Nikmat Selebtwit Mana Lagi yang Sanggup Kau Dustakan?

Nikmat Selebtwit Mana Lagi yang Sanggup Kau Dustakan?

Ilustrasi (malesbanget.com)

“Kami memilih kata Twitter, dan itu sempurna. Definisinya adalah ledakan singkat informasi tidak penting dan celotehan burung. Dan, seperti itulah tepatnya produk ini.” – Jack Dorsey, pendiri Twitter.

Twitter berani membangun server berjuta dolar hanya untuk mewadahi orang untuk sekadar seru-seruan, mulai dari guyonan, curhatan, omong kosong, bahkan sampai caci-maki dan wor-woran.

Padahal, dengan jumlah uang sebesar itu, bisa saja dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat daripada hanya sekadar menampung informasi tidak penting dan celotehan. Misalnya, membiayai pencapresan mas @picoez untuk menyaingi elektabilitas mas @kokokdirgantoro pada 2019.

Atau, mas @picoez bisa gonta-ganti pasangan, eh motor, dengan uang sebanyak itu. Sementara mas @LordRio82, karena banyak keinginannya, bisa beli kostum putri duyung berlapis emas dan mas @qitmr bisa membuat kolam pembenihan lele terluas sejagat, sehingga kita bisa swasembada hoax lele.

Eh, tapi informasi tidak penting dan kabar burung juga bermanfaat, kan? Biar kita pandai memilah dan memilih, atau setidaknya agar hidup nggak serius-serius amat.

Layaknya mood menulis yang kadang naik turun seperti harga garam, Twitter pun begitu. Media sosial yang berdiri saat saya SMP, eh SMA ini tahu betul bagaimana rasanya berada di puncak dan bagaimana rasanya jatuh ke lembah.

Saya sendiri resmi membuat akun Twitter dan mulai aktif menggunakannya sejak 2011. Dan, nyatanya, segala informasi tidak penting bak celotehan burung untuk urusan pencitraan sering saya bagikan. Cuma wor-woran seperti yang diabadikan oleh akun @InfoTwitwor saja tidak.

Sejak perkenalan dengannya, siapa sangka Twitter menjadi media sosial yang masih saya gunakan sampai sekarang. Berbeda dengan Facebook atau Path yang tak terurus lebih dari empat tahun, atau Instagram yang gitu-gitu aja.

Ada yang bilang, Twitter menawarkan kenyamanan dan kecocokan yang berimbas pada kesetiaan. Ehm.. Tapi, kalau menurut saya, Twitter bisa jadi representasi pribadi setiap orang selayaknya manusia, yang kadang suka bohong atau mengabarkan hal-hal yang nggak penting.

Sementara menunjukkan kegalauan, cari perhatian, sampai kesan bijak cenderung riya dengan mengutip kalimat-kalimat yang makjleb dari orang-orang tersohor menjadi fungsi lain dari Twitter.

Bahkan dewasa ini, hanya dengan ngetweet – entah galau, caper, atau pencitraan – orang bisa mereguk popularitas, meski kicauannya itu nggak penting. Bayangkan, dengan berkicau yang bahkan nggak penting itu, orang bisa terkenal alias menjadi selebtwit. Belum lagi potensi penghasilan.

Nikmat selebtwit mana lagi yang sanggup kau dustakan?

Seperti dikatakan Arman Dhani dalam pengantar bukunya berjudul “Dari Twitwar ke Twitwar” bahwa untuk menjadi selebtwit sebenarnya mudah, cukup banyak-banyak berkomentar tentang satu topik terhangat.

Anda tak perlu akurat apalagi masuk akal, asal omongan anda sensasional. Bahkan, tak perlu berpikir untuk melakukan itu. Asyik kan?

Jika waktu bisa berjalan mundur, dan orang tua atau guru saya bertanya tentang apa cita-citaku kelak, maka saya akan menjawab, “Mau jadi selebtwit!”

Salah satu topik yang sering dibahas oleh selebtwit dan tentunya saya suka adalah sepak bola. Tapi, apa benar ada mitos bahwa selebtwit ‘dilarang’ menyentuh bahasan sepak bola lokal? Ya kalau nggak Liga Inggris, berarti Spanyol. Kalau bukan Manchester United atau Liverpool, berarti Real Madrid atau Barcelona.

Saat Liverpool menang atas Manchester United atau sebaliknya, akun-akun Twitter dari para pendukung kedua kesebelasan mulai bersiap ‘menyerang’ dan ‘bertahan’. Tak terkecuali para selebtwit.

Iyalah, selebtwit selalu hadir di topik-topik yang sedang hangat di luar sana. Walaupun mungkin sebenarnya mereka nggak suka-suka amat sama sepak bola, apalagi Liverpool atau Manchester United, yang penting eksistensi. Tak perlu berpikir berat soal itu.

Lalu, bagaimana dengan sepak bola lokal? Apakah butuh pemikiran yang berat, sehingga harus dihindari? Siapa yang bilang?

Setelah pertandingan yang disebut-sebut sebagai El Clasico ala Indonesia antara Persib Bandung vs Persija Jakarta yang berakhir dengan skor 1-1 itu, para selebtwit buktinya ikut meramaikan linimasa.

Seperti diberi panggung, mereka tampak bersemangat layaknya Bobotoh atau Jak Mania. Begitu juga dengan sejumlah media online yang membagikan tautan berita terkini dengan judul-judul yang seksi.

Namun, apa yang terjadi? Beberapa media yang saya follow disemprot Bobotoh, karena menampilkan judul atau isi berita yang kurang sesuai. Ada pula selebtwit yang sudah verified terkena teguran Bobotoh karena dinilai ngecengin Persib.

Ini bisa jadi bukti sahih, kalau selebtwit sebaiknya ‘tak perlu’ bersinggungan dengan sepak bola lokal, karena bisa bikin atmosfer semakin panas. Cukup bicara soal MU atau Liverpool saja, eh bonus Arsenal deh.

Sang selebtwit akhirnya meminta maaf. Melalui tweet, ia bilang, “Semoga kesalahan-kesalahan saya ini yang telah bilang norak dan ngecengin Persib tidak ditiru oleh netizen lain. Salam damai untuk Bobotoh.”

Selebtwit tersebut akhirnya mendapatkan nasihat dari seorang temannya agar tak usah ngecengin klub bola lokal seperti dia ngecengin klub bola di luar sana. Suasana panas nggak hanya terjadi di lapangan, Twitter juga bisa menjadi ‘lapangan’ yang sama panasnya seperti di dalam lapangan sesungguhnya.

Di Indonesia sendiri sudah menjadi hal yang tidak aneh saat kita melihat linimasa yang berisi twitwar antara fans sepak bola, termasuk fans klub luar negeri ataupun klub lokal.

Tak hanya seorang, saya yakin banyak selebtwit lain yang pernah bersinggungan dengan klub bola lokal, lalu sadar dan akhirnya memilih menghindar dan mencari panggung lain.

Duh, maaf, tulisan ini kok nggak penting seperti celotehan burung saja. Apa jangan-jangan saya sudah cocok jadi selebtwit?

  • iputu dirga

    twitter memeang beda ma facebook..
    jangan smpai slah menggunakan teknologi

  • Panji Saputro

    Tapi twitter makin ke sini jadi kurang seru nih min.