4 Hal yang Bikin Kesal ketika Ingin Nonton Film Horor

4 Hal yang Bikin Kesal ketika Ingin Nonton Film Horor

Ilustrasi film horor Danur (Instagram/prillylatuconsina96)

Gairah perfilman nasional dengan genre horor rupanya sedang bangkit. Setelah Pengabdi Setan, banyak film-film serupa yang tentu saja tak sekadar menghadirkan sensual tubuh semata.

Dengan banyaknya film horor yang berkualitas, itu tandanya gairah mistis masyarakat Indonesia kembali meningkat. Sebelumnya sempat lesu karena, jujur saja, film horor isinya tak hanya menghadirkan ketegangan batin, melainkan ketegangan fisik terutama di poros tengah ke bawah. Dengkul, maksudnya.

Kalau sudah begitu, upaya produsen film untuk mengajak orang-orang agar kembali nonton bioskop pun tidak sia-sia. Dengan adegan menegangkan ditambah suara di gedung bioskop yang menggelegar akan membuat penikmat film merasakan sensasi horor betulan. Bukan fiksi, apalagi fiktif.

Tapi, sialnya, untuk merasakan sensasi film horor di bioskop, terkadang kita sampai diganggu dedemit terganggu oleh kelakuan para penonton sendiri, terutama saat antre di loket.

Walaupun sekarang sudah ada teknologi yang memudahkan pembelian tiket, rupanya masyarakat kita lebih suka antre yang terkadang tidak tertib. Kesalnya, ini terjadi berulang kali. Setidaknya, ada empat hal yang bikin kesal.

1. Lama memilih tempat duduk

Sudah tahu nonton film horor, kok ya meributkan harus duduk di mana. Tinggal pilih di mana saja sih sebenarnya, kan filmnya sama saja. Kecuali, yang menonton itu penakut, lain cerita. Lha, ngapain juga nonton kalau penakut?

“Aku gak mau duduk di pinggir ya.”

“Aku gak mau duduk terlalu bawah.”

“Aku gak mau duduk terlalu atas. Maunya dekat tangga, biar cepet keluar dari bioskop.”

Itu kalimat-kalimat yang saya dengar ketika sedang antre. Kalau sudah kesal dan tak dihinggapi rasa sabar, saya hanya bilang, “Pilih tempat duduk yang ada penutupnya saja mbak/mas.”

Kalau mereka tanya di mana itu berada, saya akan menjawab satu tempat. Toilet.

2. Lama bayar tiket

Mungkin tak hanya saya yang merasakan. Kamu mungkin juga pernah merasakan hal serupa. Sudah lama antre, eh di depan kita malah masih menghitung berapa uang yang harus dikeluarkan.

Belum lagi kalau ternyata yang antre adalah gerombolan dedek-dedek milenial. Beli tiket enam, eh yang antre enam orang. Kan bisa satu atau dua orang saja. Begitu sampai di depan loket, pakai urunan dulu. Kok ya bukan dari tadi saja urunannya sebelum mengantre.

Tapi, apa boleh bikin. Kita harus sabar. Sesabar Pak Amien (bukan) Rais yang memperjuangkan ide-ide magis nan brilian itu. Kalau sudah terlanjur kesal, lain kali saya akan bilang, “Kuy dek, segera dibayar. Nanti keburu setannya bikin partai.”

3. Lagi antre malah main gawai

Karena media sosial makin lama makin trengginas, para pemilik gawai mau tak mau harus ikut beringas. Contohnya, saat antre beli tiket di bioskop.

Ini jamak dilakukan dan mungkin hampir semua orang (termasuk penulis) pernah melakukan hal ini. Sayangnya, terkadang pemilik gawai justru menggunakan gawainya secara berlebihan.

Ada yang memakai tongsis sambil update status dulu, “Antre nonton film Pengabdi Setan dulu, sis.”

Ada yang menggunakan fitur boomerang di IG, kemudian memelototkan matanya dan diberi caption, “Sudah seperti Ibu, belum?”

Kalau setelah itu langsung maju selangkah demi selangkah sih nggak apa-apa. Yang jadi masalah kalau dia lupa melangkah. Malah diam di tempat kayak kasus pelanggaran HAM.

Kalau sudah begitu, kadang saya bilang, “Mas/mbak, tolong maju ke depan. Jangan diam saja. Kayak penguasa ketika menghadapi Aksi Kamisan saja.”

4. Lama milih film

Ini menjadi kebiasaan buruk bagi kita. Sudah ancang-ancang akan menonton film, ternyata kursi penuh. Alhasil, bukannya menyingkir dulu untuk memberikan kesempatan pengantre berikutnya, malah sibuk berdebat soal pilihan film yang lain. Seperti dialog di bawah ini.

“Gimana nih, kursinya penuh.”

“Ya sudah, kita nonton di rumah aja yuk.”

“Lha, kita udah antre panjang, kok malah kamu nyuruh nonton di rumah. Gimana sih, beb?”

“Tenang, aku punya film yang lebih horor dari Danur 2 bahkan Pengabdi Setan.”

“Emang apa beb?”

“Pengkhianatan G30S/PKI.”

“Itu fiksi atau fiktif?”

***

Pada akhirnya, yang benar-benar horor hanyalah imajinasi kita. Imajinasi ketika membayangkan setan masuk ke dalam alam pikiran kita. Dan, sekarang, imajinasi kita dibangkitkan dengan setan masuk partai.

Seperti dikatakan Rocky Gerung bahwa sesuatu yang membangkitkan imajinasi itu fiksi. Jadi, partai setan itu fiksi atau fiktif? Ya ndak tahu ya, silakan tanya lebih lanjut ke Pak Amien.

Yang jelas, empat hal yang bikin kesal ketika ingin menonton film horor di bioskop tadi adalah realitas. Tapi… tapi… Bukankah empat adalah angka mistis? Yah, gimana, maunya sih nulis 666 hal yang bikin kesal ketika ingin menonton film horor.

Biar horor sekalian hidupmu.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN