Obama, Tyrannosaurus, dan PKI

Obama, Tyrannosaurus, dan PKI

tianxinqi.com

Pada akhir masa jabatannya sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama beberapa kali terlihat melakukan beberapa kunjungan yang mencengangkan banyak orang. Pertama, Obama berkunjung ke negara asal Fidel Castro, yaitu Kuba. Kunjungan Obama ini seakan menyudahi perselisihan politik di antara kedua negara selama bertahun-tahun. Apa yang dilakukan Obama sangat langka, karena tidak dilakukan presiden Amerika sebelumnya dalam kurun waktu 88 tahun.

Lalu berikutnya, Obama kedapatan tengah bersantap di sebuah rumah makan kaki lima di Vietnam dengan seorang koki bernama Anthony Bourdain. Peristiwa itu menjadi rangkaian lawatannya di Vietnam perihal pencabutan embargo AS terhadap Vietnam. Momen tersebut adalah penegas bahwa sentimen antara Amerika dan Vietnam pada masa lalu yang berlarut-larut mulai pulih.

Dan, yang paling anyar dari lawatan sensasional Obama yakni kunjungannya ke negeri seteru Amerika Serikat di perang dunia II, yakni Jepang. Selain agenda politik AS, Obama menyempatkan diri bertandang ke Kota Hiroshima, salah satu kota yang luluh lantah akibat bom atom.

Obama pun sempat memberikan karangan bunga sebagai rasa berduka atas tragedi mengerikan di antara kedua negara di masa lalu. Momen paling fenomenal adalah saat Obama memeluk korban peristiwa jatuhnya bom atom di Hiroshima. Sebuah pelukan perdamaian dengan masa lalu yang kelam.

Memang tak semua orang dapat legowo berdamai dengan masa lalu. Beruntung bagi rakyat AS karena memiliki sosok seperti Barack Obama, meski saya tetap menduga apa yang ia lakukan pasti ada agenda politik dibaliknya. Namun, setidaknya Obama melakukan apa yang tak semua orang bisa lakukan, yaitu berdamai dengan masa lalu yang suram. Sementara di negeri tercinta kita, Indonesia, berdamai dengan masa lalu hanyalah isapan jempol belaka. Sebab, sejauh ini, sentimen-sentimen masa lalu masih sering diumbar-umbar kelewat batas.

Acara simposium tandingan yang baru-baru ini digelar menjadi penegas bahwa sentimen terhadap komunisme pada masa lalu masih terasa dan menemui puncaknya. Acara ini dimaksudkan sebagai tandingan atas terselenggaranya acara Simposium 1965 yang sempat dihelat beberapa bulan lalu. Simposium tandingan seolah-olah menjadi gathering kelompok-kelompok anti komunisme yang masih percaya tahayul kebangkitan PKI di era modern saat ini.

Setelah penolakan acara diskusi, pembatalan pemutaran film, dan pelarangan buku-buku, simposium sepertinya menjadi puncak acara yang diselenggarakan bapak-bapak berseragam loreng dan ormas-ormas bersorban. Di antara kawanan anti-komunisme tersebut, sosok bernama Kivlan Zen bisa dibilang sebagai ujung tombak dari penyebaran isu kebangkitan PKI dewasa ini. Pakde Kivlan sangat vokal dan lantang mengutarakan penampakkan hantu bernama PKI, yang katanya sudah bangkit dari kubur.

Tak sungkan pakde Kivlan sesumbar telah mendapati kebangkitan PKI sejak 2 minggu lalu yang berkantor pusat di Jakarta pusat. Pakde Kivlan mengatakan PKI baru yang dipimpin oleh Wahyu Setiaji sudah memiliki pendukung sebanyak 15 juta orang. Pakde Kivlan dapat info dari mana ya? Bahkan juga menyebut Menko Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan sebagai perwakilan pemerintah yang ikut memfasilitasi kebangkitan PKI.

Pak Luhut sendiri yang katanya punya mata, telinga, dan badan intelijen itu belum menemukan tanda-tanda kebangkitan PKI. Jika benar PKI sudah punya 15 juta massa, pastinya partai-partai politik yang berkuasa saat ini ikutan gegana alias gelisah, galau, merana. Bagaimana tidak, PKI bisa langsung menyodok ke posisi 3, kalau mengacu pada perolehan suara pada Pemilu 2014.

Sebagai ilustrasi:

1. PDIP (23,6 juta)

2. Partai Golkar (18,4 juta)

3. PKI (15 juta)

4. Gerindra (14,7 juta)

5. Partai Demokrat (12,7 juta)

6. PKB (11,2 juta)

7. PAN (9,48 juta)

8. PKS (8,48 juta)

9. Nasdem (8,4 juta)

10. PPP (8,1 juta)

Tapi, para elit parpol nyantai tuh, apalagi papa Setnov yang baru terpilih menjadi ketum Partai Golkar. Mereka malah kasak-kusuk lebih penting ngurus soal wacana reshuffle menteri atau Pilkada DKI. Oh baiklah, ada yang bilang PKI siap melakukan pemberontakan. Perang terbuka!

Dulu, saat masa perang dingin, PKI bisa kuat karena komunis menjunjung tinggi internasionalisme. Lalu bagaimana dengan kondisi di negara yang katanya komunis saat ini? Kenyataannya, negara-negara yang dulu menganut ideologi ini satu persatu ambyarrr… Tembok Berlin sudah runtuh. Jerman Barat dan Timur sudah bersatu. Uni Soviet sudah tercerai berai menjadi negara-negara semisal Ukraina, Latvia, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Uzbekistan. Sedangkan Tiongkok sudah mulai sadar ‘pasar’. Begitu juga dengan Vietnam. Lantas mau berporos ke mana, jika memang PKI bangkit?

Bagi saya mempercayai komunis akan bangkit di era serba canggih saat ini sama seperti mempercayai Tyrannosaurus akan kembali hidup untuk kedua kalinya, setelah jutaan tahun punah dan menjadi predator paling mematikan di bumi.

Saya bukanlah penggemar berat ajaran dari orang tua botak berjanggut lebat benama Karl Marx. Apa yang digagas oleh eyang Marx hanyalah mimpi indah dan jauh lebih anggun di atas kertas ketimbang implementasinya.

Terlalu prematur, jika mencap Simposium 1965 sebagai angin segar bangkitnya PKI di Tanah Air. Bukan berarti setelah acara tersebut para mantan tahanan politik dan orang-orang yang difitnah PKI lantas langsung mendirikan partai berideologi komunis dan ikut pemilu atau seketika mereka langsung merampas ‘tanah-tanah’ milik kaum borjuis.

Bagi saya acara tersebut tak lain dan tak bukan hanya soal kemanusiaan dan keadilan, dimana ada ribuan orang yang tak ada sangkut paut secara langsung dengan dosa PKI. Mereka semua ikut dihabisi secara massal tanpa ada proses hukum yang jelas.

Kembali ke acara simposium tandingan. Selain pakde Kivlan yang menjadi perhatian saya adalah keberadaan ormas yang doyan sweeping kala Ramadan tiba. Keikutsertaan mereka di dalam acara itu menegaskan logika yang ada di batok kepala mereka bahwa Pancasila hanya digunakan untuk melawan PKI atau komunisme, tetapi tidak jika berkaitan dengan ISIS chapter Indonesia atau ormas-ormas radikal sejenis, dimana anak-anak sudah didoktrin dan diajarkan untuk menjadi pemberontak negara. Mau menegakkan dan mengamalkan Pancasila kok ya pilih-pilih. Jika ‘kawan sendiri’, panji-panji Pancasila disimpan dalam hati.

Mereka terlihat tak paham dengan apa yang mereka benci. Bagaimana bisa orang bisa membenci komunis, tapi dengan gamblang menyamakan liberal dengan PKI atau Marxisme itu Aristoteles. Jangan-jangan karya Marx berjudul ‘Das Kapital’ nanti dituding sebagai kitab suci kapitalisme.

Tapi, saya dan mungkin juga anda bisa belajar sesuatu dari drama ini. Mengambil hikmah dari setiap kekonyolan serta lawakan soal kebangkitan komunisme di Indonesia. Akhirnya saya tahu bahwa yang lebih menakutkan di bumi pertiwi ini adalah bahaya laten kebodohan.