Pemilik Modal Bukan, Bos juga Bukan, tapi Nyinyirin Buruh

Pemilik Modal Bukan, Bos juga Bukan, tapi Nyinyirin Buruh

Rage Against the Machine, salah satu grup musik yang mendukung perjuangan buruh. (loudwire.com)

Sudah jomblo, biaya hidup mepet, nggak punya tabungan masa tua, mau mengajukan KPR takut nggak bisa bayar cicilan. Sudah tahu penderitaan bersumber dari rendahnya kesejahteraan karyawan, masih saja nyinyirin aksi buruh setiap 1 Mei.

Coba pikirkan lagi, apa yang kamu lakukan tiap hari dalam 24 jam? Bangun pagi, berangkat ke kantor, lalu pulang delapan jam kemudian dalam kondisi lelah. Beberapa malah ada yang kerja sembilan jam, karena satu jam waktu istirahat tidak dihitung.

Satu-satunya harapanmu setelah pulang kerja adalah istirahat. Persetan dengan segala keributan di dunia ini. Sebodo amat mau Ahok atau Anies yang menang Pilkada Jakarta. Yang terpenting buatmu saat pulang kerja adalah bisa istirahat dengan tenang, tidur, dan besok kerja lagi.

Kalau siklus hidupmu begitu terus selama lima hari, ya pantas saja kalau kamu jomblo. Bagaimana mau menemukan tambatan hati, kalau setiap hari kamu pergi ke tempat yang sama, dengan rutinitas yang sama, dan orang yang kamu temui juga dia lagi, dia lagi. Sudah begitu tiap akhir pekan nggak ke mana-mana, karena mau berhemat atau malah memilih tidur supaya Senin bisa kerja lagi.

Kalau kamu cukup beruntung, mentok akan memacari teman sekantor, tetangga kos, atau ujung-ujungnya balik lagi ke masa lalu. Misalnya, memacari teman semasa sekolah atau kuliah dulu, atau balikan sama mantan.

Tapi kalau populasi jomblo di kantormu sudah habis, tetangga kos tidak ada yang nyantol, teman sudah punya gandengan semua, mantan sedang memilih undangan, ya itu nasibmu.

Lalu di tengah lamunan malam Minggu, emakmu di kampung menelepon. “Halo, Nak. Baru gajian kan? Ini adikmu perlu uang buat daftar kuliah.” Nangis, nangis deh…

Sudah sendirian di kosan karena ditinggal teman-temanmu pacaran, emakmu malah menelepon nagih kiriman. Padahal, gajimu mepet UMR, belum bayar kos pula. Sudah begitu harga-harga naik, biaya hidup makin tinggi, uang kuliah makin mahal, belum harus kirim uang ke kampung.

Lalu bagaimana dengan masa tuamu? Mana bisa kamu menabung buat masa tua. Jangan masa tua ding, kejauhan, nabung buat nikah saja susah, apalagi mau mengajukan KPR? Kamu berharap KPR tanpa DP?

Selama ini juga banyak yang nawarin tanpa DP alias masuk ke cicilan pokok utang. Tapi itu aja susah kebeli. Lagi-lagi, masalahnya bersumber dari gajimu yang mepet itu.

Di tengah himpitan hidup dan rasa pusing karena punya banyak tanggungan dan tagihan, kamu malah memilih melampiaskan kekalutan dengan nyinyirin aksi buruh. Hei, kamu itu korban kesenjangan ekonomi karena gaji minim, UMR rendah, padahal biaya hidup makin tinggi, kok ya malah nyinyirin orang yang sedang memperjuangkan hakmu.

Tahu nggak? UMR bisa naik, THR bisa ada, belum lagi pemberian cuti hamil dan haid, itu semua karena perjuangan para buruh atau pekerja yang turun ke jalan setiap 1 Mei. Oh ya, kamu sekarang bisa libur terus holiday, leyeh-leyeh, memang karena kerelaan hati para bos atau pemerintah?

Dengan nyinyir sama orang-orang yang melakukan aksi untuk memperjuangkan hak sebagai pekerja setiap 1 Mei, kamu secara tidak langsung sedang membela kepentingan pemilik modal – yang biaya hidupnya sebulan sama dengan gajimu setahun – dalam memberikan upah seminim mungkin agar keuntungan yang mereka dapatkan semakin banyak.

Padahal ya, pemilik modal itu nggak perlu dibela, mereka lebih kuat untuk membuat kebijakan kantor dan memecat karyawan yang dianggap tidak produktif. Kamu masih berpikir bahwa mengajukan tuntutan itu berarti tidak kooperatif? Atau, merasa turun kelas kalau orang-orang ‘berpendidikan’ kayak kamu ikut turun ke jalan?

Ketahuilah, orang-orang yang sedang memperjuangkan haknya itu sebetulnya untuk kepentinganmu juga.

Beberapa orang barangkali tidak mau disebut buruh, karena merasa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Tapi sayangnya, pendidikan tinggi itu bukannya membuat mereka sadar dan membuka mata bahwa aksi menuntut kesejahteraan pekerja setiap 1 Mei adalah hal yang penting, tetapi malah melahirkan arogansi.

Seolah dengan mengkritik demo buruh ada delusi bahwa mereka berada di barisan yang sama dengan para bosnya. Muaranya mereka tidak mau mengakui bahwa mereka itu juga kelas pekerja yang hidupnya pas-pasan. Mau nabung buat masa tua sulit, karena gaji habis untuk biaya hidup.

Pada demo buruh sebelumnya, ramai komentar miring bahwa buruh menuntut upah naik karena mau beli motor Ninja atau pakaian dalam merek Victoria Secret. Ngawur. Kalaupun benar, ya terserah yang punya gaji dong. Yang lebih lucu, yang berkomentar begitu bukan bos perusahaan atau pemilik modal, tetapi karyawan. Kelas pekerja!

Yang jelas, perusahaan punya tanggung jawab untuk membayar pekerjanya dengan layak dan menjamin kebutuhan pekerjanya. Pasalnya, dari pekerja, si pemilik modal bisa dapat untung banyak. Indonesia menempati urutan keempat di dunia sebagai negara dengan kesenjangan ekonomi tertinggi, berdasarkan Global Wealth Report.

Tapi kan, tapi kan, caranya nggak harus demo ramai-ramai. Ya kalau kamu punya cara lain yang lebih baik dan masuk akal, ya silakan. Tapi kalau kamu merasa lebih baik karena diam di kos atau di rumah pada 1 Mei, dan nggak melakukan apapun, kemudian malah nyinyirin orang yang sedang memperjuangkan hak buruh atau pekerja atau karyawan, ya selamat, kamu sudah menjadi kelas menengah yang super duper!

Super duper ultra-ngehek, maksudnya…