Nggak Pernah Hidup Susah, Tapi Kepepet Menjelang Nikah
CATATAN SI NENG

Nggak Pernah Hidup Susah, Tapi Kepepet Menjelang Nikah

dralexandrasolomon.com

Hujan mendadak deras. Kami terjebak, tak bisa pergi jalan-jalan. Apa boleh buat? Hanya bisa menunggu reda sambil nonton TV. Tak ada berita yang menarik selain AA Gatot dan dildo merah mudanya. Ibu kemudian menghidangkan bakso tahu, lalu meninggalkan kami di ruang tamu.

“Bulan depan kita nikah. Nggak terasa ya, Bang? Berbulan-bulan Neng menyiapkannya. Dari tempat resepsi sampai ranjang pelaminan yang mahaluhur. Semua Neng pilih sendiri.” (Baca juga: Maap Bang, Neng Udah Nggak Perawan)

Abang tergelak sedikit. “Udah beres dibayar semuanya, kan?”

“Cuma satu yang belum lunas kok. Katering,” jawab Neng dengan santai.

“Tapi ATM abang tinggal sejuta, Neng! Sisanya dari mana?”

Neng tiba-tiba memeluk abang dari samping. Lalu mencium pipinya dengan lembut. “Abang sayang, masa Neng cuma pesen lima macam lauk prasmanan tanpa stand tambahan? Minimal harus ada sate kambing, bakso tahu, mie kocok, batagor, dan rujak lah. Nanti Neng dikira nggak becus ngurus nama baik abang.”

Abang melongo.

“Duh… Abang ganteng banget deh kalau abis potong rambut.” Jemari Neng mulai menari-nari di rambutnya yang cepak.

“Tenang aja, Bang. Kita ini katanya bangsa ekonomi kreatif. Udah terbukti kemampuan bertahannya sangat tinggi, walau dengan segala keterbatasan. Eh salah, justru karena keterbatasannya itu. Istilahnya kepepet is the mother of invention.”

“Halah, kamu tahu apa soal kepepet, Neng? Dari kecil kamu itu nggak pernah hidup susah.”

“Woohh… Ya tahu lah. Kalau semua jalan menuju Roma buntu, gimana Bang? Nggak akan nemu jalan lain, kalau nggak kepepet. Jadi kepepet itu juga jalan suci menuju Roma, asal bener,” seru Neng menimpali.

Dulu, waktu rokok masih kemahalan buat rakyat jelata, ada profesi ajaib. Namanya tukang puntung rokok. Mereka mulungin puntung rokok di jalanan, sisa tembakaunya dikumpulin, dijemur, dilinting lagi. Terus dijual.

Sekarang rokok udah termasuk murah dibanding gaji setara UMR. Profesi tukang puntung rokok otomatis punah. Mereka jadi kelaparan? Nggak lah! Banting stir jadi tukang rongsokan. Entah kalau rokok tetiba naik jadi Rp 50.000 per bungkus.

Nah, tukang rongsokan juga termasuk industri kreatif. Nggak ada di Eropa dan Amerika. Di Indonesia, nggak usah khawatir nggak bisa makan, kalau nggak sekolah. Koran bekas dihargai Rp 2.500/kg, terus gelas plastik bening Rp 3.000/kg.

Bukan cuma itu. Sudah dengar variasi barang rongsokan? Ada kaleng Rp 1.100/kg, seng Rp 500/kg, paralon Rp 900/kg, karpet plastik Rp 800/kg, sandal Rp 700/kg, bahkan minyak jelanta Rp 4.000/kg!

Yang paling luar biasa ajaib itu barang rongsokan semacam monitor computer @Rp 25.000, CPU @Rp 20.000, mainboard @Rp 15.000, HP mati total Rp 50.000/kg, dan aki mati Rp 10.000 kg. Ada aja yang beli buat dikanibal. Warbiyasak!

Di Eropa tuh yah, kita bisa syok lihat sampah yang dibuang orang. Mulai dari mebel, elektronik, sampai alat musik. Nggak akan ada di Indonesia. Kalau di sini, semua bisa jadi duit.

“Emang Neng udah pernah ke mana aja waktu kecil?” celetuk abang tampak sinis.

“Belum pernah kemana-mana sih, Bang. Kalau kepepet nggak ada duit tapi pengen lihat dunia, ya cari cara yang kreatif lah. Baca buku, misalnya. Itu pun yang gratisan. Makanya jangan dibubarin perpustakaan jalanannya, Bang!

Mendengar itu, si abang langsung menyubit paha Neng yang mulus kayak personel SNSD. Ya jelas merah merona jadinya. “Abaannggg! Sakit, tahu! Ugh…”

“Kan udah dibilang, abang harus nurut atasan. Kalau nggak nurut, abang desersi dong!”

Tapi tampaknya ada raut penyesalan di wajahnya. Lalu ia menyibak sedikit rok si Neng. Diusap-usapnya bekas cubitan tadi sambil senyam-senyum. “Sakit ya, Neng?”

“Ih, dasar! Yang beginian, baru deh kreatif modusnya. Giliran perpustakaan jalanan cuma bisa alasan: disangka geng motor. Halah, basi!”

Abang tertawa terbahak-bahak. “Habis abang harus gimana, Neng? Tahu sendiri, atasan abang galak gitu, nggak bisa dibantah.”

“Ah, Abaaanngg… Galak itu luarnya doang. Aslinya di rumah, banyak jenderal yang SUSIS. SUami Sieun IStri. Tuh yang dua malah pernah jadi presiden.”

Ssstt… kalian bisa jaga rahasia? Perempuan pintar kayak kita harus tahu cara narik ulur calon suami atau suami yang gizinya habis untuk otot, nggak banyak sisa buat otak. Kita harus tahu, kapan harus bicara dan berdebat, kapan harus diam dan merayu.

Neng kemudian duduk lebih rapat. Mengusap-usap perut si abang yang kotak-kotak. Abang pun tersenyum. Neng balas tersenyum. Jemari Neng lalu naik ke atas… Dan, berbisik mesra, “Neng kemarin beli sofa harganya hemat. Cuma Rp 15 juta.”

Abang melotot. “15 juta hemat apanyaaaa?”

“Ssshhh… Itu hemat dong. Sofa kayu jati bisa buat seumur hidup. Kalau udah gepeng, tinggal ganti busa dan kainnya. Lagipula, kita perlu sofa jati supaya kuat dipakai untuk… Ehm… Bukan begitu, abang sayang?” tutur Neng merayu sambil membelai pipi abang.

“Santai lah, Bang. Seperti Neng bilang tadi, kepepet is the mother of invention. Makin banyak batasan, kita makin kreatif,” lanjut Neng.

Neng kemudian mencoba memberi contoh lainnya. Aturan larangan dari pemda, misalnya. Larangan menjual bir di supermarket justru menjadi celah bisnis tersendiri. Di Bandung, tak lama larangan itu berlaku, langsung bermunculan beer house.

Di Jakarta, aturan jalur 3 in 1 yang tadinya untuk mengatasi kemacetan, berubah jadi tempat cari nafkah ibu-ibu rumah tangga sebagai joki. Habis aturan 3 in 1, terbit plat ganjil genap. Usaha joki 3 in 1 punah, tapi pengrajin plat nomer bakal booming. Makin mirip plat ori, makin mahal.

Neng lalu sengaja merendahkan nada suaranya. Si abang terpaksa harus mendekati wajah Neng agar bisa mendengar jelas. Kesempatan.

“Abang, yang paling mencengangkan adalah bisnis wisata bencana. Apa kafe yang jadi TKP pembunuhan wanita cantik lewat kopi bersianida itu lantas tutup? Nggak tuh, malah jadi lebih laku! Banyak yang sengaja pesen kopi Vietnam-nya, terus selfie,” ucap Neng.

Belum lagi sempat ada pedagang yang jualan ‘Kopi Jessica’. Gambar depannya si mbak cantik, dengan pose culas. Ya, meskipun udah dihentikan karena laku keras, eh maksudnya karena nggak ada izin Badan POM. Tapi itu bukti kuat bahwa rakyat kita kreatif banget lihat celah bisnis.

Di lokasi lumpur Sidoarjo, hidup sejumlah tukang VCD yang menjual dokumentasi bencana. Ada warung dan tukang ojek yang sigap mengantarkan turis keliling lokasi. Nggak ketinggalan, disiapkan parkiran lengkap dengan penagih “tiket” di depan.

“Maksud Neng cerita-cerita ginian, nyuruh abang nyari tambahan duit dengan jadi preman?”

Neng langsung melingkarkan kedua tangannya di leher si abang. “Nggak lah, Bang! Masa Neng sarjana S2, masa suaminya preman sih?”

Kaki semampai Neng mulai naik ke pangkuannya. “Kalau nyambi-nyambi jadi petugas keamanan atau bodyguard paruh waktu, boleh dah. Kliennya yang lebih elit, Bang. Perusahaan properti atau perkebunan lah.”

“Gimana sih, kan dulu abang jatuh cinta sama Neng, karena Neng orangnya sederhana dan pro-rakyat.”

“Sederhana itu kan sehari-hari, abang sayang…. Kali ini darurat khusus. Buat resepsi kita. Lagipula pro-rakyat itu rakyat yang mana dulu?”

Neng lalu berbisik mesra di telinganya, “Udah jangan terlalu banyak mikir.”

Hmmm… Wajah si abang semakin memerah, matanya mulai sayu. Ini saatnya!

“Sayaaangg… minggu depan lunasin kateringnya, ya. Tinggal 50 juta lagi. Itu diskon 30% lho! Neng hebat kan? Owner-nya temen SMA. Tenang aja, besok-besok masih banyak ide kreatif dari kepepet is the mother of invention itu.”

Tapi kok nggak ada jawaban dari si abang. Tangannya malah menjalar ke perut Neng. “Sabar, Banggg… Nanti ada waktunya. Makanya lunasin dulu kateringnya. Abis resepsi terserah dah ah.”

“Siap laksanakan, Neng!” tegas si abang, sambil melakukan gerakan hormat dan senyum-senyum penuh hasrat arti.