Dan orangnya kalo udah kumpul keluarga kita, pasti jd lbh heboh dan seru ama joking2 dia 😀