Dianggap Udah Nggak Perawan, Ini 5 Jawabannya

Dianggap Udah Nggak Perawan, Ini 5 Jawabannya

Ilustrasi (Photo by Greg Raines on Unsplash)

Oke, mungkin topik ini bisa dibilang keseringan dibahas, berhubung masyarakat patriarki masih saja terobsesi dengan keperawanan perempuan. Ditandai dengan adanya selaput dara yang masih utuh, katanya sih, itu bagian dari ‘kesucian’ seorang perempuan sebelum menikah.

Kalau robek ‘sebelum waktunya’… hiii, apa kata dunia? Yang ada dihakimi sejuta umat, meski penyebabnya belum tentu sama.

Untunglah, sekarang udah makin banyak sarana informasi kesehatan yang mumpuni, seharusnya mata kita lebih terbuka. Saya juga ingin menambahkan sedikit pengalaman pribadi yang bisa menjadi jawaban kalau kamu dianggap udah nggak perawan lagi oleh orang-orang sotoy di luar sana.

Ini dia, 5 jawabannya:

1. Kenalan seorang dokter pernah menemukan kasus selaput dara yang terlalu tebal hingga bikin sakit saat menstruasi

Ini saya nggak mengada-ada, lho. Kalau nggak percaya, bisa saya ajak sumbernya langsung untuk klarifikasi. Jadi begini, pernah ada seorang perempuan yang selalu menderita nyeri saat menstruasi. Menstruasinya pun nggak lancar dan ternyata gara-gara selaput dara yang terlalu tebal.

Solusinya? Ya, mau nggak mau terpaksa harus agak dikoyak. Jadi, bukan karena si perempuan harus ikut tes keperawanan untuk masuk akademi atau instansi, yang menurut saya sama sekali nggak relevan dengan kemampuan mereka bekerja di lapangan. Entah di mana logika si pembuat aturan konyol itu?

2. Robeknya bisa karena macam-macam, bahkan ada yang lahir tanpa selaput dara

Kalau pun memang karena sudah pernah berhubungan seksual di masa lampau – entah dalam status menikah atau bukan –, apa urusan kita? Mengapa kita meributkan hal yang sudah nggak bisa diubah? Konyol, kan?

Kalau ternyata dulu mereka menjadi korban pemerkosaan, rasanya kok kejam ya, bikin mereka trauma lagi dengan tanya-tanya penyebab robeknya selaput dara mereka? Bayangin deh, kalau itu saudari, putri, atau sahabat perempuan sendiri. Sudi nggak, mereka digituin?

Ada juga yang robek karena berolahraga, seperti naik sepeda. Bahkan, ada juga yang lahir tanpa selaput dara. Kalau situ mau tanya-tanya soal ini, saya tanya balik deh, “Apa gunanya?”

3. Pakaian perempuan dan interaksi mereka dengan lawan jenis bukan jaminan keperawananmereka

“Ihh, bajunya kebuka-buka gitu. Pasti dia mau pamer-pamer karena ‘gatel’, pengen gituan lagi. Pasti udah pernah, deh.”

Aduhh… ini lagi. Padahal bisa aja lho, ada perempuan yang pakaiannya tertutup, namun diam-diam aktif secara seksual. Punya teman laki-laki banyak juga bukan berarti mau tidur sama mereka semua, kan?

Nah, yang dua terakhir di bawah ini merupakan pengalaman pribadi saya.

4. Sering disangka udah married dan punya anak

Oke, mungkin maksudnya mau basa-basi ala orang Indonesia, kenal nggak kenal. Mungkin juga karena muka saya udah nggak bisa dibilang kayak remaja lagi. Ngapain juga in denial? Belum lagi tongkrongan saya yang termasuk gemuk.

Yang bikin kesel? Kalau pulang malam-malam, pasti ojek online atau supir taksi suka ada yang nanya begini:

“Suaminya ke mana, Mbak? Nggak jemput?”

“Anaknya udah berapa, Bu?”

Idiiih, sotoy banget, dah. Dari mana mereka tahu, padahal baru lihat saya sekali? Kadang saya suka males dan akhirnya bohong. Kadang saya blak-blakan dan nanya, “Situ dari mana bisa tahu saya udah nikah ama punya anak?” Dan biasanya, mereka langsung gelagapan, mungkin karena nggak nyangka ternyata saya galak.

5. Pernah dikira lagi hamil

Nah, ini lagi yang bikin saya nyengir bego aja. Mungkin karena gemuk dan suka pake atasan longgar plus pernah keringetan karena pas lagi nggak enak badan, beberapa kali saya pernah ditawarin duduk di bus dan kereta. (Tumben banget. Biasanya pada egois.)

“Ibu, Ibu lagi hamil, kan? Duduk ya, Bu?”

Sebenernya bisa sih, waktu itu saya manfaatin salah duga mereka. Cuma, kasihan mereka yang hamil beneran namun nggak kelihatan gara-gara kurus, hingga nggak dikasih duduk. Jadi, saya cuma jawab begini: “Ahahaha, enggak apa-apa. Cuma gemuk aja, kok.”

Oke, terlepas dari anggapan kalian soal kaitan keperawanan seorang perempuan dengan moralnya, saya mau nanya balik lagi: Bukannya masih jauh lebih brengsek laki-laki yang tukang main perempuan, lalu kabur gitu aja kayak pengecut pas mereka hamil?

Atau, jangan-jangan kalian masih menganggap laki-laki macam itu jagoan dan memaklumi dengan alasan basi: “Yah, namanya juga laki-laki.”

Yahh… capek, deh. Percuma juga saya nulis panjang lebar gini, kalau masih pada nggak mau belajar juga. Ya, belajar menghargai perempuan dari kepribadian dan kontribusi positifnya di masyarakat, bukan dari masih punya selaput dara apa udah enggak.

Lain kali jangan sotoy ya soal keperawanan perempuan. Sarana informasi sekarang juga udah banyak banget, kok. Tinggal baca-baca dan pilah-pilih biar nggak gampang ketipu sama hoax. Udah 2018, nih. Belajar berpikir kritislah.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN