Obsesi Masa Tua dan Perburuan Predator Titisan Lucifer
SERIAL FIKSI MISTERI

Obsesi Masa Tua dan Perburuan Predator Titisan Lucifer

wallpaperswide.com

Bertahun-tahun lalu, sebelum nasib baik yang aneh melemparkan saya dari satu pekerjaan kasar ke pekerjaan yang lebih kasar lainnya, saya berkarir di kebun binatang sebagai penerjemah. Itu pekerjaan pertama, dan masih basah dalam ingatan seberapa histeris tangis ibu di bandara demi melepas anaknya semata wayang ini pergi merantau.

Pekerjaan itu sudah saya idamkan sejak SMA. Ibu, yang kepingin anaknya menjadi kepala laborat entah atas dasar apa, tentu saja kecewa berat ketika tahu bahwa anaknya tak berbakat mencampur bahan kimia, dan malah menggandrungi ilmu bahasa. Pada tahun kedua, saat penjurusan, dengan mantap saya memilih kelas bahasa.

Selain belajar bahasa Inggris dan Prancis, bahasa asing yang saya pelajari di kelas adalah bahasa margasatwa. Saya cukup berbakat dalam bahasa itu, terbukti dari puji-pujian setinggi angkasa yang diberikan guru menjelang kelulusan. Ia heran campur bangga, sebab selama 14 tahun masa pengabdiannya tak pernah menemukan murid yang begitu luwes mengobrol dengan emprit dan celeng seperti saya.

Deretan nilai sempurna di ijazah memudahkan saya untuk melamar kerja. Saya mendapat panggilan wawancara dari 16 kebun binatang, delapan grup sirkus, tiga LSM fauna, dan tak ada satu pun dari laborat seperti harapan ibu.

Saya begitu selektif bak putri raja yang diincar ratusan pangeran, dan akhirnya memilih satu kebun binatang yang menawarkan kompensasi paling menarik yang terletak di negeri yang jauh.

“Jangan lupakan sholatmu,” pesan ibu kepada saya di terminal. “Gosok gigimu sebelum tidur dan jangan begadang tiap hari. Kirimi ibu kabar sesampainya di sana,” ujar dia lirih. Dua dari empat pesan itu saya jalankan sungguh-sungguh; saya mengiriminya foto kemilau gigi beserta surat dalam amplop coklat setiap bulan.

Negeri yang saya tuju adalah Nouwer, terletak di antara Republik Solomon dan Tanah yang Dijanjikan. Lebih jauh ketimbang Nyecete yang saya kunjungi bertahun-tahun kemudian, meski memiliki level keganjilan yang serupa: penduduknya hanya orang-orang tua tanpa remaja apalagi balita.

Piaraan mereka juga tua-tua: anjing-anjing peyot dan kucing-kucing lansia yang tinggal menunggu ajal. Langit yang menaungi negeri itu juga tua, berwarna kelabu dengan awan tipis berlarik-larik seperti keriput. Kebun binatang tempat saya bekerja dihuni oleh aneka satwa gaek. Begitu pula dengan penjaga loketnya yang renta dan selalu tampak mengantuk.

Dan, inilah tugas saya saban hari: menerjemahkan apa pun yang pengunjung katakan kepada kuda peyot atau gajah jompo atau macan pikun di situ. Harus saya katakan bahwa menerjemahkan omongan dua entitas yang sama-sama tua, dan biasanya juga rewel, adalah sebentuk kegilaan.

Bagaimana pun, saya harus menikmatinya. Namun, kondisi Nouwer yang seluruhnya uzur dan muram membuat saya penasaran. Dan, setelah enam pekan melakukan investigasi, yang biasanya berawal dari obrolan di kedai-kedai kopi dan diakhiri di gedung arsip, saya mendapat jawabannya: penduduk di sini terobsesi dengan masa tua.

“Kebijaksanaan sempurna manusia terjadi pada masa tuanya,” terang Gholun, pengrajin tempayan yang akrab dengan saya di kedai kopi. “Maka, logikanya adalah manusia-manusia muda seperti kamu, pastilah bodoh dan ceroboh,” lanjutnya.

Logika itu, yang bisa dijabarkan dengan rumus “Jika kamu bukan A, maka kamu pasti B”, dipakai penduduk Nouwer untuk mengenyahkan apa pun yang berbau muda dari kota mereka – kecuali saya, untungnya. Dan, keinginan obsesif penduduk Nouwer untuk tampak tua disambut gembira oleh pelbagai perusahaan.

Perusahaan farmasi, misalnya, menciptakan obat dan kosmetik penuaan dini, dan menangguk untung yang tak pernah tercapai oleh obat awet muda yang mereka jual di negara lain. Pabrik cat juga sama; mereka membikin cat semprot khusus untuk mengecat langit agar selalu kelabu saat kapan pun. Harganya tak murah, tetapi selalu ludes di toko bangunan di mana pun.

Obsesi untuk tampak tua juga ditimpakan pada bayi-bayi yang baru lahir. Mereka diminumi serum penambah usia alih-alih susu formula, yang membuat tubuhnya berkembang 16 kali lipat lebih cepat ketimbang bayi di tempat lain. Serum itu juga bekerja sama baiknya untuk anak-anak. Nouwer kini memiliki amat banyak sosok tua yang masih doyan ngempeng di muka umum. Obsesi itu pula yang menyebabkan satwa di kebun binatang alias bonbin itu seluruhnya tua.

“Gigi-gigiku belumlah lengkap ketika petugas menyuntikkan entah cairan apa ke tubuhku. Yang aku ingat, suntikan itu sakit sekali, sehingga membuatku pingsan. Dan, ketika siuman seluruh surai telah tumbuh sempurna, tapi tidak dengan gigiku,” aum Leo, singa ompong sahabat saya.

“Mereka itu idiot,” geram Broni si Brontosaurus. “Hanya karena aku hidup di era purba yang cocok dengan selera jompo mereka, dibangkitkannya aku dari kematian untuk dijadikan maskot dalam kandang,” tuturnya penuh kesal.

Satwa lain juga menggerutu dalam bahasanya masing-masing, tetapi penuaan paksa pada satwa tampak serupa tindak kebajikan, bila dibandingkan apa yang bakal penduduk perbuat pada mereka.

Pada tanggal penghabisan bulan September, Pemerintah Nouwer membuat peraturan baru perihal satwa yang mengubah segalanya. Hewan predator, yaitu hewan yang secara instingtif suka menggigit dan mencabik atau lebih tepatnya memangsa hewan lain, dinyatakan terlarang di seluruh penjuru negeri. Pemerintah sampai membuat slogan “ganyang predator” di selebaran, yang ditempelkan di tiap tempat dan disambut dengan amat antusias oleh penduduk.

Penyebabnya sepele: seekor pudel tua menggigit perdana menteri dan istrinya, ketika mereka berjemur di pantai. Pudel itu tak hanya tua, melainkan juga ompong, sehingga gigitannya lebih mengakibatkan geli dan sedikit ngilu ketimbang luka menganga yang berpotensi borokan.

Tetapi, bagaimana pun, perdana menteri tetaplah perdana menteri. Tak ada yang boleh menggigit anggota tubuhnya yang mana pun, terlebih di tempat terbuka. Oleh pudel ompong sekali pun.

Penduduk Nouwer, yang sebagian besar berperilaku pragmatis dan amat patuh pada pemimpin, dengan keriangan yang tak dibuat-buat mulai mengecap predator sebagai makhluk jahat titisan Lucifer, raja dari segala raja iblis. Berhubung cara berlogika mereka aneh sekali, maka hewan herbivora, yang dianggap anonim predator adalah sebaik-baiknya satwa, sehingga perlu dihormati selayaknya para malaikat.

“Sumpah demi jeroan kijang, aku belum pernah menggigit orang!” salak Flash, si cheetah, kepada petugas yang menyeretnya. Tentu saja mereka tak paham arti salakannya, tetapi saya paham bahwa Flash dibawa ke tempat di mana ia tak akan kembali.

Segera saja predator menjadi pesakitan. Satwa yang bertaring diuber di seluruh negeri, sebelum akhirnya digebuk dan dicincang akibat kesalahan yang tak sepenuhnya mereka pahami. Padahal, anjing di seluruh Nouwer tak lagi bergigi, begitu pun dengan predator yang lain.

Nasib yang berkebalikan dialami satwa herbivora. Ayam kini memiliki empat patung monumen dirinya, sementara kambing dan ulat bulu dijadikan nama jalan. Penduduk di pesisir mulai menyembah ikan gabus, sedangkan potret torso munyuk bersanding dengan foto perdana menteri di segala dinding.

Saya tak bisa berbuat apa pun; kemudaan saya sudah merupakan satu kesalahan, dan hanya butuh satu kesalahan lain sebagai alasan mereka melempar saya ke penjara. Lagipula, tindak-tanduk saya sedang dalam intaian aparat akibat keakraban saya dengan satwa yang mereka buru.

Maka, di dalam senyap, saya menyaksikan satu demi satu predator di bonbin – teman-teman terbaik saya di sini – diangkut dengan truk-truk tua tentara. Mereka akan diperlakukan seperti anjing jalanan, dan akan berakhir di muara yang sama, dengan kengerian yang sama.

Beruntung, Kedubes Indonesia menyelamatkan saya dari nasib buruk. Itu terjadi pada hari keenam, ketika pengenyahan satwa predator sedang genting-gentingnya. Dari jendela mobil tampaklah bangkai anjing, kucing, dan yang lain. Mereka bertumpuk begitu tinggi seperti menyundul langit.

Sementara itu, orang-orang jompo tampak berlarian dan memekik sambil membawa pentung, pedang, dan obor. Tragedi ini menjelma trauma bagi saya pada tahun-tahun selanjutnya, dan barangkali hingga saya tua nanti.

Saya bersyukur tiba di Indonesia dengan utuh, dan saya semakin bersyukur mendapati kenyataan bahwa negeri ini tak pernah melakukan genosida pada makhluk apa pun sepanjang sejarahnya. Tak ada penderita cacat logika seperti penduduk Nouwer. Itu menambah rasa bangga saya pada Indonesia. Sekarang, bolehkah saya bernyanyi Indonesia Raya?