Nikmat Istri Solehah Mana Lagi yang Kau Dustakan?

Nikmat Istri Solehah Mana Lagi yang Kau Dustakan?

santabanta.com

Sebagai perempuan lajang menjelang usia 22 yang terintegrasi dalam norma masyarakat, sebenarnya secara hasrati saya merasa diuntungkan dengan idealitas relasi suami-isteri yang patriarkis.

Saya membayangkan kelak sebagai istri dari suami yang mapan dalam hal produksi kapital. Saya cukup memiliki kewajiban memijitinya setiap malam. Setiap hari pastinya hanya sibuk belanja di mal, berdemonstrasi aneka resep masakan, membaca tabloid-tabloid hijab fesyen dan melancong dari halaqah ke halaqah.

Pada waktu tertentu, saya akan mengenakan busana syar’i dan macak dengan kosmetik merek impor berlabel halal agar terlihat memikat saat dipamerkan suami pada acara-acara bergengsi.

Ketika bayi unyu kami tumbuh menjadi balita, saya akan meriasnya dengan kerudung atau peci dan mengajaknya selfie. Termasuk merekam hafalan Al Fatihah-nya. Semua harus diabadikan di galeri Instagram demi menuntaskan hasrat berpamer keunyuan, kesalehan, dan kebugaran balita saya yang bebas vaksin palsu.

Ketika ia tumbuh, saya akan menunjukkan pada jama’ah Facebook perihal prestasi-prestasi tartil Qur’annya. Semua itu akan menujukkan bahwa saya adalah seorang ibu yang sukses.

Sementara anak-anak yatim dan terlantar sama sekali bukan beban dan tanggungjawab saya, karena dulunya nggak bernafas melalui plasenta saya. Mereka adalah tanggung jawab negara yang dipimpin oleh lelaki.

Jika ada pemimpin yang perempuan, itulah contoh perempuan yang nggak solehah, lantaran menelantarkan keluarga demi karir di wilayah publik. Nggak mulia banget. Begitu kan yang ada di batok kepalamu?

Alangkah nikmatnya, sebagai istri, saya nggak perlu berat-berat memikirkan kontribusi sosial di masyarakat. Nggak perlu tahu soal tingkat kemiskinan, korupsi, perdagangan anak, dan patologi-patologi sosial lainnya. Bahkan, nggak perlu tahu gerangan apa yang menyebabkan harga beras yang saya masak semakin mahal.

Selama suami saya mampu membelikan pembalut bebas klorin berlabel halal, saya nggak perlu risau dengan sosialisasi BPOM yang justru dijadikan peluang oleh pasar untuk menjual produk dengan harga jauh lebih mahal. Kan yang terkontaminasi klorin hanya mereka perempuan miskin saja. Memang ada yang peduli?

Dengan status istri, saya juga nggak dituntut untuk memahami struktur masyarakat dalam dimensi sosial, menganalisis siapa mustadh’afin (kaum tertindas), siapa mustakbirin (kaum penindas), dan bagaimana bentuk penindasan berlangsung sampai hari ini. Apalagi sampai harus memastikan distribusi kekayaan tersalurkan secara merata melalui pajak negara. Peduli apa kita pada indeks gini? Wong nggak masuk amalan solehah seorang istri.

Kewajiban seorang istri hanyalah memastikan distribusi uang bulanan tersalurkan secara sempurna untuk bayar listrik, belanja ke pasar, beli popok, jajan gincu, dan arisan PKK. Jadi, bekal ilmu selama kuliah yang terhimpun melalui ruang organisasi, lingkar diskusi, riset aksi, hingga demonstrasi, kelak hanya akan didedikasikan untuk sebuah institusi keluarga.

Ketimbang susah-susah memikirkan menuntut ilmu hingga ke negeri Tiongkok dan menjomblo lebih lama, lha mbok mending menuntut lamaran nikah ke saudagar Tionghoa, supaya terjamin hidupnya.

Untuk terampil dalam agenda domestik semisal mengasuh orok, menyiapkan sarapan, bersolek, dan mijitin suami kan nggak perlu kualifikasi sarjana dengan standar IPK minimal, apalagi sertifikat IELTS dengan band score minimal. Hanya butuh ketelatenan dan ketabahan saja. Dua hal yang jelas nggak masuk dalam rincian SKS mata kuliah, bukan?

Ketika kelak saya menjadi seorang istri, ibadah saya sebagai manusia otomatis cukup dinilai dari kepatuhan terhadap suami. Begitulah cerminan istri solehah menurut kita, bukan?

Kandas sudah semua penilaian manusia berdasarkan amal dan takwanya. Sebab, bagi seorang isteri solehah, firman Tuhan yang relevan hanyalah tafsir tekstual mengenai kewajiban istri terhadap suami. Tafsir-tafsir yang dianggap para feminis laknatullah itu misoginis.

Saya jadi teringat periwayatan dalam sebuah hadist. Konon, malaikat akan mengutuk istri-istri yang menolak kelon dengan suami hingga tiba waktu subuh. Saya jadi membayangkan percakapan saya dengan malaikat kelak. Kira-kira begini:

“Saudari Dewi, apa saja amalan kebaikanmu semasa hidup di dunia?”

Saya akan menjawab, “Saya mengerjakan ibadah kelon setiap malam, wahai malaikat.”

Niscaya, buku catatan amal kebaikan saya lolos verifikasi. Bayangkan, betapa mulianya amalan kelon ini, sampai harus diintervensi sama malaikat. Hanya dengan kelon, saya pun terhitung telah menebus dosa sosial. Aih… aih… Nikmat istri solehah mana lagi yang engkau dustakan?

Sementara suami saya, sebagai makhluk yang sejak lahir dibebani segala idealitas konstruksi pranata sosial kian mesakne. Selain menjamin kesejahteraan anggota keluarga mulai dari pendidikan anak hingga kosmetik impor istrinya, ia juga dituntut untuk menggagas kontribusi sosialnya. Kan para suami yang memiliki akses ke ranah publik. Mari kita mafhum saja, jika peran-peran yang semestinya menjadi lahan kontribusi sosial, semisal jabatan politik, menjadi sumber penghidupan.

Duh, mengetahui pandangan-pandangan mainstream – jika bukan malestream – mengenai bagaimana selayaknya istri solehah berperan dalam sebuah institusi keluarga telah membuat saya makin termotivasi untuk segera menamatkan masa lajang.

Apalagi pernikahan adalah satu-satunya media untuk mengonversi derajat perempuan macam saya, dari jomblo ke halal. Bukan begitu ya ukhti? Seperti yang ukhti selalu deskripsikan di uraian profil Twitter, “Jomblo sampai halal.” Maka, setelah menikah, kualitas saya dan minyak angin cap onta jadi se-level, sama-sama punya sertifikasi halal, sama-sama halal dikonsumsi.

Eh, tapi kok rasanya nggak adil ya meninjau kenikmatan isteri solehah yang saya imajinasikan di atas sebagai versi tunggal. Lha misal lakinya sesosok yang senantiasa hidup begitu zuhud? Yang ada istri solehah klenger ditimpa beban domestik. Sebab, si suami enggan nyewain buruh rumah tangga. Bisa modyar kamu dikoyak-koyak beban domestik…

  • yusuf hiali

    Mantap…istri sholehah idaman setiap laki”

  • anto

    Postingan nggak jelas. Antara ingin jadi istri yg sholehah tapi kepingin hidup bebas seperti kebebasan fantasi berpikirnya.

  • Riki Arman

    Pertemuan 2 sungai, satu dr hulunya ada limbah yg sungai satunya lagi dari pegunungan. Anda mungkin belum memahami apa yg anda tulis. Kemungkinan besar hanya separoh2 memahami agama dan ilmu dunia. Seperti 1 lahan yg dicangkul 2 orang. Anda pun bingung milih yg mana.. Giat2lah belajar.