Ode untuk Mas Leo dan “Selebtweet”

Ode untuk Mas Leo dan “Selebtweet”

Teman saya penggila film Hollywood hanya tersenyum kecut, ketika nama Leonardo DiCaprio kembali masuk nominasi piala Oscar 2016. Leonardo DiCaprio memang sering masuk nominasi, tapi entah kenapa tak satu pun piala Oscar disabetnya. Sabar ya mas Leo.

Kalaupun menang tahun ini, pasti orang juga akan tersenyum kecut, lalu berkata, “Akhirnya.” Tentu ada juga orang yang sinis, lalu bilang, “Kasihan lah, mosok sudah berkali-kali masuk nominasi nggak pernah menang.”

Ah, sudahlah.. Lupakan keglamoran Oscar. Bagi pemerhati lingkungan, Leonardo DiCaprio punya tempat tersendiri. Mungkin orang-orang yang sinis tak tahu, kalau mas Leo bisa bikin penjahat lingkungan meringis.

Leo tak segan melancarkan kritik dan menyerang dengan menunjuk jari sekaligus menuding siapa saja aktor di balik naik tajamnya suhu bumi, gegara pembakaran hutan oleh korporasi-korporasi jahat nan jahanam yang hanya mempedulikan keuntungan.

Siapa sangka, di balik keglamoran Hollywood, Leo masih sempat memperhatikan kelestarian hutan di Sumatera. Ada yang bilang nyumbang Rp 43 miliar, Rp 32 miliar, Rp 90 miliar, entahlah beritanya beda-beda. Tapi ya namanya juga nyumbang, nggak perlu dipamerkan secara rinci, bukan? Nanti dibilang riya sama ustadz Felix Siauw.

Rasanya bisa dihitung dengan jari menemukan sosok seperti Leonardo DiCaprio. Kita ingat bagaimana Bono, sang vokalis U2, band legendaris asal Irlandia, juga tercatat sebagai salah satu selebritas, musisi cum aktivis yang tak segan mendedikasikan sebagian hidupnya untuk mengkampanyekan penyelamatan lingkungan.

Atau, Tom Yorke, pentolan band legendaris Radiohead, yang belum lama ini ramai diberitakan perform di tengah-tengah aksi Greenpeace di London, Inggris. Sebuah organisasi kampanye lingkungan yang tenar dengan aksi-aksi heroiknya itu.

Di Indonesia ada Superman Is Dead (SID), band punk asal Bali dengan pentolannya, I Gede Ari Astina a.k.a Jrx, yang tak segan memimpin aksi Bali Tolak Reklamasi, sebuah aksi penolakan proyek reklamasi Teluk Benoa yang bermasalah itu.

Kemudian aksi Leonardo DiCaprio untuk hutan Sumatera seakan menggenapi keberpihakan sejumlah musisi ataupun selebritas yang menjadi garda terdepan penyelamatan lingkungan. Benar juga apa yang dikatakan Kate Winslet, lawan mainnya di film Titanic, “Leo itu makin tua makin ganteng.”

Popularitas Leo tentunya tak akan mampu ditandingi seleb manapun, termasuk para pegiat media sosial atau selebtweet di Tanah Air, yang belum lama ini diundang Presiden Jokowi ke Istana. Para selebtweet yang memiliki followers tak terhitung jumlahnya itu, bisa jadi adalah gerbong terdepan yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Menjadikan media sosial sebagai medan pertempuran, mereka mampu mempengaruhi tindakan para follower-nya hingga akhirnya mendapat perhatian Istana. Lalu para selebtweet diundang secara terhormat duduk satu meja membicarakan kemarin, hari ini, dan hari esok Indonesia, yang tercinta ini.

Sebenarnya ada perbedaan mendasar dari apa yang dilakukan selebtweet di Tanah Air dengan seleb internasional semacam Leo dalam menanggapai sejumlah permasalahan. Yang satu fokus ke isu-isu politik, yang satu isu lingkungan yang seolah menjauhkannya dari politik, walaupun kenyataannya Leo bisa mengintervensi keputusan politik.

Di balik perbedaan itu pula terdapat persamaannya. Mereka adalah orang-orang yang tercerahkan, orang-orang yang berjuang demi masa depan lebih baik. Tak ada salahnya kita nyanyikan lagu puja-puji kepada mereka.

Namun, sungguh, membaca penggalan kalimat Leo di situs yayasannya, saya sedikit mengernyitkan dahi. “Udara bersih, air, dan iklim layak huni adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dicabut. Dan, memecahkan krisis ini bukan pertanyaan dari politik. Itu adalah pertanyaan dari kelangsungan hidup kita sendiri.”

Bagaimana mungkin memecahkan persoalan lingkungan tidak melibatkan keputusan politik? Kita saksikan bagaimana negara tidak berdaya. PN Palembang menolak gugatan senilai Rp 7,8 triliun yang dilayangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap PT BMH soal kebakaran hutan. Sampai saat ini tidak ada kabarnya lagi.

Masyarakat pun sudah lupa, entah tersedot perhatiannya dengan peristiwa teror atau kasus kopi bersianida, padahal ketika itu begitu bernafsu mem-bully habis-habisan Hakim Parlas Nababan, sang hakim yang menolak gugatan KLHK.

Kita juga cuek bebek dengan sikap politisi PDI-P Adian Napitupulu yang bilang tidak ada masalah dengan izin reklamasi Teluk Benoa, Bali. Semuanya oke, ya KLHK, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Komisi VII DPR, hingga pimpinan MPR.

Jadi bagaimana mungkin persoalan lingkungan tidak melibatkan keputusan politik? Semoga saja para selebtweet di Tanah Air tetap garang, meski sudah diundang secara terhormat oleh Jokowi. Tabik.

Foto: popopics.com