#NyalaUntukYuyun di Tengah Euforia Kita

#NyalaUntukYuyun di Tengah Euforia Kita

scarfknitting.com

Seharusnya, kematian bisa membuat kita terdiam sejenak. “Kematian orang lain memanggilku untuk ditanyai.” Begitu kata Emmanuel Levinas, seorang filsuf Prancis kontemporer. Pertanyaannya, setelah terdiam sejenak, apa yang bisa kita perbuat?

Di Bengkulu, kurang lebih 798 km dari Jakarta, seorang siswi SMP bernama Yuyun diperkosa beramai-ramai oleh 14 laki-laki biadab. Umurnya baru 14 tahun, masa depan baru saja ia tapaki. Ia hanya ingin pulang ke rumah untuk berangkat kembali ke sekolah keesokan harinya. Merajut mimpi, membangun masa depan.

Tapi mimpi itu, masa depan itu, sudah sirna bagi Yuyun. Hanya karena kelakuan pemuda-pemuda yang sedang “mabuk dan ingin”. Luka fisik yang diderita menyebabkan kematian Yuyun. Ia diseret ke dalam hutan dan diperkosa bergilir dalam kondisi tangan terikat. Setelah Yuyun meninggal, jenazahnya dibuang begitu saja. Di dasar jurang sedalam lima meter. Berita kematian Yuyun mencegat kita, mencegat kemanusiaan kita. Begitu seharusnya.

Nyatanya berita pemerkosaan yang maha jahanam itu seakan hanya sekilas lalu. Tak seviral isu-isu politik dan kekuasaan yang kian lama kian menjemukan. Bahkan tenggelam dalam euforia ‘Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2’ dan ‘Captain America: Civil War’. Tapi (sebagian) kita masih membacanya, lalu sejenak terdiam. Pertanyaannya, setelah terdiam sejenak, apa yang akan kita lakukan?

Beruntung kita masih punya Kartika Jahja (@kartikajahja) yang menginisiasi penggunaan tagar #NyalaUntukYuyun dan membagikan sebuah video pendek, yang menampilkan nyala api dan pernyataan: saya bersama Yuyun. “Sekarang yang terpenting adalah publik tahu dulu tentang berita ini,” kata Kartika. Ajakan Kartika menyulut solidaritas dari sejumlah pengguna media sosial. Ketika saya membuat tulisan ini, tagar #NyalaUntukYuyun sudah menjadi trending topic di Twitter.

Pertanyaannya, sekali lagi, apa yang akan kita lakukan? Lalu, bagaimana kita menyikapi data dari Komnas Perempuan yang menunjukkan bahwa 35 wanita Indonesia menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya? Apakah masih bisa kita tertidur lelap, ketika Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyebut bahwa 42-58% kasus kekerasan pada anak adalah kasus kekerasan seksual, terutama pemerkosaan?

Masihkah kita acuh, sementara kita tahu dampak kekerasan seksual sangatlah mengerikan dan mengancam masa depan korban. Tahun 2013, seorang anak berinisial RI meninggal dunia setelah mengalami kejang-kejang dan kondisi tubuh secara umum menurun. Umurnya 11 tahun. Sebelumnya, Pada pukul 10 pagi, RI dibawa ke RS persahabatan untuk dirawat. Kondisinya saat dibawa pertama kali, kejang-kejang. Setelah diperiksa, korban pingsan karena demam tinggi.

Luka yang terdapat di kemaluan dan dubur RI ditemukan secara tidak sengaja ketika dokter memasukkan obat anti kejang melalui dubur RI. Luka tersebut dideteksi akibat benda tumpul atau benda lainnya yang menyebabkan luka tersebut. RI diduga mengalami kekerasan seksual. “Setelah melalui proses penyidikan, kami tetapkan tersangka berinisial S. Tersangka tersebut tidak lain adalah bapak kandung dari korban RI.” Kata Kapolda Metro Jaya saat itu.

“Maka ini sangat mengerikan. Tahun 2011 ada 2.509 laporan kekerasan, 59% di antaranya adalah kekerasan seksual. Sementara tahun 2012 kami menerima 2.637 laporan, 62% di antaranya kekerasan seksual,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait.

Masih ingatkah kita dengan kasus ini? Kasus yang terjadi di Ibu kota dan hampir semua media mainstream memberitakannya. Kita selalu enggan disebut sebagai salah satu penyebab munculnya sebuah tragedi (baik langsung maupun tak langsung). Sementara seringkali kita abai dan kurang peduli. Padahal, seperti kata Levinas, “Karena sikap acuh tak acuh yang mungkin aku ambil kelak, aku bersekongkol dengan kematian yang dihadapkan kepada orang lain.”

Marilah kita mulai peka dan lebih peduli. Jangan terlalu “nyaman” bersandar pada isu-isu headline yang menjadi komoditi media mainstream, ketika ternyata berita di halaman selanjutnya memerlukan perhatian dan kepedulian lebih. Kita tentu tak ingin ada Yuyun-Yuyun selanjutnya, tak ingin ada RI-RI selanjutnya, tak ingin angka yang dirilis Komnas Perempuan dan KPAI bertambah, tak pernah ingin tragedi seperti ini terus berulang.

Setelah terdiam sejenak, mari sama-sama kita jawab pertanyaan ini : Apa yang akan kita lakukan? Apa yang bisa kita perbuat? Kita bisa menjawabnya, jika kita memang benar peduli. Jika kita memang benar-benar peduli.

  • apa karena rasa peduli saya sangat kurang..? atau wawasan saya sangat kurang..? sehingga bingung harus melakukan apa… meskipun sangat ingin melakukan sesuatu, akhirnya hanya mampu megamini doa2 dan menjadi pengekor mereka yg punya ide kemanusiaan..

    *sakit hati baca yg begini tuh huhuhu… emosi meledak2

  • Kevin91

    Ya mungkin doa lbh baik drpd tdk sm sekali. Doa utk Yuyun dan doa semoga gak ada lagi korban kekerasan thd anak dan perempuan. Smoga tenang ya, dik Yuyun… 🙁

  • kiki purwanti

    Kang day, baca ini saja rasanya sudah teriris.

  • Pingback: Tips & Trik Menjadi Mahasiswa Selow agar Tak Berakhir Konyol | Voxpop Indonesia()