Nonton ‘Tiger Show’ dengan Teknik Penyamaran

Nonton ‘Tiger Show’ dengan Teknik Penyamaran

seasunphuket.com

Pertama kali mendengar soal Tiger Show dan Ping Pong Show di Thailand, muncul rasa penasaran yang sulit dibendung. Mendengar cerita tanpa lihat yang asli, muncul perasaan tidak tenang. Browsing videonya di internet nggak pernah nemu. Mungkin lebih mudah nyari film biru daripada itu.

Waktu punya kesempatan jalan-jalan ke Thailand – tepatnya ke Phuket – bareng seorang sahabat, namanya Vidya, saya pun bikin perjanjian sama anak itu. Vidya harus menemani saya nonton Tiger Show dan Ping Pong Show, apapun yang terjadi. Sebagai balasannya, saya juga harus rela menemani dia ke Museum Madame Tussauds di Bangkok.

Show itu sebetulnya banyak dijumpai di sejumlah bar sepanjang Bangla Road, tempat kami menginap malam itu. Tapi, menurut informasi, risikonya terlalu besar. “Gue aja ke bar gituan abis 1,5 juta beberapa jam doang. Tiap kontak mata dimintain tip,” kata seorang teman.

Kemudian Om Noni, seorang pemandu wisata asal Indonesia yang sudah lama tinggal di Phuket dan punya usaha tur di sana, juga bilang, “Kalian jangan nonton itu di bar deh, saya khawatir. Nanti ngeliat kalian masih kecil-kecil takutnya dibohongin lagi.”

Ya ampun, masih kecil-kecil katanya. Ada apa ya sama orang-orang di Thailand? Kok selama di sana, saya dan Vidya sering disangka anak baru lulus SMA? Kaca mana, kacaa…

Om Noni lalu memberi saran yang lebih masuk akal, yaitu menonton Tiger dan Ping Pong Show di kelab malam tempat pertunjukan, bukan di bar. Nama kelab itu adalah Wake Up Club. “Di situ jelas mereka memang khusus bikin pertunjukan. Kalau di bar-bar cuma cewek-cewek joget erotis nggak jelas. Nanti tiketnya saya pesankan, harganya 1.000 Bath,” ujarnya.

Saya dan Vidya pun setuju sama saran Om Noni. Satu permasalahan selesai. Tinggal mikirin gimana caranya bisa masuk ke kelab itu tanpa ditatap aneh sama orang-orang. Ya abis gimana, kalau kamu cewek berjilbab terus masuk kelab malam apalagi nonton cewek-cewek joget erotis gitu, kan aneh?

Akhirnya, saya sama Vidya sepakat melakukan penyamaran. Pukul tujuh malam, saya dan Vidya keluar dari hostel dengan kostum masih berjilbab. Kami pakai longdress yang dilengkapi dengan capuchon.

Orang dari kelab – yang saya lupa namanya – menjemput kami dengan mobil sedan. Begitu masuk mobil jemputan, pashmina yang melilit di kepala, kami ubah fungsinya jadi syal untuk menutupi leher.

Kemudian rambut disembunyikan dalam capuchon yang menutup kepala sampai garis alis. Mirip penampilan mafia gitu. Tadinya mau pakai sun glasses juga, tapi malam-malam buat apaan? Disangka tukang pijet malah makin berabe.

Ternyata kelab malam yang dimaksud nggak jauh dari Bangla Road. Begitu tiba, si sopir mengambil tiket dari loket untuk diberikan kepada saya dan Vidya. Tentu saja dengan harga yang disepakati, yakni 1.000 Bath. Harga resminya sendiri mahal banget, 2.500 Bath!

Kami lalu digiring resepsionis ke loker penyimpanan barang. Kamera dan semua gadget sama sekali nggak boleh masuk ruang pertunjukan, karena memang terlarang untuk direkam. Di sana, kami dapat minuman gratis. Boleh pilih air mineral, soft drink, atau bir.

Saya pilih soft drink, karena air mineral terlalu murah. Sedangkan bir nggak bakal saya minum, berhubung minum air soda beku aja sudah celeng. Masuk ke ruangan pertunjukan juga kami masih diraba-raba sama security perempuan. Tapi bagian-bagian yang sensitif aman kok dari rabaan, jadi sekarang tahulah ya kalau mau umpetin ponsel di mana?

Dengan penyamaran ala apa-apalah itu, kami akhirnya bisa menonton tanpa tatapan aneh dari pengunjung lain. Saya coba kasih gambaran sedikit tentang Tiger dan Ping Pong Show, yang selama ini menjadi magnet tersendiri ketika berwisata ke sana.

Tiger Show adalah plesetan dari Thai-girl Show. Isinya cewek-cewek Thai yang menampilkan performa luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena mereka tak sekadar menari, namun juga menunjukkan keahlian alat vital dalam melakukan banyak hal. Nah, kalau Ping Pong Show, semacam pertunjukan sejenis yang memakai bola ping pong.

Masuk ke ruang pertunjukan, ternyata sudah dimulai. Ada seorang laki-laki di bathtub (bathtub-nya sengaja ditaruh di depan panggung). Lelaki itu tampak sedang berendam. Sendiri? Ya kalau sendiri mending di rumah atau hotel aja, keleus. Eh tapi kok ada cowoknya? Kirain cewek semua?

Ternyata cowok itu adalah penonton yang ditarik ke panggung. Mukanya tampak malu-malu saat dijadikan objek candaan sama cewek-cewek Thai di tempat itu. Kelar melakukan perannya, itu cowok dikerjain. Pas dia meleng, celananya dipeloroti. Sontak penonton ngakak.

Scene-scene selanjutnya makin ekstrem. Cewek-cewek sakti itu bisa melakukan hal-hal tak lazim dengan alat vitalnya: ngebuka tutup botol. Lalu mereka bisa mengeluarkan banyak benda, di antaranya untaian silet dan jarum sepanjang kira-kira tiga meter. Mereka juga bisa menembak dengan buah pisang sebagai peluru.

Selain itu, mereka bisa ngeluarin kura-kura dan ikan, niup pluit, ngebunyiin bel tukang roti, melempar anak panah buat mecahin balon, juga bisa niup lilin di kue ulang tahun. Konyolnya, sementara si cewek niup lilin, ada cowok mainin lagu Happy Birthday pakai piano.

Ternyata di show ini beneran ada pemain cowoknya. Selain main piano, ada yang atraksi memukul gendang, mengangkat batako, dan menarik gerobak. Ya betul, semua itu dilakukan dengan alat kelamin.

Awalnya saya sama Vidya kaget dan langsung menutup wajah dengan pashmina yang masih tersampir di leher. Bayangkan saja, kami dua perawan baik-baik, anak rumahan pula. Ini juga pertama kali nonton pertunjukan seperti itu. Vidya bahkan sampai muntah-muntah.

Selain cewek dan cowok, ada juga waria. Saya kira waria di tempat itu sudah operasi kelamin jadi cewek, ternyata belum. Saya dan Vidya cuma bisa ngakak, karena merasa tertipu. Nggak puas berjoget, si waria beratraksi pakai bola ping pong. Jadi, inilah bagian yang populer disebut Ping Pong Show.

Si waria melempar-lemparkan bola ping pong dari belahan bokongnya ke kursi penonton. Rasain deh tuh. Spontan saya kembali menutup muka. Dilempar bola ping pong dari belahan bokong David Beckham aja saya ogah, apalagi ini?

Nah, buat kalian cewek-cewek yang bawa pasangan, temenin lah pasangan kalian kalau maksa mau nonton ginian. Sebab, banyak adegan yang melibatkan penonton cowok. Dari yang cuma lucu-lucuan sampai adegan sensual. Cowok-cowok juga dijadikan objek penderita…. Eh, atau penikmat? Yang ditarik sih biasanya yang datang bergerombol.

Nah, buat kamu yang cowok, sebaiknya nggak usah mau kalau disuruh naik panggung. Udah dikerjain, dibikin malu juga. Jadi bahan tertawaan oleh para penari dan pengunjung. Tapi kalau pede dan memang mau pamer, terserah saja. Yang pasti pas turun bakal diminta uang tip.

Pertunjukan semacam itu terus ditampilkan secara berulang-ulang dari mulai pukul 18.00 sampai 23.00. Jadi nggak usah merasa telat, karena sebelum jam show berakhir, kalian pasti masih dapat suguhan tontonan. Kalau nggak mau rugi, nonton beberapa kali rangkaian pun bisa, nggak akan diusir sebelum pukul 23.00.

Kebetulan kami tak ingin nonton berulang kali. Ketika masuk adegan yang tadi sudah ditampilkan, saya dan Vidya memutuskan untuk keluar. Mendingan jajan seafood di luar kelab. Kalau malam, sepanjang jalan dari Wake Up Club, Jungceylon Mall, sampai Bangla Road itu ramai sekali tukang jajanan yang murah dan enak.

Khusus di Bangla Road, kendaraan dilarang lewat pada malam hari, karena jalan yang dipenuhi berbagai jenis bar dan kelab malam itu padat luar biasa. Bar dan kelab malam di Bangla Road masing-masing punya ciri yang nyentrik. Ada yang menyuguhkan Tiger Show, kabaret waria, sampai penari striptis asal Rusia.

Cuma dengan lewat aja, sudah banyak atraksi yang bisa dilihat. Bagaimana tidak, penari striptis dari Rusia, misalnya, sengaja dipajang di kotak kaca di bagian atas bar untuk menarik pengunjung.

Oh ya, kalau di sana itu nggak ada ormas yang suka razia. Jadi mau ngebar silakan, mau nonton striptis monggo, mau lewat doang kayak saya juga bebas. Semua cuek bebek. Yang penting sektor pariwisata maju, kali ya?