Orang-orang Kota yang Tak Rindu Kampung Halaman

Orang-orang Kota yang Tak Rindu Kampung Halaman

w-dog.net

Arus balik Lebaran sebentar lagi berlalu. Kalian bebas menulis cerita bahagia menempuh perjalanan panjang menembus kemacetan, demi melepas rindu yang membuncah pada orang tua, saudara, teman, atau dedek-dedek gemez tetangga sebelah. Saya tak akan iri.

Sebagai bagian dari keluarga pedagang pasar yang tinggal di tengah Kota Bandung, kami biasa menilai kesuksesan dari angka nominal. Efektif dan efisien dalam keseharian, namun sangat canggung dalam afeksi. Cukup wajar, jika kami tak punya rasa rindu untuk pulang ke kampung halaman.

Kota besar adalah tempat orang tua dan kakek nenek kami bertarung untuk bertahan hidup. Apalagi mereka adalah pendatang dari negeri nun jauh di sana. Tak ada romantisme soal itu. Orang-orang yang terlalu sentimental, saya kira, tak akan sanggup bertahan dalam mekanisme pasar homo homini lupus.

Berbeda dengan di desa. Orang yang paling susah pun masih bisa makan singkong, ubi, dan pisang dari hasil kebun. Kalau bantu-bantu yang punya sawah, bisa kebagian jatah beras. Kalau tinggal dekat sungai atau pantai, bisa memancing. Kalau tinggal dekat hutan, bisa berburu. Di kota besar? Ya tahu sendirilah. Kalau nganggur dan nggak punya uang, pilihannya ya pinjam uang atau kelaparan.

Tapi pinjam uang pasti ada batasnya. Maka, setiap hari, orang-orang yang ingin survive selalu dibekap rasa cemas. Makan bubur untuk mengirit beras. Itu setidaknya cerita kakek-nenek kami. Oh ya, kami termasuk keluarga cukup normal. Tentunya salah satu ukuran normal bagi sebuah keluarga di kota adalah memiliki ibu yang tidak pintar memasak ataupun menata rumah.

Itu sebabnya tak ada kenangan makanan yang dirindukan di rumah. Ya kalaupun ada kenangan, itu makanan di restoran favorit. Beruntung, ayah berpenghasilan cukup baik serta bertanggungjawab, meski selalu bikin stres di meja makan dengan membahas topik ekonomi dan politik.

Kami hanya kurang beruntung? Bisa jadi. Bisa jadi pula sebenarnya kami tidak sendiri. Tak mungkin hanya ibu kami, satu-satunya ibu di dunia ini yang tak pintar memasak. Tak mungkin kami saja yang tidak memamerkan rangkaian pose foto manis di media sosial. Ah, mungkin ini hanya ilusi. Tapi kok rasanya banyak keluarga lain yang menghabiskan waktu main ponsel, bahkan di tengah acara makan bersama.

Kami beruntung bisa survive menjadi kelas menengah perkotaan. Walau bagaimana pun juga, ayah kami tetap rutin mengajak liburan, terutama saat anak-anaknya masih kecil. Tapi ia senang menyusun target harus mengunjungi sekian lokasi dalam sehari. Begitu padat. Berjam-jam di jalan, lebih lama daripada durasi menikmati tempat wisata. Begitu melelahkan. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran sepele sepanjang jalan. Sepertinya beliau kehilangan batas antara perjalanan liburan dengan perjalanan mencari order sebagai sales.

Belasan tahun lalu, saya bertemu belahan jiwa yang menjadi bumi. Tanah tempat saya berakar, tumbuh, dan berbuah. Juga tempat ranting dan batang saya roboh tiap kali habis badai. Memberi nutrisi, tanpa kekang, dan jeruji. Dia tak sempurna, saya pun demikian. Tapi dialah… rumah. Di manapun dia berada, ke sanalah saya pulang.

Seperti juga Kabupaten Karangasem, Bali Timur. Laut yang membawa kami ke sana baru-baru ini. Oh ya, ini sudah kali keenam. Tiga jam perjalanan darat dari Denpasar ke Tulamben. Ditemani musik spa gamelan yang sengaja saya rekam ke dalam flashdisk. Si belahan jiwa mengemudi tak tergesa-gesa. Tak ada angkot ngetem atau rentetan klakson setiap lampu merah beranjak hijau. Waktu serta merta melambat. Ke sanalah kami ‘pulang’.

Tulamben… Desa kecil dengan pantai berbatu, bekas letusan Gunung Agung 50 tahun lalu. Tak ada hamparan pasir. Itu bagus, karena berarti tak akan terlalu ramai oleh anak kecil yang menjerit-jerit sambil bermain pasir, dan gerombolan turis yang berjemur. Hanya ada suara ombak, kutilang, tekukur, dan burung-burung lain yang entah apa namanya.

Kami menginap di salah satu hotel pelopor yang kami temukan dalam buku Lonely Planet. Para staf sudah hafal nama kami. Tak banyak turis lokal yang senang menginap berlama-lama, apalagi rutin datang tiap tahun. Selain menyelam dan berenang, tak banyak yang bisa dilakukan di Tulamben. Tak ada kelab malam. Pun tak ada televisi di dalam kamar. Sepanjang kami di sana, hanya turis bule (dan kami) yang betah berhari-hari berenang dan membaca buku.

Kami bisa meminta kamar kesukaan kami di lantai dua. Dari jendelanya, tiap subuh kami bisa mengintip ke garis cakrawala, menunggu saat yang tepat untuk berlari-lari turun ketika terbit matahari. Setelah itu, kami sarapan sebelum bersiap-siap berenang. Berenang sambil melihat ikan tongkol, kakap, kerapu, pari, barracuda, bahkan hiu dan cumi-cumi. Kami rela bangun sejak pukul 06.30 WITA, karena semakin sore air lautnya semakin keruh dan gelombangnya semakin kuat.

Kau tahu, di Tulamben ada Liberty wreck. Kapal yang karam ditorpedo kapal selam Jepang tahun 1942 itu kini sudah menjadi rumah banyak ikan. Tempat para ikan, pulang… Mungkin kami seperti ikan-ikan itu. Finding a new place that we call home. Rumah yang nyaman, tempat melarikan diri dari kepengapan pertarungan kota. Kami kehilangan sense of home, dan itu meninggalkan ruang hampa yang besar di dalam hati. Segala cara kami akan lakukan, untuk mengisi ruang itu.

Itulah mengapa, banyak orang kota yang membangun vila di bukit-bukit. Tak peduli, jika daerah itu rawan gempa dan longsor. Tapi itu masih mending. Yang paling tragis adalah ketika kami hanya bisa menemukan kenyamanan dalam retail therapy: Kami belanja, maka kami ada.

Di ‘rumah baru’ Tulamben, tak ada jam yang mengejar-ngejar kami. Penanda waktu hanyalah posisi matahari dan suara perut kami. Berenang hingga tubuh meminta berhenti. Mandi, lalu membaca buku dan jatuh tertidur. Bangun ketika matahari hampir tenggelam dan awan menjadi merah. Duduk di pinggir pantai sampai langit berangsur gelap. Kemudian mencari-cari rasi bintang Orion, Scorpio, serta Beruang Besar. Makan malam. Lalu tidur lebih awal.

Ada satu kedai baru yang tak sengaja kami temukan di Amed, sekitar 10 km dari Tulamben. Baru satu tahun berdiri. Parkiran motor ditutup penyangga yang dipenuhi bunga rambat markisa merah. Ada saung-saung lesehan bertiang bambu dan beratap rumbia, dipisahkan jalan setapak dan taman bergaya Bali. Ada pohon mangga dan pepaya, serta pilar batu untuk menyimpan sajen.

Pemiliknya adalah seorang chef perempuan Prancis. Ia pun menemukan ‘rumah’ dan pelabuhan cintanya di Amed dengan seorang nelayan lokal yang tampan dan gagah. Mereka tinggal di belakang, hanya dipisahkan pintu bambu. Saya mengintip ke dalam. Rumah kecil dua lantai bergaya Lombok dengan teras besar di bawahnya. Ada meja makan, seperangkat kursi, dan bunga di meja. Tersusun rapi.

Di sekitar rumah, nampak serumpun pohon kelapa, nangka, sirsak, dan alpukat. Tiga ekor ayam kampung melintas di depan teras sambil sibuk berkokok. Balita perempuan mereka yang tembem, berkejaran dengan kucing peliharaan. Lalu sembunyi di bawah meja, sambil tertawa lebar ke arah kami. Ah… rumah idaman, dalam fantasi siang bolong saya.

Tiba-tiba sesuatu menjalar ke ujung-ujung syaraf. Rasa nyaman. Mata saya basah. I’M HOME… Ya, inilah makna pulang. Buat kami, orang kota yang tak rindu kampung halaman. Home, is where the heart is…