Ketika Saya Dianggap sebagai Perempuan yang Menikah Siri

Ketika Saya Dianggap sebagai Perempuan yang Menikah Siri

Ilustrasi (Gerd Altmann/pixabay.com)

Taksi terakhir yang saya tumpangi di Jakarta adalah taksi hijau yang biasa mangkal di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Pusat. Hal pertama yang ditanya pengemudi taksi saat itu, selain sudah berapa lama saya tinggal di apartemen tersebut, adalah apakah saya berasal dari Sukabumi?

Saya jawab bahwa saya tidak tinggal di sana, hanya menginap sebentar di sebuah unit milik teman. Saya juga menjelaskan bahwa saya tidak tinggal di Jakarta dan bukan orang Sukabumi.

Namun, dia terus mendesak. Katanya, saya adalah tipikal perempuan Sukabumi yang kerap dinikah siri oleh laki-laki Arab yang banyak tinggal di apartemen tersebut. Menurut dia lagi, perempuan-perempuan itu bukanlah perempuan “baik-baik”.

Ini adalah contoh objektifikasi, penghakiman, dan stereotip.

Ada 20 negara yang termasuk dalam negara-negara Arab, dengan hampir 400 juta penduduk dan ada lebih dari dua juta penduduk Sukabumi. Laki-laki Arab mana dan perempuan Sukabumi mana yang dia maksud? Tentu saja pernyataan semacam itu adalah bentuk rasisme dan tidak bisa diterima.

Menjadi perempuan Sukabumi ataupun laki-laki Arab tidaklah salah. Menjadi perempuan Sukabumi yang menikah dengan laki-laki Arab, atau sebaliknya juga tidak salah. Menjadi perempuan Sukabumi atau laki-laki Arab dan tinggal di apartemen tersebut juga tidak salah.

Jadi, perempuan Sukabumi yang menikah siri dengan laki-laki Arab juga tidak salah, meski menikah siri bukanlah pilihan ideal dan membuka peluang eksploitasi perempuan. Namun, hal ini jelas bukan alasan untuk menghakimi pilihan seseorang.

Ada banyak narasi di balik sebuah keputusan, dan tak ada yang berhak merasa superior terhadap orang lain cuma lantaran sebuah keputusan. Apalagi sampai bawa-bawa suku dan etnis segala. Meski saya bukan berasal dari Sukabumi, kesal betul mendengar tuduhan-tuduhan rasis tersebut.

Satu-satunya yang salah adalah rasisme dan kebiasaan merasa paling suci dan lebih benar dari orang lain. Kebiasaan menjadi “Tuhan” dan merasa paling suci inilah yang sering kali menjadi pembenar tindakan-tindakan main hakim, merisak, dan mempersekusi.

Hal lain yang sangat mengganggu adalah pengkotak-kotakan dan penghakiman sebagai perempuan yang bukan “baik-baik”. Frase itu digunakan untuk menghina entitas fisik dan moral perempuan.

Penggunaan frase itu berusaha merendahkan penampilan, kepribadian, dan karakter moral perempuan, mereferensikan perempuan pada keburukan dan ketidakpantasan. Hal ini juga menegaskan asumsi-asumsi represif yang menuntut agar perempuan menjadi entitas yang menyenangkan pandangan laki-laki dan penurut.

Misalnya, perempuan yang berani menyatakan pendapat yang tidak populer akan distigma. Perempuan yang belum berada di rumah lewat Maghrib akan disebut nakal. Perempuan yang menggunakan rok mini juga akan dianggap tidak baik-baik.

Hal ini tidak ada habis-habisnya sampai perempuan, kecantikannya, bentuk tubuhnya, dan pakaiannya disalahkan juga ketika diperkosa.

Sedihnya, objektifikasi seksual dan penghakiman semacam ini sangat dinormalisasi oleh masyarakat patriarki di Indonesia. Perempuan hanya dilihat sebagai tubuh untuk memenuhi hasrat laki-laki dan menaati norma yang dibentuk oleh laki-laki.

Perempuan cuma dilihat sebagai sepasang payudara dan bokong untuk dinilai-nilai. Harus berpakaian begini dan begitu, harus berada di tempat tertentu pada jam tertentu, dan melakukan kegiatan tertentu saja.

Semakin pelik karena kepercayaan ini pun didukung oleh media, terutama iklan. Sekitar 50% iklan di media menampilkan tubuh perempuan sebagai objek seks. Sementara 75% isi dari majalah pria adalah mengobjektifikasi perempuan.

Apalagi, membiarkan objektifikasi terhadap tubuh perempuan baik di media maupun di masyarakat, semakin membuat pelik kasus pemerkosaan. Ketika perempuan terus menerus ditampilkan sebagai objek seks, maka masyarakat akan melihat hal tersebut dengan permakluman, bahkan menginternalisasi dan menormalkan perilaku tersebut.

Sebab itu, kekerasan seksual terhadap perempuan sering kali tidak dianggap serius, sehingga pelaku pun mudah terlepas dari jerat hukum.

Kembali kepada si bapak pengemudi, belum habis pikir saya pada pertanyaan-pertanyaannya, dia sudah bertanya lagi, “Kalau nggak tinggal di Jakarta, di mana tinggalnya? Pasti di Sukabumi yah?”

Keukeuh betul dia rupanya. Saya pun mulai kesal dan ingin keluar dari taksi, tapi saya tak punya cukup rupiah dan kami jauh dari tempat penukaran uang. Maka, saya hanya menjawab singkat, “Di Amerika, Pak.”

Lalu si pengemudi serta merta menjawab, “Wah, nggak mungkin, terlalu sederhana pakaiannya untuk orang yang pernah ke Amerika.” Saat itu, saya mengenakan kaos oblong dan celana training panjang.

Saya belum selesai kaget atas jawaban tersebut, bapak pengemudi kembali merasa berhak menilai-nilai. Katanya, “Pasti ikut suami kan ke Amerika? Suaminya orang Amerika? Nggak mungkin mbaknya ke Amerika sendirian, atau karena mbaknya TKI yah?”

Pola pikir semacam ini hanya melihat perempuan berdasarkan pemuasan tatapan laki-laki (male gazing). Perempuan belum dianggap sesuai dengan “nilai-nilai” masyarakat, kalau belum dapat memuaskan tatapan laki-laki melalui cara berpakaian yang sesuai dengan standar laki-laki.

Perempuan yang tidak berpakaian sesuai dengan standar tatapan laki-laki harus siap-siap dicap kurang mumpuni dan hanya menjadi variabel sampingan sebagai objek milik laki-laki.

Singkatnya, si pengemudi dan banyak manusia lain, seringkali melihat perempuan sebagai objek yang siklus hidupnya hanya berpusat pada pemuasan hasrat seksual laki-laki. Hidup perempuan dianggap seputar urusan disukai dan tidak disukai laki-laki.

Perempuan dianggap tidak mungkin mengambil keputusan sendiri dan tidak mampu memiliki kehidupan sendiri tanpa didukung oleh laki-laki. Perempuan dianggap tidak berharga tanpa memenuhi pemuasan kebutuhan seks laki-laki.

Di dalam taksi hijau, saya merasa dicurangi oleh masyarakat dan sistem sosial. Masyarakat macam apa yang melanggengkan tindakan, sikap, dan pikiran yang merasa paling suci dan menjadi “Tuhan” sehingga bisa dengan santainya menghina manusia lain sebegitu dalamnya?

Saya kira, sudah saatnya kita berhenti menuduh-nuduh dan melabeli orang lain berdasarkan penampilan, jenis kelamin, dan kesukuannya.

Kita tidak tahu apa-apa soal latar belakang dan perjalanan hidup seseorang. Orang yang sedang kamu gunjingkan bisa jadi yang lebih dulu masuk surga, saat kamu masih dipertanyakan kecukupan amal baiknya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN