Maaf Mahasiswa, Ormas, Agen Perubahan Milik Sopir Ojek ‘Online’

Maaf Mahasiswa, Ormas, Agen Perubahan Milik Sopir Ojek ‘Online’

Ilustrasi ojek online (liputan6.com)

Saya harus membuka tulisan ini dengan meminta maaf kepada Vina Panduwinata terlebih dahulu. Pada awal September, saya sempat menyaksikan Mama Ina di salah satu talkshow soal konser “September Ceria”.

Yang menarik dari wawancara tersebut ketika Mama Ina ditanya tentang alasan menggelar konser tersebut. Semula, saya menduga Mama Ani Ina bakal kasih jawaban yang klise dan tamplate-able, semacam “biar fans-fans bisa bernostalgia” atau lainnya.

Tapi ternyata tidak, Mama Ina punya maksud tersendiri. Konser tersebut juga merupakan sebuah upaya agar orang-orang bisa ceria, setelah dirundung keruwetan pada bulan-bulan sebelumnya. Setidaknya bisa bebas dari kebencian yang diumbar terus-menerus.

Tentu saja maksud dari keruwetan pada bulan-bulan sebelumnya adalah bagaimana intrik demi intrik yang muncul ketika Pilkada DKI Jakarta, Pilkada terpenting sejagat raya. Itulah kenapa konser tersebut diberi tajuk “September Ceria”.

Namun, tak perlu menunggu lama untuk tahu bahwa harapan suci Sang Diva tak lebih seperti ABG yang ngarep balikan setelah membombardir IG mantan dengan like. Bisa dibilang harapan Mama Ina agar orang-orang bisa rehat amblas entah ke mana.

Penebusnya adalah kepungan massa dari pelbagai jenis di kantor LBH Jakarta beberapa waktu lalu. Aksi tersebut sontak menjadi garis start bagi perdebatan ihwal kebangkitan PKI. Jadi, biarkan ‘Mama Burung Camar’ itu merutuki September yang tak pernah ceria.

Yang menjadi persoalan kini bermula dari aksi di LBH Jakarta. Peristiwa yang memicu keruwetan September yang tak pernah ceria ini. Aksi tersebut bukan hanya dilakukan oleh sekelompok massa saja, ada banyak jenis orang yang turut mengambil bagian.

Ada organisasi kemasyarakatan (ormas), mahasiswa, hingga ojek online. Dari ketiga jenis itu punya satu kesamaan: sama-sama korban grup WhatsApp.

Tapi, jika ada yang bertanya dari ketiga jenis massa aksi tersebut, mana yang paling progresif, ya tentu saja jawabannya adalah ojek online! Maaf mahasiswa, maaf ormas. Masa-masa kalian sudah lewat.

Begini, suka atau tidak, para pengojek online adalah potensi besar bagi dunia gerakan masa depan. Lihat saja saat aksi di LBH Jakarta beberapa waktu lalu.

Tak perlu komando resmi seperti ormas atau mahasiswa, para pengojek ini hanya dengan menerima pesan berantai di grup-grup WhatsApp bisa langsung tancap gas mendatangi lokasi demontrasi. Bandingkan dengan aktipis-aktipis mahasiswa yang masih harus mikirin tugas yang belum kelar. Tidak efektif!

Menggerakkan massa seperti ojek online ini efektif dan efisien. Pengojek bisa sekalian nyari penumpang. Ini memangkas tenaga yang kerap pusing memikirkan antara kerja idealis dan kerja menyambung hidup. Sesuatu yang menjadi polemik para pekerja sosial bisa teratasi!

Bayangkan saja, jika para ojek online ini bersatu, lalu membentuk organisasi massa yang ideologis, saya yakin tak harus menunggu hingga ribuan purnama untuk menjadi sebuah massa actie yang besar. Sebuah gerakan progresif revolusioner.

Maka, jangan main-main dengan ojek online, mereka berpotensi mengambil alih tongkat komando agen perubahan dari mahasiswa, ormas, atau apapun itu.

Mereka ini sekali komando langsung ngumpul di lokasi aksi. Nggak perlu itu ketemu di satu titik, lalu nyewa angkutan umum untuk berangkat aksi. Ribet. Biaya tinggi. Membuka peluang bagi bohir-bohir untuk mensponsori aksi, eh?

Semakin hari, jumlah pengendara ojek online kian meningkat. Mitra kerja Gojek sampai bulan Maret 2017 saja sudah mencapai 250.000 orang. Jumlah tersebut tentu masih akan terus bertambah seiring suntikan fulus. Ini belum termasuk kamerad-kamerad di Grab dan Uber.

Untuk urusan mental di lapangan? Ohh… jangan ditanya. Mereka itu sudah terbiasa waspada, dengan begitu mental mereka pun terasah. Bagaimana tidak terasah, kalau tiap nganterin penumpang harus melewati markas musuh bebuyutan: ojek pangkalan.

Beberapa waktu lalu, beredar sebuah video yang menampilkan segerombolan pengojek online yang mendatangi sebuah pangkalan ojek. Di dalam video tersebut, gerombolan ojek online itu terlihat merusak bangunan pangkalan ojek.

Ini membuktikan bahwa solidaritas antar ojek online tak perlu diragukan lagi.

Konflik dengan ojek pangkalan bisa dengan cepat berbalik arah. Namun, memang, belum terideologisasi, kalau meminjam istilah anak-anak gerakan.

Para pengojek online juga sudah punya pengalaman mengokupasi. Jalanan, yang sebelumnya hanya dikuasai oleh angkutan umum, dengan cepat diokupasi para pengojek online. Mereka yang awalnya minoritas tertindas oleh ojek pangkalan, kini berbalik menjadi penguasa.

Ini tentu berguna bagi kerja-kerja pergerakan ke depannya. Lha, kalau mampu merebut kedudukan di jalanan, berarti gampang saja mengambil alih alat produksi. Bukankah kehidupan di jalanan itu keras?

Beberapa kali kita menyaksikan pengendara ojek online yang turut terlibat dalam kejadian di jalanan. Misalnya, ikut membantu membebaskan penyanderaan terhadap ibu dan anaknya di dalam angkot, membubarkan tawuran bocah SMA, bahkan mengawal perjalanan ambulans. Ini membuktikan bahwa ada jiwa heroik dalam diri mereka.

Setelah pergerakan yang efisien, jumlah, mental, dan solidaritas, apa lagi yang dibutuhkan untuk membangun sebuah gerakan? Ya tentu saja, propaganda. Tanpa itu, sebuah gerakan akan mandek.

Joseph Goebbels, pendukung utama Hitler sekaligus menteri propaganda Nazi mengatakan, sebuah kebohongan jika disampaikan berulang-ulang, maka ia akan (dianggap) menjadi kebenaran.

Dari ucapan tersebut, terlepas apakah kebohongan atau tidak, inti propaganda adalah harus dilakukan secara terus-menerus. Dalam hal ini, rasanya ojek online punya kesempatan besar.

Begini, dibandingkan dengan sopir transportasi umum, hanya pengendara angkutan online-lah yang memiliki kesempatan berinteraksi dengan penumpang. Itu bisa dijadikan kesempatan dalam melancarkan propaganda.

Ambil contoh, seorang pegawai swasta yang menggunakan ojek online untuk berangkat maupun pulang kerja. Otomatis, dia sudah melakukan interaksi dengan dua pengendara ojek online. Bayangkan, selama sebulan ia sudah berinteraksi dengan berapa pengendara? 60!

Bayangkan lagi, dari 60 pengendara itu, semuanya melancarkan isu-isu pergerakan selama mengantar si penumpang. Rasanya tak perlu sampai sebulan untuk bisa mengubah pemikiran si penumpang.

Itu dari sisi penumpang, bagaimana dengan pengendara ojek online? Wah, lebih dahsyat lagi. Paling tidak ada belasan orang yang diantar oleh satu pengendara dalam sehari. Dari belasan itu, tak perlu semuanya, separuhnya saja mengafirmasi isu-isu yang dilontarkan si pengendara sudah bagus. Revolusi datang lebih cepat, Kamerad!

Tentu ini bukan main-main. Kejadian-kejadian seperti itu bukan berarti tidak pernah terjadi. Saya yakin sebagian dari anda yang membaca tulisan ini pasti pernah diajak ngobrol oleh pengendara ojek online tentang isu-isu yang sedang ramai, kan?

Jadi, semoga sekarang jelas bagi kita semua, terutama kawan-kawan aktivis pergerakan, agar segera merangkul para pengendara ojek online sebelum mereka direbut politisi busuk. Sebab pengendara ojek online adalah kita. Mereka adalah koentji. Salam lima bintang!

  • Ade Komara

    Di bawah flyover MRT Blok M
    Saya (Driver OJOL) : Udah kelihatan fisik nya nih MRT….
    Customer : Pencitraan bang buat pemilu
    Saya : Kalau pencitraan biasanya diakhir ,deket deket pemilu,ini dari awal pak
    Customer : Iya api kan dari hutang,dan hutang makin banyak
    Saya : Emang ada pak negara gak punya hutang,emang ada pak presiden RI yang
    yang gak berhutang,kalau buat yg produktif dan gak di korupsi gak apa apa.
    Customer : ………….

    • Raihan Lubis

      mantap kali ah OJOL-nya. Suka saiiaaa

    • Siska Widayati

      Mantap bang pencerahannya

  • Kevin Kurnia

    Waini… haha…