Nikah dalam Sunyi, Tanpa Pesta dan Tawa

Nikah dalam Sunyi, Tanpa Pesta dan Tawa

Ilustrasi (Annie Spratt/unsplash.com)

Bagi sebagian orang, Februari adalah bulan yang indah, bulan penuh kasih sayang. Hari Valentine yang diperingati setiap 14 Februari turut menjadikan Februari sebagai bulan yang spesial.

Banyak kisah inspiratif yang tersembunyi di balik itu, dan Voxpop mencoba untuk mengangkat kisah tersebut setelah mendapat izin dari yang bersangkutan. Kisah nyata yang ditulis pertama kali di Facebook ini dialami dan ditulis sendiri oleh Chamdan Purwoko, seorang wartawan senior dan petinggi media massa ternama di Jakarta.

Ini cerita tentang seseorang yang mempertahankan cinta sejati. Tentang derai tawa yang berbalut duka dan linangan air mata. Tentang kegembiraan yang tak mungkin diungkapkan saat itu.

Kalau banyak orang bilang cerita cinta Dilan dan Milea itu keren, maaf… cerita ini lebih keren. 🙂

***

Hari ini, persis 20 tahun lalu adalah sebuah momen yang tak mungkin terlupakan.  Bukan karena Hari Valentine yang indah. Sama sekali bukan! Juga bukan karena terdapat peristiwa sakral.

14 Februari menjadi momen penting dalam hidup karena tanggal ini tertera di buku nikahku. Tapi, tanggal itu sesungguhnya tidak menandai peristiwa pernikahan, karena aku tidak menikah di tanggal itu.

Buku nikahku bertanggal 14 Februari 1998, padahal pernikahanku tidak berlangsung di hari itu, tetapi beberapa hari sebelum tanggal tersebut.

Itulah mengapa, bagiku 14 Februari hanyalah sebuah pengingat saja. Yaa.. pengingat tentang saat di mana aku berada di tengah pusaran rasa bahagia yang bercampur aduk dengan kesedihan. Tentang derai tawa yang berbalut duka dan linangan air mata. Tentang kegembiraan yang tak mungkin diungkapkan saat itu.

***

Sekitar seminggu sebelum orang-orang merayakan Valentine’s Day ’98, aku sedang menonton TV di kos, yang letaknya di belakang Wisma Bisnis Indonesia. Kantorku itu berada di Slipi sebelum pindah ke Jl. KH Mas Mansyur 12A Jakpus, hingga sekarang.

Malam itu, jarum pendek jam dinding menunjuk angka 10, ketika ponsel Motorola-ku tiba-riba berdering.

Kriiiiiiiing…. kriiiiing !!!

Lumayan kaget karena volumenya memang di-setting maksimal. Lebih kaget lagi ketika di layar terlihat nomor telpon yang diawali angka 0271, kode wilayah Solo. Di ujung telpon terdengar suara pria menyapa.

“Apa kabar Dik Ipung.” (Ini nama panggilanku)

Rupanya dia adalah Om-nya Nia, cewek yang kupacari. Nia adalah adik kelasku di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS).

“Alhamdulillah baik-baik, Om,” jawabku.

Tanpa bak-bik-buk… kalimat selanjutnya berupa pertanyaan, “Apakah Dik Ipung masih (pacaran) sama Nia.”

Kujawab, “Inggih. Masih Om.”

“Masih sayang Nia?”

Lagi-lagi gak ada pilihan jawaban lain selain, “Inggih, Om.”

“Kalo begitu, apakah Dik Ipung siap menikah dengan Nia besok pagi jam 10.00 di Solo?”

Whaaaak!!! Badalaaaah…!!!

Sumpah kaget dan bingung. Seketika otakku jadi macet-cet. Gak bisa mikir. Lidah seperti bertulang. Kaku!!

Beberapa detik mulut ini melongo.

Belum sempat aku bertanya kenapa begitu mendadak, beliau menjelaskan bahwa Papanya Nia sedang dalam kondisi sakit keras dan kritis di RS Dr. Muwardi, Solo.  Katanya, Papanya ingin menikahkan sendiri anak sulungnya, Nia, jika aku bersedia menikahinya besok pagi.

Otakku serasa makin kisut. Makin gak bisa diajak mikir. Tak tahu aku harus menjawab apa. Tapi, entah kenapa mulutku secara ‘otomom’ menjawab, “Inggih, Om. Saya siap menikah besok.”

Selanjutnya, telpon pun ditutup, “Kami tunggu besok pagi di RS Muwardi,” katanya singkat.

Sekarang tinggalah aku yang kebingungan sendiri dengan jawabanku tadi. Sambil mendekap Motorola-ku, yang tebalnya mirip batu bata, aku masih belum sepenuhnya percaya dengan percakapan di telpon tadi. Mirip mimpi.

Tak terbayang gimana cara ngomong ke orangtuaku: minta izin nikah. Nikah dadakan pula. Terus gimana caranya cari tiket pesawat di tengah malam begini. Saat itu pastinya gak ada aplikasi booking tiket pesawat online 🙂 . Kostum untuk nikah? Jelas gak punya.

Di tengah kebingungan, dari lantai 2 datang Kang Asep Mulyana, teman kosku yang juga teman satu kantor. Dia wartawan bidang perhubungan. Melihat Kang Asep datang, seketika itu pecahlah tangisku. Mewek sejadi-jadinya. Sebenernya aku benci mengakui ini 🙂 .

Asep pun memeluk aku sambil mencoba menenangkan dan bertanya, “Ada apa.” (drama Korea bangetlah)

Setelah mendengar ceritaku, Asep pun memintaku istirahat saja, sedangkan urusan tiket dia yang bereskan. Maklum wartawan Perhubungan (Hatur nuhun Kang Asep).

Meski aku sedikit lega, tapi tetep saja tak bisa tidur. Masih belum menemukan cara bagaimana meminta izin bapakku utk nikah besok pagi. Tapi, makin larut malam makin terkumpul keberanian utk nelpon bapak, di Kebumen.

Kabeh terserah kowe. Kan kowe sing nglakoni. Bapak manut. Yen kowe siap nikah, ngesuk isuk mruput bapak mangkat nang Solo numpak bus. Pokoke Bismillah bae, Pung,” kata bapak setelah kujelaskan semuanya via telpon.

Bapak menyikapi situasi ini dengan begitu kalem, santai, dan tenang. Sama sekali tak terlihat ekspresi kaget. Bapak juga gak banyak tanya, dan menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku.

Rupanya bapak bersikap seperti itu agar aku juga tenang, sehingga dapat bertanggung jawab secara sadar atas keputusan yang sudah terlanjur kuambil tadi. Padahal, sebenarnya Bapak sama bingungnya denganku. (sungkem dan bersimpuh hormat dari anakmu ini)

***

Esok harinya, mataku bener-bener ngantuk. Semalaman nyaris gak bisa tidur. Gelisah tanpa henti. Meski begitu, aku harus buru-buru ke Bandara Soetta. Gak lucu kalau sampe ketinggalan pesawat.

Dengan tas ransel satu-satunya yang biasa dipakai liputan, kubawa beberapa potong baju, seperlunya saja. Niatnya cuma nginep satu malam, terus balik Jakarta. Maklum karyawan baru. Gak berani lama-lama off.

Sekitar pukul 09.00, aku landing di Bandara Adi Soemarmo, Solo.

Saat nyari taksi, baru tersadar aku gak bawa baju yang layak. Yang kubawa cuma baju kerja biasa dan kaos tidur. Maka, kubeli satu baju batik lengan panjang di bandara. Lalu kupakai di taksi dalam perjalanan menuju RS Muwardi. Kuingat harganya Rp 75 ribu.

Aku tiba di RS sebelum pukul 10.00. Di kamar perawatan kulihat Papanya Nia tergolek lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Begitu banyak kabel di sekujur badannya yang begitu kurus didera sakit.

Bapakku ternyata sudah datang. Beliau duduk di dekat pintu masuk kamar. Seluruh keluarga Nia juga sudah berkumpul. Penghulu dan petugas KUA terlihat sibuk menata meja kursi.

Satu per satu kusalami mereka. Tapi setelah itu aku bingung mau ngapain. Tak tahu juga apa yang harus kuobrolin. Hati dag-dig-dug. Bibir kelu. Pikiran buntu. Oo..My God!!

Suasana begitu hening dan sunyi. Hanya sesekali ada percakapan pendek. Mungkin takut mengganggu Papanya Nia. Tak lama berselang, Pak Penghulu menghampiriku dan bertanya pelan.

“Apa sudah disiapkan maharnya?”

“Ya ampun.. lupa!!” kataku dalam hati.

Aku pun lantas berbisik minta pendapat Bapakku. “Pripun Pak. Kulo mboten mbeto mahar.”

“Wis gampang. Nganggo duite bapak bae,” kata Bapakku sambil menyodorkan uang Rp 20.000.

“Rongpuluh ewu bae ya, Pung. Iki duit sisane kanggo ongkos Bapak mulih Kebumen.”

Segera setelah itu, prosesi pernikahan pun dilangsungkan. Dengan kata-kata yang terbata-bata, Papanya Nia menikahkan sendiri putrinya.

Dokpri

Alhamdulillah…

Semua berjalan lancar dan hikmat.

Ada rasa bahagia. Ada rasa syukur. Ada rasa gembira.

Tapi, saat itu atmosfir kesedihan lebih terasa. Tak mungkin meluapkan rasa gembira di tengah suasana prihatin atas kondisi Bapak mertua.

***

Setelah prosesi pernikahan usai, entah bagaimana, Bapak mertua yang tadinya begitu lemah, perlahan-lahan terlihat membaik dan bisa senyum. Wajah tak lagi tampak pucat. Bahkan, sesekali tertawa dan mengajak bercanda.

Tak lama kemudian, Pak Penghulu bersama staf KUA pun pamit pulang. Sambil melangkah keluar, Pak Penghulu bilang, “Buku nikahnya nyusul seminggu lagi yaa..”

Lha!! 🙁 …

Melihat kondisi kesehatannya membaik, satu per satu anggota keluarga pulang.  Sekitar jam 15.00, aku dan Nia juga pulang ke rumah, di Palur.

***

Sekitar pukul 17.00, tiba-tiba telepon rumah berdering. Begitu diangkat ternyata dari RS. Di ujung telpon, terdengar suara suster dengan nada agak panik. Dia menginfokan kondisi bapak mertuaku mendadak drop dan meminta keluarga segera berkumpul.

Tanpa berlama-lama, aku dan Nia langsung menuju RS. Ngebut!!

Tiba di sana, seluruh keluarga ternyata sudah berkumpul. Mereka sedang khusu’ berdoa dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Air menetes deras dari setiap mata, mengiringi isak tangis dan kesedihan yang begitu dalam.

Dari menit ke menit, kondisi kesehatan Bapak mertua semakin mencemaskan. Terus melemah dan semakin drop.

Sekitar pukul 19.00, Bapak mertua benar-benar terbujur diam. Napas berhenti. Innalillahi wa innailaihi roji’un…

Allah SWT telah memanggilnya pulang. Bapak mertuaku telah kembali ke Rahmatullah. Dia berpulang dengan begitu tenang. Raut wajahnya terlihat lebih cerah. Tak lagi menahan sakit yang menderanya cukup lama. Kulihat ada senyum kecil di bibirnya.

Insha Allah, ini menandakan beliau berada di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah…

***

Dokpri

Hari itu, aku datang menyatu sebagai anggota baru dalam kehidupan dan keluarga besar istriku. Namun, di hari yang sama, kami kehilangan satu anggota keluarga yang sangat kami cintai.

Itulah kenapa, 14 Februari adalah sebuah pengingat. Yang mengingatkanku bahwa selalu ada yang datang manakala ada yang pergi atau diambil.

Kausalitas ini membuatku tak perlu takut akan kehilangan apapun karena Allah pasti akan menghadirkan penggantinya, asalkan kita ikhlas.

***

Dengan kepulangan Bapak mertua, tentu aku gak jadi pulang ke Jakarta. Beberapa hari setelahnya, Ibu mertua memanggilku. Ibu menyampaikan keinginannya untuk mengadakan walimahan atau perayaan pernikahan secara sederhana.

Hanya mengundang beberapa kerabat dekat dan tetangga saja. Tujuannya, untuk mengabarkan bahwa kami sudah menikah. Itu saja.

Dan, di hari yang sudah ditentukan, aku dan Nia menjadi “raja sehari”. Dengan kostum Jawa, pesta sangat sederhana yang berlangsung di rumah itu, cukup menandai bahwa lembar baru kehidupan kami telah dimulai. Merajut kebersamaan dalam setiap detiknya.

Hanya doa yang selalu dipanjatkan agar kami mampu membentuk keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Juga berdoa, agar Allah SWT selalu memberikan kekuatan dan kemampuan untuk mendidik dan membekali putra-putri kami – yang tak lain adalah titipan-Nya – agar mereka menjadi orang baik dan senantiasa bermanfaat bagi banyak orang.

Aamin yaa robbal’alamin.

2 KOMENTAR

  1. Kisah yg sangat luar biasa dan memberi inspirasi bagi ku … menjadi pengingat … masih ada kewajiban yg belum kupenuhi …

TINGGALKAN PESAN