Manfaat dari Kehadiran Orang Ketiga
CEPIKA-CEPIKI

Manfaat dari Kehadiran Orang Ketiga

thedarkhilite.wordpress.com

Kayaknya pilkada khususnya Jakarta mau mulai lagi ya? Dinding fesbuk saya mulai ramai, media sosial panas lagi. Padahal, minggu-minggu kemarin sudah mulai tenang lho. Kayak mau reda gitu. Sempat ramai sebentar waktu Raja Salman datang bawa tangga jalan sendiri dan Pak Ahok walk out dari rapat pleno bareng KPUD. Tapi ternyata gak ramai-ramai amat.

Di tempat saya sih dunia berseri-seri, gak tau kalau di tempat mereka yang mendukung salah satu pasangan calon. Di tempat saya, ibu-ibu sudah kembali ngomongin harga-harga, bukan lagi soal surga dan neraka. Bapak-bapaknya juga rajin kerja lagi. Malah tetangga depan rumah sempat ngajak saya ikut daftar jadi sopir angkutan online.

Grup-grup WA di ponsel saya juga berubah. Teman yang tiba-tiba jadi ahli agama mulai jarang kirim pesan di grup. Kalau gak membahas reuni lagi – yang jadwalnya mundur terus – beberapa teman kembali mengirim pesan panjang ala-ala sup ayam gitu. Chicken soup, maksudnya. Yang gak kuat ngetik, pesannya pendek, kalau bukan kutipan kata-kata orang terkenal biasanya ngasih motivasi. Saya balas singkat saja: “Hati-hati ada yang nantangin tes DNA lho…”

Tapi ada yang nawarin MLM juga di grup. “Kayak Raja Salman aja,” kata teman saya yang lain. Kaya? “Bukan, lama gak ketemu, sekalinya ketemu nawarin investasi…” Lalu yang disindir ngamuk-ngamuk. Ngamuk-ngamuk tapi lucu. Padahal, kalau beneran kaya kan gak apa-apa juga, minimal reuni bisa naik kapal pesiar teman tadi.  Ke Roma atau Paris. Siapa yang gak mau?

Lalu ada yang deg-degan pas nama mantannya muncul di pemberitahuan WA, “mantan is writing…” terus jadi baper, apalagi kalau orang ketiga yang jadi penyebab mereka putus atau gagal jadian juga ada di grup. Padahal, waktu si mantan nikahan, dua-duanya gak diundang. Yang satu takutnya baper lihat mantannya nikah, yang kedua takutnya malah nawarin MLM di kawinan.

Ngomong-ngomong, kalau digabungin, kunjungan Raja Salman sama aksi walk out Pak Ahok di KPUD jadi kayak resepsi mantan ya? Ada yang datang, ada yang salaman, ada yang gak diundang, ada yang diundang tapi gak bisa datang, ada yang telat, ada yang walk out, dan ada yang salah masuk ruangan. Padahal yang resepsi udah bulan madu ke Bali. Pakai nambah tiga hari pula.

Orang ketiga memang ngeselin, tapi kadang ada manfaatnya juga. Raja Salman tadi, misalnya. Lagi tegang-tegangnya pendukung Pak Ahok dan Pak Rizieq, eh, dia datang. Pak Ahok disalami dan Pak Rizieq diundang ke DPR, walaupun akhirnya beliau gak bisa datang karena lagi gak enak badan. Sakit dia kak Ema…

Pak Ahok juga sama. Yang mau ditemui Raja Salman kan Pak Jokowi – buat diprospek – tapi gara-gara salamannya, kita-kita jadi gak tau hasil dari kunjungan sang raja. Beliau ngasih pinjaman apa kita yang invest?

Orang ketiga yang nyebelin, selain orang yang membuat kita jadi punya mantan, adalah orang yang kata ketua KPK akan jadi tersangka ketiga di kasus e-KTP. Tadinya kita kira cuma ada dua tersangka, eh, ternyata nambah. Malah kalau baca berita-berita yang beredar, bukan tidak mungkin akan ada orang keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya. Lha, udah kayak antre bikin e-KTP di kelurahan aja, tapi ini di tempat lain.

Kalau dalam kasus angkutan konvensional versus angkutan online, orang ketiganya justru asyik. Lagi tegang-tegangnya kedua belah pihak – di beberapa tempat sampai terjadi bentrokan – di tempat saya ada orang ketiga yang mengumpulkan sukarelawan untuk jadi tukang ojek gratis. Keren banget. Tugasnya, nganterin anak-anak sekolah yang terlantar karena gak nemu angkot, ke mana pun tujuan mereka. Kecuali yang ke Bangkalan tentu saja, lha ngapain sekolah ‘pp’ Malang-Bangkalan. Gak kurang jauh, Mas?

Gerakan ini bisa jadi lebih keren kalau diperluas: menyediakan jasa ojek gratis untuk orang yang tiba-tiba jomblo, karena diputusin pacarnya dan ditinggalkan begitu saja di jalan. Ojeknya gratis, tapi bahu buat nangisnya bayar. 🙂

Di Jakarta – yang pendukung cagubnya kalau sama-sama masuk surga, surganya minta dipisah – malah muncul dua macam orang ketiga. Yang pertama adalah orang ketiga yang menyediakan jasa menyholatkan jenazah yang diterlantarkan karena alasan beda pilihan cagub. Kayaknya Pilkada Jakarta udah naik level, dari unfriendunfriendan, blokir-blokiran, sekarang gak sholat jenazah-gak sholat jenazahan. Gak keren sama sekali.

Yang kedua adalah Mas Tommy atau Keluarga Cendana yang jadi orang ketiga dalam persaingan Pak Ahok dan Pak Anies jadi gubernur di ibukota. Ini yang bikin media sosial ramai lagi. Yang satu memainkan kartu komunis, satunya lagi buka kartu Orba. Padahal saya sudah sempat kepikiran, kalau fesbuk sepi terus, terus anak sama istrinya Mark Zuckerberg mau dikasih makan apa sama si Mark? Apa Mark saya ajak nyopir angkutan online aja ya?

Buat Pak Anies dan pendukungnya, kehadiran Mas Tommy dan Keluarga Cendana sebagai orang ketiga mungkin membahagiakan, tapi buat Pak Ahok dan teman-temannya, hal itu mungkin malah ngeselin. Atau kebalik? Pendukung Pak Anies malah kesel karena harus repot menjelaskan dukungan Keluarga Cendana, sementara teman Pak Ahok malah bahagia karena nemu bahan buat bikin status di media sosial lagi.

Apapun itu, media sosial jadi ramai lagi. Mark ternyata tidak perlu mendaftar jadi sopir angkutan online atau ikut MLM jadi downline teman saya. Soalnya orang mulai ribut lagi, unfriend-unfriend-an lagi, blokir-blokiran lagi, dan gak sholat jenazah-gak sholat jenazahan lagi.

Oh ya, masih ada satu lagi orang ketiga, namanya Raisa Andriana. 🙂

Waktu Pak Jokowi ketemuan sama Pak Beye, presiden ketemu sama mantannya, eh Raisa malah pamer sepeda. Menguaplah itu semua isi pembicaraan Pak Beye sama Pak Jokowi, mulai dari soal tuduhan menggerakkan massa aksi 212, ikut campur kasusnya Pak Antasari, sampai tudingan penyadapan.

Ada juga sih yang coba membahas batik yang dipakai Pak Jokowi sama Pak Beye, tapi gak viral. Ya gara-gara Raisa pamer sepeda tadi. Tapi untuk yang satu itu, saya rasa semua sepakat gak akan bikin sebel. Ada gitu yang sebel sama Raisa?