Tips Jitu Bertahan Hidup, jika Meletus Perang Nuklir

Tips Jitu Bertahan Hidup, jika Meletus Perang Nuklir

Ilustrasi (breakoutprague.com)

Pernikahan Raisa, konflik Rohingya, dan kemajuan program nuklir Korea Utara adalah tiga hal yang menyebabkan pekan ini terasa berat untuk dijalani. Namun, yang disebut terakhir itulah yang menjadi topik utama perbincangan Majelis Warung Kopi pagi tadi.

Diiringi gaduh suara hujan yang mengguyur atap seng, embusan angin yang mematahkan reranting trembesi, dan asap bergulung-gulung dari kretek lintingan, bersabdalah Haji Mashuri, “Separuh lingkar bumi bakal kiamat, jika Korea Utara jadi berperang sama Amrik.”

Pelatih karate itu tak menyebut lingkar bumi sebelah mana yang bakal ketiban petaka. Semua anggota Majelis Warung Kopi, sebelas orang termasuk saya, terlalu gentar mendengar ramalannya sehingga tak terpikir untuk bertanya. Ketercekatan kami dimanfaatkannya dengan menggelar seabrek data.

Disodorkannya sebuah foto pada ponselnya kepada kami. Foto tersebut ternyata adalah infografis yang ia comot entah dari media mana, dan data yang terpampang di sana membikin kami bolak-balik mengelus dada.

Amerika Serikat, menurut infografis tersebut, memiliki 6.800 unit rudal berhulu ledak nuklir. Sementara itu, Korea Utara memiliki 1.135 unit rudal, tetapi hanya 300 unit yang sudah dipasangi nuklir.

Kedua negara tersebut telah berhasil mengembangkan teknologi rudal antar-benua, yang daya jelajahnya sepadan dengan 10 kali jarak antara Jakarta-Surabaya.

“Data di sini cuma menunjukkan jumlah dan jarak tempuh rudal,” ujar Haji Mashuri sembari menunjukkan tautan berita daring. “Tapi yang ini bisa bikin kalian bermimpi buruk selama sebulan penuh.”

Berita tersebut berasal dari BBC. Di situ dijelaskan mengenai daya hancur sebuah rudal modern yang membuat bom atom Hiroshima tampak seperti petasan cabe rawit di hadapan granat.

Rudal yang dimiliki Amerika Serikat, misalnya, memiliki daya ledak rata-rata hingga 20 megaton TNT – bandingkan dengan Little Boy, nama bom atom Hiroshima yang berdaya ledak hanya 15 kiloton.

Korea Utara baru-baru ini juga berhasil mengembangkan bom hidrogen yang jauh lebih kuat ketimbang bom atom, yang daya ledaknya mencapai minimal 10 megaton.

Maka, wajar bila kami serentak beristighfar. Bila ribuan rudal tersebut dipakai dalam perang, yang kemungkinan terjadi sama besarnya dengan peluang Manchester United merengkuh trofi liga musim ini, maka seberapa remuk nasib bumi kelak?

“Seremuk prestasi kontingen Indonesia di Sea Games kemarin. Tapi bukan itu masalahnya,” jawab Haji Mashuri sembari menyulut kreteknya yang ketujuh sejak subuh. “Yang penting saat ini adalah mengabarkan kemungkinan terjadinya petaka tersebut kepada orang-orang.”

Dan ini sudah pasti menjadi jatah saya, sebab tak ada anggota Majelis Warung Kopi yang bisa menulis sebaik saya. Haji Mashuri lebih lihai menendang dan memukul orang, sementara anggota yang lain lebih cakap beternak lele atau meramal angka.

Maka, kawan, artikel ini merupakan hasil alih wahana dari penuturan Haji Mashuri yang saya rekam pagi tadi. Tak seperti kiat sebelumnya yang kami bagi, yaitu kiat bertahan hidup ketika perang dunia meletus, kali ini kami membagi kelanjutan dari kiat tersebut.

Inilah tips jitu melanjutkan hidup setelah meletus perang nuklir…

Langkah 1: Pastikan perang itu benar-benar terjadi

Era informasi memunculkan paradoks ini: semakin banyak informasi yang didapat, semakin sedikit pengetahuan yang diperoleh.

Paradoks tersebut muncul dari membanjirnya informasi yang tak disertai dengan kecakapan dalam menyaring dan memverifikasi informasi yang diperoleh, sehingga pada akhirnya hanya numpang lewat di kepala.

Informasi yang tak lengkap tersebut berpotensi memunculkan fitnah dan kabar bohong, bila diviralkan oleh orang-orang yang berkepentingan atas itu. Sindikat Saracen kemarin adalah contoh terbaik perihal fitnah yang dikomodifikasi.

Karena itu, amat penting bagi anda untuk memastikan apakah perang benar-benar terjadi sebelum mengambil langkah antisipatif apa pun. Berdayakan gawai untuk menelusuri berita-berita internasional di media dan gunakanlah mesin pencari untuk memverifikasinya.

Yang perlu anda camkan, janganlah terlalu mengandalkan media sosial apa pun. Meski kerap mengabarkan peristiwa yang media jurnalistik manapun belum mengabarkannya, kabar di media sosial amat bergantung pada atensi penggunanya, yaitu orang-orang yang terhubung dengan anda.

Besar kemungkinan perang nuklir tak akan dibahas oleh teman-teman anda sebagaimana yang bisa anda dapati kini. Lihat saja beranda anda, mereka lebih memilih untuk membahas hari patah hati nasional, dan apakah Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman atau raja kafir dari wangsa Syailendra.

Tidak ada yang mengulas ketegangan di Semenanjung Korea, atau mencari hubungan antara sikap arogan Trump dan gaya rambut Kim Jong-un dengan kegandrungan mereka pada nuklir. Atau, sekadar ramalan cocoklogi tentang penamaan rudal Korea Utara yang bikin lidah terkilir.

Tidak ada, kan? Karena itulah kami mengabarkannya kepada anda.

Langkah 2: Belajar membuat api

Sebenarnya ada cara mudah untuk menentukan apakah perang nuklir telah terjadi, yaitu berlari ke halaman saat pagi untuk melihat kondisi pancaran sinar matahari.

Bila sinar matahari secerah biasanya atau tertutup oleh mendung yang penampakannya membuat anda teringat pada jemuran semalam, maka perang belum terjadi.

Namun, bila langit diselubungi oleh selaput kelabu yang membikin anda tak bisa menentukan letak matahari, maka cepat-cepatlah kembali ke dalam rumah dan bacalah artikel ini sampai tuntas.

Perang nuklir barangkali adalah satu-satunya cara untuk mengatasi pemanasan global secara masif dan efektif. Ketika ratusan atau bahkan ribuan butir rudal nuklir diluncurkan, yang terjadi kemudian tak hanya kehancuran total dan kematian massal, melainkan berhamburannya jutaan ton debu ke atmosfer sehingga menutupi sinar matahari. Itu berarti dimulainya zaman es episode ketiga.

Ada kemungkinan bila perang dan zaman es mengganggu jaringan listrik dan pasokan energi fosil. Maka, tanpa listrik dan elpiji, dengan cara apa anda memasak atau menghangatkan diri?

Oleh sebab itu, alangkah elok bila anda mencicil pembelajaran membuat api secara primitif mulai sekarang. Carilah di laman internet mengenai teknik membuat api dengan batu atau kayu atau keduanya. Lantas, praktikkanlah sesering mungkin.

Agar anda makin menjiwai proses pembelajarannya, pertimbangkanlah untuk membongkar sekering rumah dan melego tabung elpiji. Manfaat praktisnya, tagihan anda akan berkurang drastis.

Meskipun begitu, ada satu cara mudah untuk mengatasi kelangkaan api, jika perang nuklir benar-benar terjadi: boronglah korek mulai dari sekarang.

Langkah 3: Berdoa

Setelah langkah kedua berhasil anda kerjakan, memang tidak ada hal penting yang bisa dilakukan selain berburu dan meramu sembari menunggu lapisan es meleleh. Namun, tentu saja, anda bisa melakukan hal remeh lain di sela waktu itu.

Mengenang masa indah saat berselancar di Facebook untuk memanen hoax, misalnya. Atau, memanjatkan segudang doa karena anda ingat bahwa doa orang yang teraniaya pasti dikabulkan.

Yang terakhir itulah yang kami sarankan sepenuh hati. Bagaimanapun, tak ada ruginya berdoa. Andai dikabulkan, tentu menyenangkan. Dan andai tak terkabul, paling tidak anda telah menjadi pribadi yang lebih religius.

Anda pun bisa membuat daftar doa mulai dari sekarang, dan tak usah pusingkan jenis kepercayaan yang anda anut saat ini. Ahmadiyah atau Syiah, Parmalim atau Sunda Wiwitan, semuanya sama pada akhirnya. Toh, ketika bencana itu tiba, negara yang merepresi kepercayaan anda tak lagi ada.

Namun, sebelum anda bikin daftar doa untuk masa depan, sisipkanlah satu-dua doa yang bisa anda panjatkan pada masa kini. Contohnya, mintalah agar Kim Jong-un diberi kelembutan hati sehingga melupakan proyek rudalnya dan berganti menggandrungi Barbie.

Atau, berdoalah agar Trump berubah menjadi sesaleh para wali, sehingga enggan melanjutkan ambisinya yang berpotensi memicu perang besar.

Ketiga langkah di atas sepertinya sudah cukup memadai untuk anda bertahan hidup pasca-perang nuklir. Sebagai penutup artikel menyenangkan ini, kami bocorkan satu syarat utama agar anda bisa melaksanakan ketiga langkah di atas dengan baik dan benar: jangan sampai ketiban rudal!