Pesan Politis Qatar Melalui Neymar

Pesan Politis Qatar Melalui Neymar

Ilustrasi (diss.ltd)

Saya menggandrungi olahraga sepak bola, baik sebagai pemain maupun sebagai penonton. Saat turun ke lapangan hijau dan mengisi posisi penyerang, tak ada yang lebih menyenangkan selain melewati kepungan bek lawan dengan olah bola saya yang ciamik.

Kemudian menikmati raut gentar kiper lawan yang bersikap seperti terpidana mati menunggu eksekusi, untuk kemudian menendang bola sekencang-kencangnya ke arah yang saya niatkan sejak awal. Yaitu rumah penduduk.

Ada kepuasan total bila salah satu pemain lawan, entah kiper atau bek, menggigil oleh dampratan sang empunya rumah tempat bola tadi nyelonong masuk. Biasanya itu didahului oleh suara benda pecah atau raungan mengaduh.

Sebagai penonton, harus saya akui bahwa siaran langsung terakhir yang saya tonton adalah laga final Piala Eropa antara Spanyol melawan Italia lima tahun lalu. Sehari setelah laga tersebut, didesak oleh pikiran lugu bahwa televisi adalah biang segala kejahatan, saya melego satu-satunya televisi yang saya miliki.

Meskipun kini tak selugu itu, tetap saja hingga hari ini saya tak memiliki televisi. Untunglah perkembangan teknologi membikin semua hal menjadi mudah.

Dari layar ponsel, saya bisa mengikuti berita aktual dari dunia sepak bola, yang meliputi hasil akhir laga tim favorit, pergerakan klasemen, hingga berita dari bursa transfer pemain. Yang terakhir itulah yang paling seru.

Tak hanya siapa yang pindah ke mana, atau seberapa mahal seorang pemain harus ditebus, bursa transfer juga menyadarkan bahwa sepak bola tak sekadar urusan berlari dan menendang. Ada motif lain di belakangnya, yang relasinya kadang terlalu renggang.

Mega transfer Neymar, misalnya.

Bila musim lalu ‘Setan Merah’ bikin gempar publik saat menggelontorkan 105 juta euro untuk seorang pemain yang lebih piawai melakukan sesuatu dengan rambutnya ketimbang dengan kakinya, kegemparan semasif apa yang mampu diciptakan oleh Paris Saint Germain saat menebus Neymar dengan mahar 222 juta euro?

“(Transfer Neymar) Itu melampaui kalkulasi dan rasionalitas,” ujar Arsene Wenger, pelatih Arsenal yang sedang sibuk mempertahankan pemain-pemain kuncinya dari rayuan klub lain.

“Uang sejumlah itu cukup untuk membangun 19 jalan layang simpang susun Semanggi, mendanai Rio Haryanto hingga ia bosan balapan, membeli 400 juta mangkok bakso Malang; dan dihabiskan hanya untuk seorang pemain? Gila!” komentar pelatih klub sepak bola amatir Cepu United, Darwanto, yang saban pagi ngopi bersama saya.

Terlepas dari pencapaian Neymar selama ini, pembelian bintang Brasil itu memang sensasional. Qatar Sports Investments (QSI) adalah biang keladinya.

Organisasi yang bisa disepadankan dengan KONI itu, meski berbeda nasib pada jumlah angka di buku rekeningnya, adalah pemilik Paris Saint Germain yang terkenal getol belanja jor-joran. Namun, apakah prestasi semata yang menjadi tujuan QSI?

Melalui diskusi sana-sini dengan pelbagai pengamat sepak bola, ditambah dengan beberapa malam berkontemplasi dengan khusyuk, saya sodorkan beberapa indikasi adanya motif lain di balik mega transfer Neymar.

Neymar da Silva Santos Junior

1. Sebagai tamparan terhadap negara-negara Timur Tengah

Awal Juni 2017, Arab Saudi dan enam negara Timteng memutus hubungan diplomatik dengan Qatar, yang kemudian disusul dengan pemutusan hubungan perdagangan dan hal-hal lain yang mengindikasikan bahwa Qatar sedang dikucilkan habis-habisan.

Alasan resmi pengucilan tersebut adalah karena Qatar diduga mendukung gerakan terorisme di wilayah Timteng, meski tentu saja ada begitu banyak alasan tak resmi yang patut diperhitungkan. Kecemburuan sosial-ekonomi antar tetangga, misalnya.

Kondisi Qatar pun sempat gonjang-ganjing. Salah satunya, suplai bahan makanan yang selama ini dipasok oleh Arab Saudi terputus. Penduduk menyerbu pusat perbelanjaan untuk memborong bahan makanan sebelum krisis pangan benar-benar terjadi – mereka tampaknya mengerti bahwa uang, sebanyak apa pun, tak bisa dimakan.

Krisis pangan akhirnya tak terjadi. Pemerintah Qatar cukup pintar untuk mengetahui bahwa ada banyak negara lain yang sudi menjual bahan pangannya. Apalagi kepada negara sekaya Qatar.

Setelah urusan perut tertangani, apakah Qatar dan ketujuh negara yang memusuhinya sudi berunding untuk berekonsiliasi? Tampaknya tidak.

Alih-alih menuruti kemauan Arab Saudi cs, yang dianggap sebagai penghinaan kedaulatan oleh Emir Qatar, negara terkaya di dunia ini melakukan sesuatu yang membikin situasi makin panas: memborong 36 pesawat tempur F-15 dari Amerika Serikat senilai Rp 159, 4 triliun!

Jumlah uang untuk membeli F-15 tersebut membuat mahar Rp 3,5 triliun untuk memboyong Neymar tampak amat remeh. Meskipun begitu, keduanya menyiratkan hal yang sama: aksi pengucilan tadi tak berdampak apa pun terhadap Qatar.

Mega transfer Neymar menjadi tamparan keras bagi Uni Emirat Arab, salah satu negara pemboikot Qatar yang juga ikut bersaing di kancah sepak bola. Rivalitas keduanya di lima liga top Eropa menjadikan iklim sepak bola benua biru bercitarasa gurun pasir.

UEA membajak Manchester City, Qatar membeli PSG. Etihad Airways berhasil membeli hak pakai nama stadion, Qatar Airways berhasil mengubah tradisi Barcelona yang selama ini enggan mencantumkan sponsor pada jersey.

Fly Emirates, salah satu maskapai asal UEA, kemudian nongol di jersey PSG, Qatar Airways malah menampar balik dengan membajak jersey wasit FIFA.

Dan seolah itu belum cukup untuk membikin malu UEA, Neymar pun didatangkan oleh Qatar dengan besaran dana yang akan menjadi bahan pergunjingan hingga bertahun-tahun kemudian. Saat Qatar dikucilkan pula.

2. Penyelenggaraan Piala Dunia

Dua dekade lalu, sebagian orang tahu bahwa Qatar adalah salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia, sementara sebagian orang yang lain bahkan tak yakin apakah Qatar benar-benar nama sebuah negara.

Kini, Qatar tak lagi sekadar nama negara; ia adalah brand yang menyiratkan kekayaan, kekuatan, dominasi, dan seabrek konotasi positif lain yang bisa anda temukan sendiri di dalam kamus. Tampaknya tinggal menunggu waktu hingga ada netizen yang menamai anaknya Qatar.

Minyak dan gas bumi memang menjadi faktor kesuksesan finansial Qatar, meski saat ini sektor tersebut hanya menyumbang 30% dari pendapatan negara. Sisanya 70% justru dari sektor konstruksi, pariwisata, dan olahraga. Sektor itulah yang kini memoles citra Qatar di mata dunia.

Maka tak heran bila Qatar berambisi besar menjadi tuan rumah Piala Dunia, yang akhirnya bakal kesampaian pada tahun 2022. Delapan stadion baru dibangun. Infrastruktur dibenahi.

Milyaran dolar dihabiskan untuk menjadi tuan rumah yang baik, atau tepatnya, dengan standar tinggi Qatar, menjadi tuan rumah yang mengundang decak kagum hingga dajjal datang kelak.

Namun, kontroversi pun meruyak. Setelah dituding menyuap FIFA untuk menjadi tuan rumah, Qatar kembali disorot setelah Amnesti Internasional menyatakan bahwa Qatar memperlakukan pekerja konstruksi sarana Piala Dunia, yang semuanya buruh migran, secara tidak manusiawi, bahkan kejam.

Sebanyak 1.200 pekerja dari pelbagai negara diklaim tewas, sementara ribuan lainnya mendapat upah dan akomodasi yang tak layak. Qatar telah menyanggah tudingan tersebut dan menyebutnya mengada-ada. Tak satupun pekerja konstruksi yang tewas sebagaimana ramai diberitakan, terang pihak Qatar.

Masalahnya, citra baik telah tercoreng. Jika tidak didempul ulang, tak hanya sektor ekonomi yang terancam, melainkan juga – dan terutama – brand Qatar yang telah susah payah dibangun. Maka, dengan cara apa nama baik bisa dikembalikan? Atau, bagaimana menghentikan desas-desus tak sedap perihal Qatar?

Beli Neymar dengan harga selangit! Itulah jawabannya.

Meski saya tak yakin cara itu efektif untuk memperbaiki citra Qatar, setidaknya orang-orang berhenti mengoceh yang buruk-buruk tentangnya, dan mulai ribut mempergunjingkan seberapa dalam pundi uang Qatar yang sebenarnya dan sesinting apa ia menghamburkannya. Benar-benar cara yang tokcer.

3. Karena kepingin saja

Ini sudah jelas. Dengan kekuatan finansial sehebat Qatar, urusan apa pun yang melibatkan uang tampak amat remeh. Andaikata bulan dibanderoli, saya yakin Qatar sanggup membelinya.

Jadi, untuk urusan Neymar, ya karena kepingin saja… 🙂

  • Adam Maulidi Kurnia

    Dibeli mahal banget, cuma saya lebih suka neymar di barca

  • Ami

    tinggi amat orang politis nya yaa

  • Wawan Agusti

    Gila bener transfer neymar. Tapi barca juga gila karena melepaskan pemain sekelas neymar.

  • isfanFH

    PSG emang berani bener beli pemaen